“Kapan nikah?”
Satu pertanyaan yang selalu terasa beda bagi para pemuda yang sedang dalam penantian akan separuh jiwanya. Ada yang dag-dig-dug, cuma mesam-mesem, ada juga yang kontan langsung galau. Halah lebay. Tapi kenyataannya gitu lho, coba aja yang masih single dan dalam masa-masa itu, jujur deh. Apalagi denger kalimat “Bila Hati Rindu Menikah”.. saya dan teman-teman dulu sih malah cekikikan kalo pembahasannya udah mulai ‘nyerempet’ kata nikah. Kocak pisan.
Siapa sih yang nggak pernah menikmati indahnya penantian itu? Lho iya, menurut saya indah. Oleh karena itu nikmatilah, momen sekali seumur hidup itu. Masa-masa ta’aruf, kemudian nazhor, jika cocok lantas dilanjutkan dengan khitbah (meminang) kemudian walimah. Ah, so sweet. Namun proses tiap orang berbeda, ada yang mulus bebas hambatan seperti jalan tol, ada juga yang berliku-liku dan penuh perjuangan. Seorang teman saya tertawa ketika saya bilang ta’aruf itu trial and error process. Walau kemudian ia akhirnya mengiyakan. Hihi.
Ada yang sekali proses langsung mantap dan yakin bahwa seseorang itu adalah jodohnya. Begitu ketemu, lihat, istikhoroh kemudian sama-sama cocok. Alhamdulillah, rezekinya memang seperti itu. Namun ada juga yang prosesnya rumit dan memakan waktu. Entah karena terlalu pemilih atau memang banyak ditolak. Yang terakhir memang agak bikin down ya, walau semuanya hanya takdir yang telah Allah gariskan untuk kita. Tapi saya justru memandang proses yang penuh liku itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Lho kok?
Ya, karena saya juga bukan termasuk yang prosesnya seperti jalan tol tadi. Mungkin mirip rute Jakarta-Puncak saat weekend kali ya. Mendaki, berkelok, menurun, menikung tajam bahkan kadang berlaku juga sistem buka-tutup. Hehehe. Singkat cerita, saya butuh waktu yang tidak singkat untuk menambatkan hati pada sang belahan jiwa. Tsaaahh.
Saya menikah di usia 24 tahun lebih 16 hari. Honestly, I never dreamt to get married in my early youth. NEVER. Masih pengen hepi-hepi, masih pengen bebas, menikmati masa muda. Eittss, hepi-hepi dan bebas yang positif ya. Saya masih pengen menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Ilmu syar’i, ilmu tentang kerumahtanggaan, ilmu psikologi dalam pernikahan, ilmu mengurus anak, etc.
Cita-cita saya dulu ingin menikah di usia 21 tahun ke atas. Jadi ketika masih sweet and seventeen-an ada yang meminta, tegas-tegas saya bilang TIDAK. Maaf, saya belum mau dan siap untuk menikah. Kemudian dimulailah masa-masa pencarian itu. Proses demi proses terlalui, tapi… saya masih belum menemukan apa yang saya cari. Dan sebenarnya apa sih yang saya cari?
Kekayaan materi.. jelas bukan. Saya bukan tipe materialistis dalam masalah uang, insya Allah. Orangtua selalu mendidik saya bahwa uang bukan standar bahagia. Titel.. bukan juga, toh siapa sih saya ini? Mengenyam pendidikan di bangku kuliah saja tidak pernah. Ketampanan.. saya rasa juga bukan, karena bagi saya hal itu bukan syarat utama untuk menolak pinangan seorang laki-laki. Beda ya dengan kebanyakan laki-laki, yang mensyaratkan kecantikan lahir sebagai faktor yang tak bisa ditawar lagi. Well, boleh aja kok. Seperti laki-laki, wanita juga mencari yang menarik. Tapi mungkin khususon buat saya, ganteng itu nomer kesekian lho.
Lalu apa? Keshalihan, jelas syarat mutlak. Shalih bukan hanya rajin hadir ta’lim, celana ngatung atau berjenggot. Tapi shalih adalah keseluruhan dari ilmu dan amal. Satu paket. Dan tanda pengamalan itu adalah akhlak yang baik. Laki-laki shalih adalah laki-laki yang berakhlak baik. Jangan lupakan itu.
Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengannya, suami saya. Dialah jawaban dari semua penantian, do’a dan harapan. Bersamanya saya temukan chemistry dan kenyamanan. Akhlaknyalah yang sebenarnya membuat saya yakin bahwa dialah orangnya. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tatimush-shalihaat. I finally found you :)
Masa-masa pencarian dan penantian itu tidaklah menjemukan bagi saya. Ketika banyak diantara kawan-kawan yang mulai ‘ribut’ soal nikah, alih-alih ikutan galau, saya malah enjoy dengan kesendirian saya. Datang ke majelis-majelis ilmu, membekali diri dengan berbagai keterampilan, membangun relasi, dan mengembangkan hobi saya yaitu menjahit. Entahlah, saya cuma merasa bahwa, “kenapa sih kita nggak nunggu dan menikmatinya aja?”. Toh dinikmati atau tidak, tidak akan merubah apapun. Why don’t we just sit back, relax and cherish the moment we had? Why bother to screw what you have today for something uncertain? That I know someday, I will miss these all… These singleness moments.
Dalam masa-masa itu, ada juga hal-hal yang membuat saya merasa kurang nyaman. Walau kadang justru terasa lucu dan menggelikan. Contohnya pertanyaan, “kapan nikah?” atau vonis sinis, “orang itu, kalau terlalu pilah-pilih soal jodoh bisa-bisa nanti nggak dapet jodoh lho…”. Heh? Jadi saya ini di mata sebagian orang terlalu pemilih ya? Saya coba introspeksi dan menelaah diri, apa iya memang saya terlalu pemilih..? Tapi semua pertanyaan selalu saya jawab dengan sebuah jurus jitu, “santai aja, insya Allah kalau udah waktunya nikah pasti nikah kok, minta do’anya aja yaaa…” *pasang senyum tiga jari*
Kalau dipikir-pikir, ya, saya memang memilih, memilih yang terbaik sebelum saya menyesal telah memilih orang yang salah. Adapun trial dan error yang saya alami, menurut saya adalah ujian kesabaran saya atas kebenaran janji Allah. Seberapa kuat prinsip saya, bahwa kekufuan dalam agama adalah yang utama. Seberapa teguh keyakinan saya bahwa Allah menunda karena suatu alasan. Suatu alasan yang mungkin tidak saya ketahui mengapa, suatu rencana yang tidak saya ketahui apa. Entahlah, saya hanya percaya, penantian itu tidak sia-sia. It was worth to wait. Dan di penghujung penantian, Allah telah menepati janjinya. And yes, He had saved the best for last.
Ketika saya memutuskan untuk menikahi seseorang, saya harus yakin bahwa dialah orang yang paling saya inginkan untuk menghabiskan hidup bersama-sama. Membesarkan anak, melewati masa-masa sulit, membaca buku berdua, berbagi mimpi dan cita-cita. Dia haruslah orang yang paling saya inginkan untuk berada di sisi, ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Pilihlah dengan siapa kita akan berbagi momen-momen itu. Pilih hati-hati, dengan istikharah dan pertimbangan yang matang. Jangan karena khawatir nggak dapat jodoh, nggak enak omongan orang atau dikejar target menikah. Lalu asal saja, yang penting status berubah. Tidak, karena hidup kita selanjutnya, masa depan anak-anak kita kelak sangat tergantung dari pilihan yang akan kita buat.
Pilihlah hanya karena Allah. Choose for your love, then love your choice. Dan ketika pertanyaan “kapan nikah?” itu mampir lagi di telinga, jangan biarkan ia mengusik perasaan, melainkan jadikan ia cambuk untuk memperbaiki diri, lagi dan lagi. Karena Allah memasangkan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya. Keep positive-thinking and husnuzhon to Allah. Karena Dia adalah sebagaimana persangkaan hambaNya terhadapNya, right? :)
~ Just my another personal point of view, end of December 2011.. terinspirasi dari twit seorang kawan tadi pagi :p #nomention.
[image source: FlickR]
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wa jama’a bayna kuma fii khairin. (biar chyanatic berasa penganten baru lg)
ahahaha.. aamiin mbak, ini juga masih penganten baru kok.. baru mau lima tahun :P
sya “menyesal” menikah di usia 26…..mengapa tidak lebih muda lagi:D
salam persahabatan ya !
Alhamdulillah yang penting skrg sudah menikah kan? :) salam persahabatan..
im really with u on this session sistah ! keren mba, kayanya aku nemuin chemistry nih sama dirimu #wadau. chemistry dalam pemikiran maksyudnya… kapan2 kopdar yuuk.. pingin ngobrol :)
Alhamdulillah.. ternyata kita sehati ya ukh, hehehe.. Boleh, kapan ya, kalo ada kajian mungkin? Ukhti tinggal dimana? :)