Biarkan Mereka Menikmati Dunianya…

Menyimak  linimasa  Pak Jamil Azzaini  pagi ini dengan tagar  #SayangAnak, semakin memantapkan prinsip saya tentang ‘pentingkah menyekolahkan anak di usia dini?’. Di bawah ini saya kutipkan sebagian kultwit beliau:

  •  Banyak ortu memaksa anaknya yang masih TK sudah bisa baca, tulis & hitung padahal itu belum waktunya.
  •  Saya dan sekolah nego agar anak saya jangan terlalu banyak dikasih PR, sekolah setuju.
  •  Jangan siksa anakmu dengan jam sekolah yang panjang, PR dan les yang sangat padat.
  • Pendidikan itu hasilnya jangka panjang, jangan gampang panik, “waduh anakku koq gak bisa ya”..
  • Bentuk penyiksaan ortu kepada anak adalah “dibanding-bandingkan” dengan anak yang lain, ketahuilah itu jahat.
  • Tiap anak punya potensi yang beda-beda, ortu jangan sering membanding2kan anaknya dengan anak orang lain.
  • Buat apa masuk sekolah favorit kalau anak tersiksa, jiwa anakmu lebih penting daripada gengsimu.
  • Sekolah favorit bukan jaminan lulusannya akan menjadi pemimpin yang hebat dimasa yang akan datang.
  • Gajah tak bisa dipaksa terbang, anak pun punya potensi yang berbeda jangan paksa ia untuk “terbang”.

Ya, kalau dipikir… orang tua mana yang nggak ingin punya anak cerdas dan berprestasi? Dulu orang tua saya, terutama Ummi selalu menekankan pentingnya prestasi dalam kehidupan, terutama di sekolah. Saya masuk TK di usia kurang dari lima tahun, dan alhamdulillah sudah lancar membaca dan mengenal angka. Semua itu tak lepas dari bimbingan Ummi tercinta yang selalu sabar dan telaten mengajari.

Disini saya sadari, betapa pentingnya peran seorang ibu, terutama seorang full time mom seperti Ummi. Tak jarang beliau dengan kedisiplinannya (yang waktu itu saya menyebutnya dengan predikat: ibu galak) justru memacu saya untuk lebih meningkatkan kualitas diri. Saya merasa enjoy duduk di kelas, mengerjakan PR dan menghapal pelajaran. Pokoknya saya cinta belajar dan pergi ke sekolah. No pressure. Dan tentu saja, pelajaran waktu saya SD dulu jauuuhh berbeda dengan anak SD zaman sekarang.

Beberapa hari lalu waktu main ke rumah adik saya yang anaknya sudah bersekolah, iseng-iseng saya lihat lembar ulangan harian bahasa Inggrisnya. Dan cukup bikin saya melongo. “Ini nggak salah ri, ulangannya Zaid? Apa nggak terlalu susah buat ukuran anak kelas 1 SD?” celetuk saya. “Ya udah kurikulumnya gitu kata gurunya, emang beda banget sih dibandingin zaman kita dulu..” jawabnya.

Ya bayangin aja waktu kelas 1 SD saya cuma belajar i be u bu.. i-b-u.. ini ibu nana.. Dan nggak ada mata pelajaran bahasa Inggris waktu itu. Lha sekarang si Zaid udah belajar vocabulary dan conversation plus auxiliary verb walau konteksnya sederhana. Duh, kasihan banget ya anak SD zaman sekarang, pikir saya waktu itu. Belum lagi karena Zaid bersekolah di SDIT, ada tambahan matpel agama macam Qur’an Hadits, Fiqih, Aqidah, Bahasa Arab. Belum PR-nya yang juga ga kalah banyak. Duh, apa nggak stress ya anak sekecil itu dibebani pelajaran segitu banyak?? Just wondering.

Saya jadi teringat kisah pembunuhan seorang anak 11 tahun oleh kawannya sendiri di Jepang yang pernah dimuat oleh majalah TIME Asia sekitar tahun 1997 silam. Seorang siswa elementary school disana menculik kemudian membunuh adik kelasnya, lalu menaruh potongan tubuhnya (kalau nggak salah potongan kepalanya) di gerbang sekolah. Disertai sebuah surat yang menyatakan protes mengenai tekanan atas sistem pendidikan yang ia alami di sekolah. Ia merasa amat tertekan dengan beban pelajaran dan standar nilai yang diberikan. Dan itu bukan cuma satu kasus saja. Masih saya simpan rapi salinan artikel majalah itu di rumah.

Saya pribadi merasa tidak setuju dengan pressure berlebihan dalam proses belajar anak. Seperti halnya kita, anak juga bisa stress. Dan ketika beban pelajaran terasa begitu memberatkan bahkan jadi membosankan, belajarpun jadi tidak menyenangkan.

Namun begitu, tak bisa kita samakan anak satu dengan lainnya. Ada yang memang sudah suka dan jatuh cinta dengan belajar, bahkan sejak kecil, seperti saya dulu. Kemana-mana bawa buku dan pensil. Tapi ada juga yang memang masih senang bermain-main. Tak bijak rasanya bila kita menerapkan sistem pendidikan yang sama dan seragam pada tipe individu yang berbeda. Anak saya sendiri, Harits akhir-akhir ini sibuk minta sekolah seperti sepupu-sepupunya. Akhirnya saya coba kenalkan dengan lingkungan TK dan playgroup beberapa hari terakhir ini. Alhamdulillah responnya cukup positif.

Harits mulai mau masuk kelas, duduk menyimak Bu Guru walau tak ikutan menulis. Pernah tiba-tiba ia keluar kelas sambil bilang, “Mi, mau nulis buku a ba ta tsa.. “. “O abang mau nulis? Oke besok ummi bawain buku ya.. “. Saya tak ingin memaksa, biar saja belajar jadi keinginannya, walau kadang justru ia belajar sendiri di rumah dari poster huruf dan angka yang ditempel di ruang tamu. Dan nampaknya, ia sendiri yang punya keinginan besar untuk belajar, saya hanya mengarahkan saja.

Dan ketika suatu saat ia bosan pergi ke sekolah, in sya Allah pihak sekolah sudah mengizinkan untuk meliburkan diri sementara. Sampai mood untuk ke sekolah itu muncul lagi. Intinya, saya hanya ingin dia bersosialisasi dengan sebayanya, bermain sambil belajar, bukan sebaliknya. Karena memang dunia mereka, adalah dunia bermain.

Alangkah bijaknya nasehat Ustadz Abdul Hakim Abdat di VCD Menanti Buah Hati, yang kurang lebih redaksinya seperti ini:

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Bebaskanlah ia menikmatinya. Jangan bebani ia dengan padatnya pelajaran sebelum waktunya. Biarkan ia menikmati masa kanak-kanaknya yang tak pernah akan terulang. Karena kata bermain tidak akan sama artinya setelah ia dewasa kelak.

Terlepas dari tuntutan zaman dan tingginya standar kelulusan, apa yang ada dalam diri seorang anak kecil 7 tahun tak ada bedanya dengan saya 22 tahun yang lalu. Mereka tetap anak-anak yang ingin bebas bermain, berpetualang dan mencoba banyak hal. Seperti halnya kita dulu. Tidak seharusnya kita menuntut ekspektasi terlalu tinggi pada mereka. Merampas masa-masa bermain mereka. Bahkan mulai mengukur dan mengkotak-kotakkan mereka berdasarkan angka-angka. Karena sejatinya, anak kita adalah manusia, yang valuenya lebih dari sekedar nilai dan angka.

~ Meutya Halida,  bukan seorang praktisi pendidikan formil, hanya seorang ibu, pembelajar sekaligus guru bagi Ahmad Al Harits dan Aisyah Afra :)

[image source: Tumblr]

About these ads

One thought on “Biarkan Mereka Menikmati Dunianya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s