Hijab. Syar’i atau Stylish…?

jilbab syar'i itu..

“Maka segala sesuatu yang membawa wanita kepada perbuatan tabarruj, nampak (perhiasan) nya, dan tampil bedanya seorang wanita dari para wanita lain dalam hal mempercantik (diri), maka ini diharamkan bagi wanita.” (Majmu’atul as-ilatin Tahummul ‘Usratal-Muslimah, hal. 10)

Berhijab, adalah perintah Allah yang mutlak wajib diimani oleh setiap muslimah. Bagi setiap wanita yang mengikrarkan diri sebagai muslimah, maka tidak ada keraguan sedikitpun akan wajibnya menutup aurat dengan hijab. Berhijab adalah sebuah bentuk ketundukan, kepasrahan dan ketaatan kepada Allah. Karena Allah yang menciptakan kitalah.. yang menyuruh kita untuk berhijab.

Alhamdulillaah seiring perkembangan zaman, maka jilbab makin semarak dan populer di kalangan masyarakat. Zaman saya bersekolah dulu, masih sedikit yang berjilbab. Dan itupun kadang agak dipersulit. Baik bagi para pelajar dan pencari kerja, ruang gerak mereka tidaklah sebebas sekarang. Jilbab masih dipandang sesuatu yang asing, aneh, ekstrem bahkan kampungan.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 208)

Tapi, seiring dengan banyaknya wanita yang menutup rambutnya dengan jilbab, makin bergeser juga arti ke-syar’i-an sebuah jilbab. Jika dulu saya memandang jilbab panjang senior-senior saya di sekolah dengan penuh kekaguman, kini fenomena jilbab panjang dan lebar di sekolah, kampus dan jalan-jalan itu mulai sepi. Berganti dengan jilbab berbagai model dengan corak dan warna yang jauh dari kriteria syar’i.

Sungguh saya sedih melihatnya. Saya rindu akan sosok-sosok wanita berhijab lebar yang dahulu kala ibaratnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, amat jarang ditemukan. Yang dengan sempurnanya hijab itu mereka lebih dihargai dan dipandang dengan penuh penghormatan sebagai seorang muslimah. Yang mendekati mereka pun bukan sembarang orang. Ya, di mata saya kala itu.. nilai mereka sebagai seorang wanita begitu mahal dan berharga..

Pakaian longgar nan elegan yang dulu banyak dikenakan bahkan diperjuangkan dalam berbagai kegiatan di sekolah, kini berganti dengan pakaian yang katanya busana muslim tapi serba ketat dan  minimalis. Jilbab panjang mereka pangkas, makin pendek, serba lilit dan membentuk sanggul. Menggantinya dengan topi dibalut scarf, bahkan sampai lehernya juga kelihatan saking transparannya. Plus atasan atau blus lengan panjang ketat, dipadu dengan celana panjang yang juga tak kalah ketat. Tak lupa riasan wajah untuk mempercantik penampilan. Semua atas nama fashion. Semua dengan alasan keindahan.

Bahkan untuk lebih ‘memperkenalkan’  jilbab pada khalayak, dibuatlah berbagai kontes bertemakan hijab modern yang menawarkan konsep lebih cantik, tidak monoton dan penuh warna warni. Atau fashion show muslimah  yang kontestannya berlenggak lenggok di atas catwalk memperkenalkan trend terbaru hijab masa kini.. Di depan puluhan pasang mata, baik laki-laki maupun perempuan. Lagi-lagi mengatasnamakan da’wah kepada hijab, agar tak terkesan kumuh dan kampungan.

“Berjilbab tapi tetap cantik dan menarik”.  Itu slogan mereka.

Itukah hijab yang sesungguhnya? Padahal jika mereka paham, fungsi hijab itu menutupi keindahan, bukan malah menonjolkan. Karena keindahan itu.. adalah diri dan pesona wanita itu sendiri yang sejatinya wajib untuk ditutupi. Padahal, esensi hijab itu.. bukan hanya sekedar selembar kain penutup kepala dan kulit. Dalam hijab, ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi, yang kali ini saya tidak bermaksud membahasnya karena pernah saya tulis disini.

“Sisters.. Hijab is hijab. Fashion is fashion. And hijab is not fashion. There’s no relation between syar’i and stylish.”

Saudariku.. sesungguhnya hijab syar’i itu..

1. Sederhana, praktis dan mudah digunakan
Salah satu keuntungan dari mengenakan hijab syar’i adalah karena kemudahan dan kepraktisannya. Menyiapkan diri dengan satu stel jubah lengkap dengan jilbabnya paling lama 15 menit sudah selesai. Tidak makan waktu lama, tinggal pakai jubahnya, jangan lupa ciput atau dalaman untuk jilbab, langsung pasang jilbab dan tadaaa..!  Selesai. Simpel kan? Nggak mesti repot sama lusinan jarum pentul, tutorial yang super ribet atau bongkar sana sini plus berlama-lama mix and match di depan cermin.

Apalagi bagi ibu-ibu seperti saya yang urusannya kalau mau pergi nggak cuma ngurus diri sendiri. Ada urusan anak-anak dan suami yang juga mesti disiapkan. Nah kebayang kan riweuhnya kalau mesti pake jilbab yang juga super riweuh? :))

2. Bisa langsung dipakai shalat
Alhamdulillaah, betapa Allah bermaksud memudahkan muslimah dengan perintah berhijab. Dengan hijab yang memenuhi kriteria syari’at, maka kita tak perlu repot mencari mukena ketika tengah safar atau bepergian. Karena sesungguhnya, aurat wanita itu di dalam dan di luar shalat, adalah sama. Sama-sama harus menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dengan sepasang jubah longgar dan jilbab panjang plus kaus kaki, (yang tentunya suci dari najis ya..) kita sudah bisa melaksanakan shalat. Bandingkan dengan mereka yang tidak menutup aurat, atau menutup aurat tapi tidak sempurna. Jadi, tidak perlu lagi membawa mukena di tas atau antri mukena di masjid ketika akan shalat.

3. Murah dan terjangkau
Satu stel jubah dan jilbab model sederhana bila dibandingkan dengan jilbab gaul yang serba berpotongan semisal blus, rok dan segala aksesorisnya yang serba beragam tentu akan jauh berbeda harganya. Walau ada juga jubah dan jilbab yang harganya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Tapi rata-rata harga sepasang jubah dan jilbab syar’i di pasaran amatlah terjangkau. Apalagi kalau bisa bikin dan jahit sendiri, wah dobel deh keuntungannya. Bagi saya pribadi, hijab itu tidak harus yang mahal, kualitas impor atau yang serba ‘wah’ . Asal enak dipakai, nyaman dan yang paling penting… memenuhi fungsi busana yang syar’i :)

4. Sesuai dengan segala usia dan bentuk tubuh
Setiap kali saya menjumpai wanita yang berbusana syar’i, berapapun usia mereka, seperti apapun bentuk tubuh mereka.. rasanya selalu pantas-pantas saja dipandang mata. Baik yang masih muda belia bahkan yang sudah sepuh sekalipun, di mata saya mereka selalu terlihat pantas dan cocok menggunakannya. Pun begitu dengan jilbab dan jubah yang lebar.. mau gemuk atau kurus tetap saja tersembunyi dibalik kain yang menutup rapat tubuh mereka. Betapa Islam memuliakan wanita dengan tidak menjadikannya objek pemuas mata kaum pria. Memberikan mereka kebebasan untuk tidak hanya dinilai dari sekadar fisik.

Teringat peristiwa beberapa hari yang lalu ketika akan berangkat menuju Daurah Muslimah di Cijantung, saya yang waktu itu di atas motor berpapasan dengan seorang ibu lanjut usia yang mungkin sebaya dengan ibu saya. Beliau mengenakan busana yang sedang trend ala Hijabers  yang sungguh menurut saya agak memaksakan diri dengan usianya yang tak lagi muda. Benar-benar nggak cocok. Bukan hanya karena style seperti itu tidak syar’i, tapi juga karena tidak nyaman dipandang mata. Duh, kalau kenal dekat udah saya bilangin deh.. Hehe.

5. Up to date di segala zaman
Apapun zamannya, musimnya, tahunnya.. busana muslimah syar’i tak pernah berubah dari masa ke masa. Ia tak lekang oleh waktu. Jadi tak perlu kita menyesuaikan diri dengan perkembangan mode yang tak pernah ada habisnya, menganggarkan dana lebih untuk selalu tampil trendy dan up to date, menjadi budak fashion yang sejatinya merendahkan kedudukan mereka sebagai wanita yang bebas merdeka dari aturan manusia. Deep down inside, ask yourself.. be true to your heart. What is your purpose to dress, muslimah?  To serve and please Allah only, your creator.. Or to please human?

من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ثم ألهب فيه نارا

”Barang siapa mengenakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Jika kita selalu memikirkan dan terpengaruh pada pendapat orang kapan kita bisa tenang dan beristirahat? Kapan selesainya? Bukankah pendapat manusia itu hanya relatif semata? Tapi pandangan di mata Allah itu pasti, abadi dan merupakan standar kebenaran sejati.

6. Membantu lawan jenis untuk menundukkan pandangannya
Dengan berhijab syar’i yang tidak lagi menampakkan kecantikannya, maka seorang wanita telah membantu lawan jenisnya untuk menjaga pandangannya. Betapa tidak? Coba bayangkan, bagaimana jika seorang pria berpapasan dengan wanita yang berpakaian serba ‘ala qadarihi alias ala kadarnya? Atau wanita berjilbab yang berhias, baik dengan pakaiannnya atau riasan make up yang mencolok mata. Secara naluriah, ia akan memandang lekat pada wanita tersebut. Dan ini adalah fitrah manusia yang memang menyukai keindahan. Namun jika ia laki-laki bertaqwa, ia akan berusaha menundukkan dan menahan pandangannya.. atau lekas berpaling ke arah lain bila terlanjur melihatnya.

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i t dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)

Asal cinta dan ketertarikan bermula dari pandangan mata. Sebuah perbuatan zina tidaklah langsung dilakukan tanpa langkah-langkah awal yang kemudian menggiringnya menuju bentuk zina yang lebih besar. Ada banyak pintu menuju zina. Dan pandangan adalah salah satu diantaranya. Dengan menutup rapat peluang untuk itu, maka para wanita telah ikut andil dalam mencegah kemungkaran dan kemudharatan yang mungkin menimpa dirinya sendiri.

7. Mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala
Ketika seorang wanita muslimah mendengar ayat tentang hijab, lalu memutuskan berhijab, maka sesungguhnya ia telah melaksanakan satu ketaatan kepada Allah. Tapi cukupkah hanya sampai disitu? Jika keridhaan-Nya saja yang ia cari, maka ia akan berusaha menyempurnakan perintah-Nya.. Berhijab sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya, bukan apa yang dikehendaki manusia. Lillaahi Ta’ala. Dengan berhijab sesuai syari’at, maka seorang wanita telah berusaha membuat penciptanya ridha kepadanya.

Syaikh Nashiruddin al Albani  dalam bukunya yang amat terkenal yaitu  Jilbab Mar’atil Muslimah  halaman 131 berkata..

“Karena tujuan dari memakai jilbab adalah supaya tidak timbul fitnah, yang (demikian) ini hanya dapat terwujud dengan memakai jilbab yang longgar dan tidak ketat. Adapun jilbab (pakaian) yang ketat, meskipun menutupi kulit maka akan tetap membentuk postur tubuh wanita dan menggambarkannya pada pandangan mata laki-laki. Ini jelas akan menimbulkan kerusakan (fitnah) dan merupakan pemicunya. Oleh karena itu (seorang wanita) wajib (mengenakan) jilbab yang longgar.”

Saudariku.. sesungguhnya hijab syar’i itu mengangkat derajat kita, para wanita. Kita bukan barang dagangan yang bebas dipandang bahkan dipegang siapa saja. Wanita bagaikan mutiara cantik yang tersimpan baik di dalam cangkang, yang tidak sembarang tangan bisa mengambilnya. Dan kecantikan kita, bukanlah pada pakaian, riasan dan hiasan. Tapi kecantikan kita terletak pada keimanan, ketakwaan, akhlak dan rasa malu yang terpancar dari pakaian yang kita kenakan.

Saudariku.. Ketika banyak wanita sebelum mereka keluar rumah, melihat ke dalam cermin untuk memastikan tampil cantik dan menarik di mata lelaki.. seorang wanita shalihah melihat ke dalam cermin untuk sesuatu yang berbeda. Ia bercermin untuk memastikan ia berpakaian secara pantas menurut syari’at, memastikan bahwa Allah ridha terhadapnya, memastikan bahwa segala keindahan itu telah tertutup rapat. Maka ketika ia ia keluar dan berhijab sempurna, hanya untuk mencari ridha-Nya.. then she’s beautiful.  Dan itulah kecantikan yang sejati dan sesungguhnya..

Barakallaahu fiyk :)

majalah as sunnah - jilbab gaul dalam timbangan syariat..

~ Terinspirasi dari sebuah artikel dalam Majalah As Sunnah dengan mabhats Jilbab Gaul Dalam Timbangan Syari’at, No. 11/ Thn. XVI, Maret 2013

About these ads

66 thoughts on “Hijab. Syar’i atau Stylish…?

  1. Pingback: Telekung | Blog Kemaren Siang

  2. bagus sekali infonya ukh^^
    tpi afwan,mungkin mksd’a khimar(kerudung) bkn jilbab..?
    Yg ukhty ktkan jubah itulah yang namanya jilbab^_-

    thanks for ur tabligh and dakwah ukh:) barakallahu fiik.

    • Yang saya maksud adalah pakaian wanita secara keseluruhan ukht, yaitu Hijab..

      “Hijab wanita dengan pakaian terdiri dari jilbab dan khimar… maka definisi hijab dengan pakaian adalah seorang wanita menutupi seluruh badannya termasuk wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki, dan menutupi perhiasan yang dia usahakan dengan apa-apa yang mencegah laki-laki asing melihat sebagian dari perhiasan-perhiasan tersebut, dan hijab ini terdiri dari jilbab dan khimar.” (Hirasatul Fadhilah 29-30)

      Adapun penggunaan kata jilbab untuk khimar mengacu kepada makna kerudung atau penutup kepala secara umum, yang banyak dipahami oleh masyarakat kita. Wallahu Ta’ala A’lam :)

      Wafiyk barakallaah :)

  3. iya teh mksd sy pnggunaan kta jilbab untk krudung,,kn bnyk yg msh blm faham,mksd’a supya org2 itu bsa faham kalau antara jilbab dan krudung itu berbeda teh:),,hehe
    mklm sy msh awam(dhoif) jdi bnyk yg msh hrs sy fahami,termsk kbnykn muslimah awam lainnya diluar sna^_^
    jazakillah khoiron katsiron ukhty ku tercinta^_-

      • waiyyaki ukhty ku :)
        mudah2an Allah menjdikanmu dlm golongan wanita2 yg shalihah dan mulia yg akan msuk surga-Nya^^
        tlng posting motivasi2 yg membangun dn dgn bhasa yg mdh difahami buat remaja2 yg trjbk dlm sekulerisme agr terdorng untk mnrpkn islam scra kaffah yh ka^_-
        syukran,,,i love u coz allah ukh:)

  4. Pingback: Hijab Bidadari Syurga | hanyasementara

  5. Terima kasih artikelnya.
    Tulisanmu sungguh enak dibaca :)
    Berkah sekali tulisanmu mengingat aku yg tadinya searching2 dgan keyword “jilbab modis menarik” tapi terdampar di sini, dan ini semua makin menyadarkan aku, bahwa hijab yg syar’i dan benar adalah jilbab yang menutupi keindahan, bukan menonjolkan keindahan :’)

    Banyak di sekitarku, yg memakai jilbab, tapi pakaiannya luar biasa ketat, dan itu membuatku terpengaruh, seolah2 itu adalah fashion. Tetapi Alhamdulillah aku membaca tulisanmu, sehingga aku tersadar.
    Terima kasih, Barakallaahu fiyk :)

    Wassalam :)

    • Alhamdulillaah.. Segala puji hanya bagi Allah. Senang sekali tulisan saya ini banyak bermanfaat bagi yang membacanya. Semoga makin banyak yang menilik dan memperbaiki kembali niatnya, untuk apa dan siapa ia berhijab dan bagaimana berhijab yang benar dan syar’i itu..

      Semoga Allah menjaga kita dalam hidayah ini ya.. Wafiyk barakallaah, jazakillaah khayran for reading. Wa’alaykumussalaam :)

  6. Assalamualaikum, salam kenal umm.
    Umm, tolong share bagaimana akhwat yg bermanhaj sunnah bergaul dengan masyarakat umum, terutama tetangga.

    • Wa’alaykumussalam, salam kenal kembali.. Saling berkunjung dan memberi hantaran ke rumah tetangga, walau hanya semangkuk sup atau sepiring pisang goreng buatan sendiri, insya Allah akan mengeratkan hubungan kita dengan tetangga. Murah senyum, ramah dan tidak kaku.. Menanyakan kabar dan menawarkan bantuan ketika tetangga sedang repot.. Itu cara yang sering saya coba ukh, walau saya juga kadang keluar rumah seperlunya saja, tapi ketika keluar saya sering menyapa tetangga, dan berbincang dengannya walau hanya sebentar..

  7. Oh ya ukhti…saya mau nanya lagi.
    Saya belum pernah pakai jubah panjang sperti itu, dan saya masih pake sejenis blus atau busana muslim yg sepotong2, tp kadang saya juga pakaikan rok panjang dan saya usahakan untuk mengulurkan jilbab saya menutupi dada. Menurut ukhti, apakah itu sudah termasuk syar’i?
    Dan, saya juga masih memperhatikan matching atau tidaknya busana saya, soalnya saya kurang suka wrna hitam tok dan putih tok. Jadi, busana saya tetap berwarna meskipun tidak terlalu mencolok. Apakah itu trmasuk syar’i juga, gimana pndapat ukhti?
    Tetapi terkadang saya merasa kurang nyaman pake rok panjang (riwet soalnya), jadi terkadang saya pakai celana. Bolehkah?
    Maaf ukhti, saya banyak nanya.
    Terima kasih dan Wassalam :)

    • Afwan baru dibalas commentnya.. Busana muslimah syar’i setau saya nggak mesti terusan ukht, berpotongan asal longgar, panjang dan tentunya memenuhi syarat2 hijab yang memenuhi syari’at insya Allah apapun bentuknya (terusan seperti gamis atau berpotongan rok dan blus) tak masalah.. Adapun masalah warna, tidak ada larangan memakai warna selain hitam, asal tidak mencolok dan mengundang perhatian. Walaupun lebih disukai (mustahab) memakai yang berwarna gelap. Kalau celana, tidak diperbolehkan ukhty.. karena menyerupai pakaian laki-laki

      Wallahu A’lam. Lebih jelasnya sila baca buku bagus karya Syaikh Nashiruddin al Albani yang berjudul Jilbab Wanita Muslimah.. Insya Allah lebih lengkap dan jelas. Laa ba’sa ukhty, kita sama2 belajar.. Wa’alaykumussalaam :)

  8. Assalamu’alaikum teh,
    terimakasih tulisannya sudah mengingatkan kembali. Karena saya sebelumnya adalah muslimah trainer untuk hijab syar’i walau ada yang mengatakan untuk berhijab syar’i gak perlu trainer2an segala.Nah yang mau eka tanyakan adalah point ke 3 dan ke 4 teh. Apakah itu hanya opini dari penulis saja ya teh? Hehe maaf ya teh rada bawel ginih, soalnya menurut eka banyak sodara2 yang belum berhijab syar’i dan menyari referensi (mungkin) akan mampir kesini

    • Wa’alaykumussalaam Eka, salam kenal.. Betul, kebanyakan poin2 tsb merupakan opini saya pribadi.. yang memang sejak lama saya rasakan dan amati.. Sama-sama Eka, semoga bermanfaat :)

  9. Assalamu’alaikum umm,tulisan yang bagus,mudah2 an menginspirasi muslimah kepada siapa harus taat.Oh ya umm,ana juga 2 bulan ini sering ke masjid ppon…Alhamdulillah..

  10. artikel yang bagus sekali ukh…
    belakangan saya juga merindukan hal yang sama,,dlu dikampus saya begtu banyak perempuan2 berjilbab lebar sehingga terkadang yang melihatnya pun jadi tertarik untuk mengikuti jejak mereka…namun saat sekarang ini mereka malah dipandang aneh dan kuno..
    terima kasih udah berbagi ya ukh :-)

  11. Pingback: Hijab. Syar’i atau Stylish…? | ekoprima

  12. Reblogged this on ekoprima and commented:
    “Karena tujuan dari memakai jilbab adalah supaya tidak timbul fitnah, yang (demikian) ini hanya dapat terwujud dengan memakai jilbab yang longgar dan tidak ketat. Adapun jilbab (pakaian) yang ketat, meskipun menutupi kulit maka akan tetap membentuk postur tubuh wanita dan menggambarkannya pada pandangan mata laki-laki. Ini jelas akan menimbulkan kerusakan (fitnah) dan merupakan pemicunya. Oleh karena itu (seorang wanita) wajib (mengenakan) jilbab yang longgar.”

  13. assalamualaikum teh saya baru mulai mengenakan jilbab nih pas di kelas 2sma. jujur kalu masih sekolah agak susah untuk ngikutin tentang syar’i karena lingkungan yg masih memandang asing jilbab syar’i. menurut teteh bagaimana saya harus berhijab tp tetap mengikuti syar’i?

    • bismillaah.. alhamdulillah ukhti telah diberikan hidayah untuk menutup aurat dengan hijab syar’i.. semoga istiqamah. mungkin bisa dicoba dengan pelan-pelan, semampu kita, mulai dari kerudung panjang dan jubah lebar serta kaus kaki.. bertahap dalam perubahan, jangan terlalu frontal.. bersabar mengenalkan pada masyarakat sekitar tentang bagaimana berhijab yang benar dan syar’i.. semoga Allah memudahkan :)

  14. pendapat bodoh sok tahu lebih baik hijab itu mengikuti perkembangan zaman. orang ketinggalan zaman yg kayak gini

    • Adakah dalil/ayat/haditsnya kita harus mengikuti perkembangan zaman dalam berhijab? Bahkan jika modernitas itu menabrak batas-batas dan rambu-rambu syari’at dalam berhijab?

      “Biarlah kata orang hijabku ketinggalan zaman tapi kata Allah hijabku berlaku sepanjang zaman, jadi tidak ada kata ketinggalan.”

      Dan pandangan Allah jauh lebih penting dari pandangan manusia.

      • @ m. febri : menurut anda hijab seperti apa yg mengikuti zaman,,,apakah wanita yg berjilbab tapi tetap terlihat dadanya dan jilbab diringkas sedemikian rupa agar tetap terlihat style?

        hanya org bodoh lah yg tdk pernah mau belajar bagaimana cara berhijab yang benar sesuai syariat agama islam..?

        • ukh..meutya dan ibu jizam…untk komntar kayak @m.febri itu ga usah dtnggapi..sebab dia bicra bgtu krena dia bodoh dan tdk ttng urusan hijab,,,,semangt ya..anggap itu suara syathon dr kalangan manusia….

  15. subhanallah .. :)
    smoga Allah mempermudah perjalanan para pejuang jilbab ya kak .. :)
    aq jga ingin istiqomah dlm berhijab .. tapi keadaan blom mendukung kak .. tapi insya allah aq istiqomah .. hhehe .. :)

    • Nasehati dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Sunnah, berikan pemahaman bahwa berhijab juga seperti syari’at lainnya, yang butuh panduan dan aturan.. bukan menurut penafsiran masing-masing manusia.. Saya merekomendasikan sebuah buku yang sangat bagus tentang hijab, judulnya ‘Jilbab Wanita Muslimah’ oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani Rahimahullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s