Hari Sudah Senja…

senja...

Hari sudah senja.
Kelak ketika usiamu telah teramat senja, apakah yang paling engkau harap dari dirimu sendiri?

Hari sudah senja.
Adakah yang kita kerjakan hari ini jalan menuju kebahagiaan yang kita ingin raih di usia senja? Atau jalan untuk lupa?

Hari sudah senja.
Ketika engkau menapaki usia itu dengan kaki gemetaran..
Apakah yang paling engkau harap dari suamimu?

Continue reading

Ibu . . .

mother to daughter..

“Pertama kali kau menyapaku. Tanpa suara. Tetapi sangat asih. Dari diriku yang paling dalam. Disini. Ibu. Aku di sini.” (Rene Van DeCarr)

Menjadi Ibu.  Bagi jiwa perempuan penuh kasih adalah mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa. Ia mencahaya dalam jiwa. Seruak cita itu adalah fitrah terindah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan! Ibu! Mulia dengan tapak kaki juangnya. Sebab tak seorang pria pun termuliakan begitu tinggi. Demi Allah, tak seorang lelaki jua. Hanya Ibu.

Ibu!  Panggilan yang begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam di lubuk rasa setiap wanita. Ia menggeletarkan cinta. Ada imaji surgawi dan gairah hayat menggelora tiap kali kata tiga huruf itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil nan sambut kehadiran. Continue reading

Kepada Anak-Anak . . .

my beloved....

Anak-anak seperti kita sering lupa, bahwa kitapun akan menjadi orang tua.

Pada sebuah upacara pemakaman orang tua seorang teman, aku berpikir, berpikir, merenung. Hasilnya satu pemikiran seperti ini. Apalagi yang diharapkan oleh para orang tua ketika mati selain anak-anaknya.

Bahwa setiap harta tidak akan ada yang dibawanya mati, dibanggakan di alam kubur tentang banyaknya mobil mewah dan tempat tidurnya yang empuk. Atau tentang nominal tabungannya yang menyentuh angka 12 digit.
Continue reading

Pelajaran Dari Sebuah Pertanyaan

tabligh akbar ~ istiqlal

Ketika menghadiri tabligh akbar di masjid Istiqlal kemarin, di sesi tanya jawab saya dibuat haru oleh sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang cukup menyentuh.. Yang mungkin tidak hanya bagi saya, tapi juga seluruh ikhwah fillah yang hadir di tempat saat itu atau yang menyimak langsung lewat media lain.

Tentang seorang pendeta di pedalaman Kalimantan yang biidznillaah  memeluk Islam setelah membaca sebuah buku karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin al Badr  yang berjudul Sebab-Sebab Datangnya Kebahagiaan.  Yang Tabligh Akbarnya juga pernah diselenggarakan di Masjid Istiqlal beberapa waktu lalu.

Maa-syaa Allaah. Tak terasa saya seperti merinding sendiri. Apalagi suara di masjid yang menggaung saat itu menambah haru suasana.

Seseorang mendapat hidayah melalui perantaraan kita, melalui apa yang kita tulis, atas izin Allah. Bahkan meninggalkan millahnya yang penuh kesesatan demi memeluk agama yang haq ini. Apalagi yang lebih membahagiakan dari itu? Continue reading

Jangan Hanya Bangga Mengaku Islam

proud to be a muslim..

Jangan hanya bangga mengaku Islam..
Tapi tiada sedikitpun bias Islam dalam diri dan keseharianmu.
Perilaku, ucapan, penampilan, isi kepala.. jauh dari Islam yang sebenarnya.

Jangan hanya bangga mengaku Islam..
Tapi engkau malu menampakkan identitasmu sebagai seorang Muslim.
Malu dengan jenggotmu, celana cingkrangmu, jilbab lebar atau cadarmu.

Continue reading