Yang Tak Pernah Kembali Itu Adalah Waktu…

hello kitty bike

Siang ini ketika membaca sebuah postingan grup komunitas Homeschooling di Facebook, saya menemukan tulisan yang sangat menyentuh ini di kolom komentar. Reading that post, it feels like a slap right on my face. Jleb maksimal.

Ya, kadang-kadang.. Bahkan rasanya makin sering akhir-akhir ini.. Saya merindukan saat-saat berkutat dengan kain, jarum dan benang. Saya rindu duduk di depan mesin jahit kesayangan, ditemani suara lantunan kajian dari radio dan secangkir minuman kesukaan. Continue reading

Banyak Anak = Banyak Rezeki?

danbo and rain

“Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezeki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi & Ibnu Majah)

Banyak anak, banyak rezeki. Begitu kalimat yang sering saya dengar. Makin banyak jumlah anak artinya makin banyak juga rezeki yang datang dalam sebuah keluarga. Hmmm.. benarkah?

Seorang teman pernah bilang ketika saya iseng bertanya ia ingin punya anak berapa, “Pengennya sih udah segini aja, nggak usah nambah lagi. Bukan apa-apa, biaya hidup dan sekolah zaman sekarang kan nggak murah..”.

Ada juga yang terang-terangan menyanggah, “Banyak anak banyak rezeki? Ah, kuno. Itu sih slogannya orang zaman dulu, yang apa-apa masih murah. Lah sekarang, masukin anak ke sekolah aja bisa jutaan, belum biaya hidup yang serba mahal. Realistis aja deh, hari gini punya anak banyak itu nggak gampang..”
Continue reading

The Unconditional Love

parents love

Sejenak bertualang ke masa belasan tahun yang silam..

Dulu, sewaktu masih remaja, saya sering merasa bahwa orang tuaterutama Ummi terlalu mengekang kebebasan saya. Tiap pergi harus pamit, harus jelas: mau kemana, sama siapa, ada acara apa, pulang jam berapa. Nggak pernah ada ceritanya saya keluar rumah dan orang tua nggak tau saya kemana.

Orang tua juga mengenal betul teman-teman dekat saya. Kadang saya bercerita mengenai mereka pada orang tua, kadang orang tua bertanya siapa teman yang barusan saya ajak main ke rumah. Mereka juga suka membuka tas dan melihat-lihat buku-buku yang tergeletak di meja belajar saya. Dan saya lebih suka menyebutnya ‘sidak’ alias inspeksi mendadak. Hahaha.

Continue reading

Anak Kita: Antara Ujian dan Penyejuk Mata

lovely bouquet of flowerss

Ahad kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri bincang-bincang seputar dunia pendidikan anak dan homeschooling bersama Abu Luqman, salah satu penyiar acara rutin anak-anak di radio Rodja tiap Ahad pagi. Dalam kesempatan tersebut beliau menceritakan sebuah kisah, yang kurang lebih isinya seperti ini:

Ada sebuah kisah nyata, tentang seorang laki-laki yang hidup berkecukupan dan memiliki karir cemerlang. Suatu ketika saat karirnya sedang bagus-bagusnya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya tengah sakit keras, sehingga ia memutuskan untuk pulang kampung. Perusahaan tempatnya bekerja hanya memberi izin selama 3 hari untuk pulang mengurus ayahnya yang sakit. Namun setelah 3 hari ia tidak kunjung masuk kantor, bahkan sampai berminggu-minggu. Setelah berminggu-minggu tidak masuk kantor akhirnya ia dipecat, hilanglah karir yang telah dibangunnya dengan susah payah. Perlu diketahui, ia juga sudah memiliki keluarga berupa anak dan istri.
Continue reading

Tawakkal

Suatu siang ketika keluar dari kelas belajar bahasa Arab, saya mendapati beberapa ummahat tengah asyik berbincang di halaman madrasah. Seperti biasa sebelum pulang saya menyalami mereka satu persatu, “lagi ngobrolin apa sih bu kok asyik banget?” tanya saya sambil lalu. “Ini lho mbak Tia, pengumuman NEM dan kelulusan anak SD, kan hari ini..”.

Sayapun tertarik untuk ikutan nimbrung, berhubung adik saya yang paling kecil hari ini juga dinyatakan lulus dari SD-nya, alhamdulillah. Akhirnya sampailah kami pada topik biaya masuk sekolah bagi siswa baru.
Continue reading