When Sharing Becomes Oversharing

“Shoutout to the low-key people. People who don’t have to be center of attention ALL the time. People who stay in their lane and mind their own business. People who’s circle is smaller than a cheerio and they wouldn’t have it any other way. I see you…..” -Unknown

Teman saya seorang ummahat, pernah bercerita.. Beberapa saat setelah ia mengupload foto buah hatinya yang lucu, anaknya tiba-tiba rewel dan jatuh sakit tanpa penyebab yang jelas.

Pernah juga mendengar kisah nyata tentang seorang wanita yang suaminya terkena sihir lewat profile picture yang menampilkan wajah suaminya di Whatsapp.

The evil eye is real. Bahaya ‘ain itu nyata. Itulah mengapa kita mesti hati-hati upload foto/video atau bercerita detail tentang anak dan keluarga. Selain karena bahaya ‘ain yang nyata, juga karena alasan keamanan.

Apalagi wajah si anak terlihat jelas, imut, lucu, menggemaskan. Belum lagi kita jelaskan tentang ciri-cirinya, rutinitas hariannya, jadwal pulang pergi ke sekolah, plus alamat lengkap rumah kita.

Jangan sampai hanya karena ingin dipuji, dilike dan dikomentari (bahkan dijadikan lahan endorse?) keselamatan anak kita terancam. Belum lama ini terungkap jaringan pedofil yang tega memangsa anak-anak di bawah umur. Bahkan sudah terang-terangan menunjukkan modus mereka via forum-forum terbuka.

Tahan jari kita untuk menjelaskan terlalu rinci seperti apa anak kita, menunjukkan betapa pintar dan lucunya ia, betapa adorable dan berprestasinya ia.

Tahan jari kita untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa rumah tangga kita bahagia dan ‘sempurna’. Cukup kita dan orang-orang di sekeliling kita saja yang tahu. Jangan mengumbar informasi berharga kepada yang tidak berkepentingan.

Untuk apa seluruh dunia harus tahu? Untuk menginspirasi? Untuk dipuji dan dikagumi? Untuk dijadikan “children goals” bagi para orangtua lainnya? Atau “relationship goals” bagi pasutri lainnya?

Anak kita tidak butuh kekaguman dari orang lain untuk tumbuh sehat, cerdas, ceria dan shalih sesuai usianya. Rumah tangga dan love life kita tidak butuh pujian dan pengakuan dari orang lain untuk merasa bahagia and truly blessed.

We don’t even know them! Then why should we impress them?

Anak-anak kita, mereka butuh tumbuh dalam ruang gerak yang aman, nyaman dan jauh dari sorotan publik. Kita butuh banyak privasi untuk lebih menikmati hidup dengan pasangan tercinta, tanpa terganggu dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

Banyak cara untuk menginspirasi ibu-ibu lain, tapi untuk tujuan apapun itu, jangan pernah pertaruhkan privacy dan keselamatan anak demi memberi manfaat bagi orang lain, bahkan orang yang tidak pernah kita kenal.

Banyak cara untuk menginspirasi pasutri lain tentang contoh kebaikan dalam rumah tangga, tapi tak perlu sampai mengumbar tiap detil kemesraan atau pertikaian yang seharusnya tertutup rapat di ruang tidur kita.

Khusus untuk anak, demikianlah alasan mengapa saya tidak pernah membuatkan akun sosial media khusus untuk anak. Mereka tidak butuh itu. Sesekali sharing aksi dan kegiatan mereka di akun pribadi kita, okelah. Tapi kalau sampai dibuatkan satu akun khusus (even newborns have their own account!), I don’t think it’s necessary.

Sesekali, ubahlah sudut pandang kita. Lihatlah dari sisi anak. Apakah kelak ketika ia dewasa, ia merasa nyaman dengan adanya satu akun sosial media khusus yang mempublish segala aktivitasnya di masa kecil, bahkan yang sangat memalukan sekalipun? Do we have their permission to do that?

Remember, Mommies.. Family’s privacy and safety always comes first. Better safe than sorry.

Mengapa harus berpikir ulang sebelum memposting sesuatu?

Saya pribadi lebih melihat sisi keamanannya saja. Apalagi yang sering posting kemewahan, detail rumah, kendaraan, gaya hidup.. Berpeluang besar jadi sasaran kejahatan. Atau sering posting foto rutinitas keseharian anak, ingatlah bahaya kejahatan anak mengintai dimana-mana.

Lain kasus, ada juga pengalaman teman sesama ummahat, adiknya sering posting foto liburan di Bali, check in hotel itu, naik pesawat anu. Padahal kakaknya (teman saya tadi) hidupnya susaaah banget. Saya lihat sendiri soalnya, hehe.

Tiap teman saya mau pinjam uang untuk sesuatu yang urgent (bukan buat foya-foya, ya), selalu beralasan nggak ada duit. Tapi bolak balik posting kemewahan, plesir ke sana sini dengan pesawat, dan tragisnya, mereka berteman di sosmed. Miris to the max.

Intinya, menurut saya apapun yang berlebihan itu nggak baik. Posting cukup sewajarnya aja. Ini dunia maya, nggak semua orang waras dan memiliki mindset positif. Social media, once you post it, you can’t control it or take it back…

Nggak semua orang seberuntung kita. Nggak semua orang senang ketika orang lain senang, dan sedih ketika orang lain ditimpa musibah. Belum lagi yang kerjaannya fudul aka kepo sama urusan orang buat bahan rumpian semata.

Only a few cares, the rest are just curious.

Kita memang nggak bisa mengontrol reaksi orang terhadap postingan kita. Tapi kita memiliki kontrol penuh akan apa yang akan kita posting, apakah bermuatan positif dan mengundang manfaat atau justru malah mudharat yang didapat? Be wise before click ‘post this’.

Jika memang yang kita posting adalah kebaikan, go ahead. Terserah orang lain menilai apa. Namun jika sifatnya sangat pribadi dan rahasia, tidak masalah jika tidak diposting.. Ada baiknya untuk mempertimbangkan kembali sebelum membagikannya pada orang-orang yang tidak perlu untuk mengetahuinya.

“The key is keeping yourself to yourself. Keep your mystery. Don’t give them too much information so they can define you.”

Jadi, saya rasa sangat perlu bagi kita untuk menetapkan batas. Set your boundaries. Your life should be (more) private, discreet, and confidential. Live it and stay low key. No one needs to know every little thing about it.

Let them assume, let them guess, let them criticize who they think you are. Your life is too precious to be on display. So own it, love it, treasure it, and keep it away from the spotlight. Privacy is an expensive thing these days.

Tidak semua hal harus kita share di dunia maya dan dunia nyata. Bijak memilah, mana yang patut diketahui publik dan mana yang cukup kita simpan sendiri, for our safety’s sake! Stop telling people more than they need to know.

Mengutip kata-kata seseorang: “sharing is okay, oversharing is not”

~ Jakarta, June 2018… your life, it’s no secret, it’s just nobody’s business 😉

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Google & Pinterest ]

Advertisements

My Niqab, My Pride, My Dignity

“You call me radical, extremist, terrorist, fundamentalist, but Allah names me as a Muslim, and that is enough for me.” -Anonymous

Bagi saya.. Bercadar itu nggak butuh pengakuan. Nggak butuh harus disenyumin semua orang. Nggak butuh harus diterima oleh semua kalangan. Nggak butuh harus dipandang baik dan jauh dari kesan membahayakan.

Dari awal bercadar delapan tahun yang lalu, berbagai reaksi terhadap kehadiran sepotong kain bernama cadar ini sudah sering saya alami. Dari mulai dilihatin bagai alien lewat di jalan, dipandang dengan tatapan sinis, bahkan sampai dikatain ninja..

Read More »

The Unloved Children of Narcissistic Parents

A mother who radiates self-love and self-acceptance vaccinates her daughter against low self-esteem.” – Naomi Wolf.

There are many types of unconditional love. And a parent’s love, is definitely one of them. But sadly, there are some types of parents who only love themselves, above anything in this world. Include their children.

A type of parents who has an ego problem. Narcissists. They teach their children that love is very conditional. They feel superior to everyone else, specifically to their children.

Read More »

Thoughts, Terrorism, and Social Media

“Tidak semua teroris bertugas di lapangan, ada juga yang bertugas di media sosial.” – @krishnamurti_91

Ketika pagi ini membaca kutipan di atas, langsung terpikir, iya juga sih. Banyak akun-akun yang menebar kebencian dan penyimpangan pola pikir mereka di media sosial. Bukan berupa nasehat ya, tapi hate speech tanpa dasar ilmu yang jelas.

Read More »

The Most Precious Gift

Some people say.. Love and affection are only about material things.

It’s love, when you buy them expensive stuffs, nice car, fantastic jewelry or take them overseas, travel to the prestigious places around the world.

It’s love, when you ask them to hang out in a luxurious lounge, or always pay their bills with all the money you have.

But little did they know, cinta dan pengorbanan, tak hanya soal materi. Ketika seseorang menghadiahkan kita suatu benda yang kasat mata, suatu saat nanti, mungkin kita bisa membalas dengan memberikannya hal yang serupa. Bahkan sama persis.

Read More »