Mengukuhkan Kemesraan

Tampaknya kita para ibu bisa hidup tanpa banyak hal: tidur, olahraga, makan malam yang tenang, kedamaian, privasi di kamar mandi, maupun kemesraan.

Tapi tunggu dulu, coba pertimbangkan kembali untuk yang terakhir. Meski kita berpikir bisa hidup tanpa kemesraan, sebetulnya kita tidak bisa lepas dari yang satu ini.

Kemesraan itu seperti jeli untuk lensa kontak, yang mampu melembutkan saat-saat kering dalam kehidupan perkawinan dan membesarkan anak. Kemesraan juga menjaga keutuhan rumah tangga serta menghilangkan ego. Tanpanya, hidup ini hanya akan terasa sebagai rutinitas biasa.

Setelah kelahiran anak pertama, saya sadar kehidupan yang romantis akan memudar karena kesibukan mengurus si kecil. Tapi saya kira, selama suami dan saya bisa terus saling menyayangi, hubungan kami otomatis akan tetap mesra.

Ternyata, itu salah. Kita tidak bisa saling mencintai dan menjaga hubungan tanpa berbagi kemesraan. Dan tidak ada yang otomatis soal kemesraan setelah punya anak.. 😛

Continue reading

Jilbab, Bukan Hanya Sekadar Penutup Aurat

lovely rose

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka”. [An Nuur:31].

Sebuah ayat yang begitu lekat dalam ingatan kita, tentang kewajiban menutup aurat bagi para muslimah, yaitu dengan berjilbab. Jilbab atau hijab merupakan satu ketentuan yang telah diperintahkan oleh Sang Pembuat Syariat. Sebagai syariat yang memiliki konsekwensi jauh ke depan, menyangkut kebahagiaan dan kemashlahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh wanita yang mengaku muslimah.

Jadi, persoalan jilbab bukan hanya persoalan adat ataupun mode fashion Jilbab adalah busana universal yang harus dikenakan oleh wanita yang telah mengikrarkan keimanannya. Continue reading

Jika Wanita Muslimah Berobat ke Dokter Lelaki?

pink rose

Beberapa pertanyaan menghampiri meja Redaksi, yaitu menyangkut problem yang dihadapi wanita muslimah saat harus berobat atau memeriksakan kesehatan kepada dokter lelaki. Ini menjadi ganjalan bagi kaum hawa. Apabila tidak ada dokter wanita, atau jika sulit mendapatkan dokter wanita, lantas bagaimanakah hukumnya? Apalagi jika menyangkut hal-hal yang sangat pribadi, seperti partus (persalinan), atau keluhan lain yang memaksa wanita membuka auratnya.

Continue reading

Belajar: Sebuah Proses Seumur Hidup

Never too old to learn.

Sebuah ungkapan populer yang sering mampir di telinga kita. Yang maknanya kurang lebih adalah, tidak ada batasan waktu bagi seseorang untuk belajar. Mempelajari hal-hal baru dan asing walau di awal mungkin kelihatannya tidak mudah.

Banyak hal yang menjadi pendorong atau motivasi seseorang untuk belajar. Diantaranya adalah kebutuhan akan ilmu. Jika ia butuh, maka ia akan mencari cara untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.

Contohnya saya saja deh, awal mengenal dunia maya adalah karena kebutuhan berkirim surat elektronik alias e-mail kira-kira 8 tahun yang lalu.

Ketika itu seorang teman di luar kota ingin mengajak bertukar kabar melalui e-mail. Ketika ia menyodorkan alamat e-mailnya, saya cuma bisa bengong, “apaan nih?”

Dalam hati sih, tengsin lah ketahuan ga ngerti (apalagi punya) e-mail.. Hehehe padahal kenyataan.

But anyway, i’ll take this chance, pikir saya kala itu.

Berbekal ‘secuil’ artikel dari harian Republika kepunyaan Bapak, dan niat ingin bisa, berangkatlah saya ke warnet terdekat. Padahal gak dekat sih, lumayan jauh malah. Tapi gak papa, namanya juga usaha.

Pas nyampe warnet, nyoba-nyoba ngeklik sana sini tapi kok malah nyasar kemana-mana *betapa gapteknya 😛

Akhirnya saya nyamperin mbak-mbak operator yang lagi nongkrong sama temen-temennya, “mbak, tolong ajarin saya bikin e-mail dong..”.

Singkat kata, jadilah saya punya e-mail hari itu. Senang dong? Iya laah.. 😀

Continue reading