A Lesson of Getting Old

garden of white roses

Setiap hari, tiap-tiap dari kita pasti bertambah tua. Sebuah hukum alam yang tidak bisa dihindari. Seiring bertambahnya waktu, akan ada hal-hal yang berubah. Dan perubahan itu yang kadang dibenci oleh sebagian orang yang tidak siap untuk menjadi ‘tua’.

Then, what’s wrong about getting older? I rather call it maturity in physic and mentality.

Sesuatu yang membuat kita menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Dan bukankah itu baik? Agar kita lebih memahami esensi penciptaan kita sebagai manusia sekaligus memandang dunia sebagai tempat persinggahan semata.

Kadang saya heran dengan mereka yang begitu takut untuk menjadi tua. Seakan-akan semakin bertambah usia dan menua, menjadikan mereka makhluk yang tidak menarik dan kurang berguna.

Untuk mencegahnya mereka mulai berburu segala metode untuk selalu tampil awet muda. Krim anti aging dengan janji “get a ten years younger look”  hingga plastic surgery  yang menyamarkan penuaan di wajah  dan tubuh mereka.

Dan adakah metode-metode tersebut menghentikan laju perubahan yang sangat mereka takutkan itu? Tentu tidak, hanya sekedar menunda.

Dan salahkah jika kita ingin selalu terlihat muda? Rasanya tidak juga, asal cara yang digunakan tidak membahayakan diri manusia itu sendiri dan tidak bersifat merubah ciptaan Allah.

Juga tidak menjadikan diri ini tersibukkan dengan hal-hal tersebut hingga mengabaikan kewajiban lain yang lebih utama. Hingga akhirnya terjatuh pada perkara tabdzir  (berlebih-lebihan hingga cenderung boros).

Tapi yang saya ingin kritisi disini adalah cara pandang kita menghadapi proses yang tak mungkin terhenti tersebut. Saya, secara pribadi, justru memandang penuaan sebagai anugerah.

Betapa tidak? Allah telah memberikan kita sekian banyak waktu dan kesempatan, untuk menjadi individu yang lebih baik.

Dan tiap kali bercermin, akan kita dapati bayangan yang senantiasa berbeda dari masa ke masa. Hanya sebagai sebuah tanda, sudahkah kita memanfaatkan waktu yang diberikan dengan sebaiknya? Sebuah refleksi kejujuran penuh hikmah atas apa yang telah dicapai selama ini.

Saya pun pernah merasa takut untuk menghadapi perubahan itu.

When I was in the early of my teen-life, I thought.. what would I be in the next ten years? How would I look like?

Then here I am.

Merasa sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mencapai usia saat ini. Dan sama sekali tidak ingin kembali ke masa-masa belasan itu lagi. Karena ada banyak hal yang saya dapat seiring perubahan itu.

Pengalaman hidup, kekayaan cara berpikir, kedewasaan dan kebijaksanaan adalah sesuatu yang tidak ingin saya tukar dengan what-so-called “forever young”.

I reach this kind of mindset, and very glad.

Bahwa tampil muda dan sempurna bukanlah segalanya. Bagi mereka yang mengagungkan kesempurnaan fisik, hal itu boleh berlaku. Namun betapa indahnya jika kita memandangnya dari sudut pandang Allah Ta’ala, seperti tertuang dalam sebuah hadits,

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Ia melihat pada hati-hati dan amal-amal kalian.” (Riwayat Muslim)

~ February 7th, 2010. Originally posted on My Facebook Notes.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s