Simple. Subtle. Sacred.

flower and shoes

Hari pernikahan atau sering disebut “the big day” merupakan hari yang paling dinantikan. Hari istimewa yang akan menjadi awal baru dalam hidup seseorang. Langkah baru, suasana baru dan pastinya bersama seseorang yang baru pula. Segala persiapan mulai dari sewa tempat, pakaian, makanan dan printilan lainnya😀

Berdasarkan pengalaman saya ketika menghadiri acara pernikahan, dalam merayakan hari bahagia banyak sekali ragam cara dan keunikan di dalamnya. Dari mulai yang super mewah di gedung yang megah, hingga yang sederhana dan ala kadarnya.

Hmm, pesta pernikahan saya dulu termasuk yang mana ya? Sepertinya yang kedua, karena jelas tidak masuk kriteria yang pertama. Heuheuheu.

Ya, sederhana. Kata yang tepat untuk mendeskripsikan ‘my big day’ tersebut.

Dari mulai acara resepsi yang bertempat di rumah mempelai wanita who is saya, hingga busana walimah yang juga amat sederhana. Busana walimah saya dan si dia bernuansa biru muda, all made by myself.

Dari mulai merancang model, berburu bahan hingga proses pembuatan. Si dia request dibuatkan gamis, dan untuk saya hanya abaya biru muda berlapis dua dengan hiasan sederhana. Minimalis deh. And no brokat…

Nothing’s wrong with it but I just don’t like it 😀

Tidak ada pelaminan, saya berbaur bersama tamu, kadang malah saya yang menghampiri tamunya, menyambut dan menyilakan untuk menikmati hidangan. Well, saya tidak suka duduk lama apalagi sepanjang hari di pelaminan, duh.. nggak enak.

Dan karena tamu pria dan wanita dipisah, jadi saya dan suami belum bisa bertemu setelah akad nikah. Nggak masalah, kami juga lagi sibuk dengan tamu masing-masing kok, hehe..

Menjelang siang, tamu mulai sepi. Saya melongok ke dapur, ternyata ada tumpukan beberapa piring kotor. Mbak yang bantu nyuci piring kayaknya lagi istirahat karena capek. Puncak arus tamu (halah) adalah sekitar jam 10-12, jadi beliau pasti kecapekan.

Karena nggak biasa lihat cucian nganggur, spontan aja saya buka kancing manset tangan.. dan mulai deh nyuci.. Lagi asyik nyuci, ada yang manggil.. oh ada tamu ternyata. To be continued deh nyucinya.

Tergopoh-gopoh saya menyambut si tamu, dan beliau nanya ke saya,

“Mbak, ini pengantennya mana ya?”

Eeeeeerrrrrrrrr😄

“Ehehe, saya bu pengantennya.. ga keliatan kaya penganten ya bu?”  jawab saya sambil nyengir.

Eh si Ibu malah jadi malu deh. Hihihi.

“Gapapa kok bu, mari masuk..” ajak saya.

Rupanya beliau adalah istri teman suami, jadi wajar aja tidak mengenali saya (sebagai penganten-nya). But it’s okay karena penampilan saya memang tidak ‘mencerminkan’ seorang mempelai wanita, dengan riasan yang serba seadanya. Karena saya memang paling nggak suka di make-up.

Dan ternyata suami juga tidak memperbolehkan saya memakai riasan yang menor, karena ada sebagian tamu yang bukan mahram dari kalangan keluarga, yang pastinya akan saya temui. Alhamdulillah, berarti kami memang berjodoh.. *loh

Ketika tamu-tamu akhwat yang juga sahabat terdekat saya pulang, saya ikut mengantar mereka sampai ujung jalan. Dan -dasar cewek- kami ngobrol dan bercanda agak lama di sana, karena berat juga kelak harus berpisah dengan mereka. Nggak terasa udah hampir setengah jam😀

Sampai salah satu sahabat saya mengingatkan,

“Eh Tia nanti ada tamu lagi lho, ayo balik sana..”.

Lagi-lagi kami terkikik geli, tersadar kalau sekarang saya ini lagi  nikah lho…

Menjelang sore, agak lega rasanya akhirnya hari ini terlewati juga. Walau masih dag dig dug karena harus bertemu dengan suami yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Tapi ada beban yang hilang ketika akad telah terucap, janji telah terikat dan doa serta ucapan selamat berdatangan. Apa yang saya alami hari itu benar-benar seperti apa yang saya inginkan.

Simple, subtle, sacred.

Saya memang menginginkan proses walimah yang sederhana. Tanpa menghilangkan kesakralan pernikahan itu sendiri. Karena bagi kami, yang terpenting dari sebuah prosesi pernikahan adalah sah dan barakahnya.

Tidak perlu undangan mewah, gedung megah, makanan lezat berlimpah, atau busana rancangan desainer ternama. Saya hanya tidak ingin memberatkan calon suami saya kala itu, karena bukan kemegahan yang terpenting bagi saya.

Kehadiran orang-orang terdekat, do’a, dukungan dan nasihat mereka adalah yang paling saya butuhkan. Dan karena cinta, saya tidak ingin membuat yang sebenarnya mudah menjadi rumit.

Tidak, nikahilah saya dengan apa yang engkau punya. Karena saya bukan benda yang bisa dinilai dengan kebendaan pula.

Dan karena, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sebuah pesta satu hari yang megah dan meriah.. hari-hari setelah pesta pernikahan nanti, jauh lebih berarti bagi kami.

Jadi kalau bisa dipermudah, kenapa mesti (dibikin) repot?

Bukankah bahagia itu.. sederhana? 🙂

~ Jakarta, May 15th 2011, 21.05… reminiscing that good old day :’)

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Simple. Subtle. Sacred.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s