I Love You, Sweethearts :)

Saat anak-anak telah tertidur adalah saat yang paling tepat untuk membereskan ruang tamu dan mengembalikan mainan-mainan mereka ke kotaknya. Huufft.. nggak betah rasanya ngeliat rumah yang berantakan, mainan-mainan berserakan dan lantai yang ngeres. Udah disapu, diberesin, ditata eh berantakan lagi. Yah namanya juga anak-anak. Sedang aktif-aktifnya lagi.

Malam ini ketika saya sedang melakukan ‘ritual’ beres-beres seperti biasa (tentunya mereka sudah tertidur ya), ada perasaan yang berbeda saat memandangi ruang tamu dan memunguti mainan (dan apa saja yang telah bertransformasi menjadi mainan). Saya membolak-balik buku yang telah dicoret-coret dengan pensil oleh si abang, lengkap dengan goresan ‘abstrak’ khas anak usia 3 tahun. Saya ingat tadi ia minta dibuatkan gambar ikan, setelah saya serahkan gambar ikan yang ia minta, tanpa disangka ia mengucapkan, “terima kasih..” dan tersenyum. Di lain waktu ia menyodorkan buku dan pensilnya, lalu saya bertanya, “Harits mau ummi gambar apa?”. Ia hanya menggumam tak jelas akhirnya saya coba untuk menggambar kucing, lalu saya kembalikan buku itu padanya sambil bertanya, “Ini apa hayo bang?”. Jawabannya ternyata tidak seperti yang diduga, “Sapi, mi!” Hahahaha… separah itukah gambar kucing ala saya? Lol.

Lain lagi si adik, yang agak berbeda dengan abangnya. Afra-ku ini suka sekali menciptakan keasyikan sendiri dengan mainan (atau apa saja yang bisa ia mainkan). Ia lebih kreatif, bahkan terlampau kreatif dan serba ingin tahu. Saat ini ia sedang tergila-gila pada makhluk yang bernama kucing.. melihat si kucing melintas di depan rumah aja langsung heboh. Dan tiap hari selalu aja ada yang ia tumpahkan, air di gelas, nasi atau kue di piring, kira-kira 1 jam yang lalu ia juga telah sukses menumpahkan malkist abon di lantai dan meja komputer sampai hancur berantakan. Gemesss.. pengen marah (karena udah capek, masih harus nyapu lagi pula), tapi kok ya nggak tega. Ia kan cuma anak-anak. Bahkan sebenarnya ia masih bayi. Ya, bulan depan ia baru genap setahun. Sore tadi saya dapati ia muncul dari balik motor dengan wajah yang penuh coreng-moreng hitam mirip tentara, dan di tangannya malah lebih banyak lagi. Ya, itu oli! Ya Allah, saya hanya berusaha dan berdo’a agar stok kesabaran ini terus bertambah. Oke ini lebay. *abaikan*

Tapi dibalik keisengan dan ‘kreatifitas” mereka yang kadang bikin kepala puyeng mendadak atau nada suara meninggi (padahal saya sudah berusaha supaya stay calm tapi nggak bisa).. banyak hal-hal yang membuat saya tersenyum. Ketika si abang minta dibuatkan susu sedang saya tengah bersiap untuk shalat dzuhur, saya bilang padanya, “sebentar ya, ummi mau shalat dulu..”, trus dengan muka ceria😀 si abang menjawab, “oke, ati-ati ya mi..” sambil nyengir. Kontan saya tergelak sambil mengacak rambutnya.

Saat mereka main kejar-kejaran di kamar, cekikikan, mendorong sepeda roda tiga berdua, kompak main tikus-tikusan atau petak umpet, yang sukses membuat saya terkikik geli bahkan terkadang menyelinap perasaan syukur bercampur rasa tidak percaya bahwa, “Oh well, ternyata dalam hidup saya yang dulunya monoton ini ada setidaknya dua manusia yang saya lahirkan dari rahim saya, hidup dan bertambah dewasa setiap harinya dan, ya! mereka membutuhkan saya. Saya merasa dibutuhkan sekaligus dicintai dengan begitu utuh. Apa adanya. Tanpa syarat.”

Kadang saya juga marah atau kesal dengan mereka (well I’m only human), tapi ketika kekesalan itu mulai mereda maka saya hampiri dan meraih tangan mereka lalu saya peluk dan bilang, “maafin ummi ya sayang tadi marah, makanya lain kali jangan begitu ya..” Mata polosnya berkilat-kilat dan ia memeluk saya. Ah! Ada butiran yang jatuh dari pelupuk ini. Anak-anak seusia mereka memang betul-betul pemaaf, hanif dan tanpa dendam. Hati mereka masih bersih dan belum ternoda.

Saya jadi tersadar akan pentingnya arti keberadaan mereka dalam hidup saya. Saya kadang (ya, dan rasanya agak sering akhir-akhir ini) mengeluhkan waktu luang yang nyaris tidak ada untuk sekedar menjahit dengan tenang, minum kopi atau teh dengan nikmat, membaca tanpa gangguan atau sehari saja tanpa rengekan mereka. Bagaimana jika keadaannya dibalik, tidak ada lagi yang mengganggu saya ketika melakukan aktifitas-aktifitas tersebut? Jika itu berarti tidak ada lagi mereka dalam hidup saya, maka saya memilih untuk hidup dengan gangguan mereka. I choose and ready for the consequences.

I won’t deny it’s joyful to be single or childless, but the joy would be completed by their presence in my life. As a proverb says, we have a lifetime to do this or that, but children are only young once. How grateful I am to have you in my life kiddos. Kalian memiliki hak untuk tumbuh dan dibesarkan dengan cinta. And let me whisper to your ears tonight, I love you.

~ sebuah tanda cinta untuk yang tercinta. Yang dirangkai dengan penuh cinta pula🙂

6 thoughts on “I Love You, Sweethearts :)

  1. meut.. sama banget Filah jg kelakuannya super kreatif.. olie motor jg daopet aja tuh dia, makanan ikan dia telen, bawang2an dia lempar2 ke jalan, ketumbar bernasib naas disebar keseluruh penjuru rumah, dsb2nya. ujian kesabaran memang tapi kalo abis marah, ngeliat muka2 polos mereka langsung feel guilty yaa.. ya Allah jadikan anak2 kami anak2 yg shalih/ah, aamiin…

    • hahaha.. levelnya udah tinggi yah filah, afra masih junior nih kayakna😀
      allahummaa aamiin.. eh ahad besok atau ahad depan ada di rumah bu?

  2. Gak tau kenapa, ketika aq baca tulisan ini, i feel touched and my eyes get teary… Ini bentuk cinta ibu yang tulus banget, beruntung ya Mbak di karuniai anak yang lucu dan manis… Semoga Allah Subhanahu wata’ala juga memberikan saya kesempatan untuk mnjadi seorang ibu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s