Keindahan Fisik Saja, Cukupkah?

lovely roses

Ketika seseorang berkeinginan untuk menikah, dalam mencari pasangan hidupnya dari sekian banyak kriteria, salah satu yang biasa menjadi prioritas adalah yang menarik. Yang cantik, bagi yang pria. Dan yang tampan, bagi yang wanita.

Walau kata ‘menarik’ maknanya tidak sempit dan terbatas pada keindahan fisik saja, tapi wajar rasanya jika kita mendengar kata ‘menarik’ maka yang langsung tergambar dalam benak kita adalah mengenai penampilan fisik yang mempesona.

Merupakan sebuah hal yang lumrah bagi seseorang untuk mencari yang terbaik, at least yang memenuhi kriterianya lah. Dan kriteria cantik dan tampan ini biasanya ada di urutan atas lho, coba aja tanya yang masih pada single.

Trus kenapa? Salah? Ga boleh milih yang secara fisik menarik?  Ya boleh banget kalii, malah dianjurkan memilih calon pasangan yang membuat hati kita tenteram dan menyejukkan mata. Karena yang demikian akan lebih melanggengkan pernikahan.

Nah pertanyaannya sekarang, cukupkah hanya dengan melihat kesempurnaan fisik seseorang lalu dengan mudah kita memutuskan, “Ya, saya akan menikahinya.. soal yang lain itu masalah belakangan. Bisa diatur.” Semudah itukah? Dan cukupkah ketertarikan tersebut jadi pilar utama dalam membangun rumah tangga?

Jika saya ditanya demikian maka saya akan menjawab, “TIDAK.”

Bukan berarti saya menganggap penampilan lahiriah itu tidak penting. Atau menafikan perlunya cinta dan ketertarikan dalam sebuah hubungan pernikahan. Don’t get me wrong. Yang saya maksud adalah sebuah pernikahan tidak cukup HANYA didasari oleh rasa cinta dan ketertarikan fisik semata.

Pernikahan adalah ikatan sakral yang menyatukan dua manusia yang berbeda. Watak yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, latar belakang yang tidak sama. Dan cinta saja tidak cukup untuk menjembatani perbedaan-perbedaan itu.

Bagi saya, cinta dan ketertarikan hanya satu diantara pilar-pilar yang menopang kelangsungan sebuah pernikahan.

Kedewasaan, sifat, kesamaan visi, kematangan pribadi dan cukupnya bekal ilmu syar’i adalah pilar-pilar lain yang patut diperhitungkan ketika kita memutuskan untuk menikahi seseorang.

There are many things to be considered before you decide to marry someone.

Ingatlah bahwa kita tidak hanya mencari seorang pendamping, tapi juga seorang ibu atau ayah bagi anak-anak kita kelak. Apalagi memilih seorang istri, yang merupakan sekolah atau madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak. Hal tersebut yang jadi pertimbangan saya ketika dalam proses pencarian dulu.

Remember, it’s a lifetime commitment, not a trial and error one.

Menentramkan bukan hanya masalah cantik atau tampan kan? Saya bisa ngomong gini karena saya sudah menikah lho. Bisa membayangkan punya pasangan yang minim ilmu agama, tak seide dalam banyak hal, buruk akhlaknya, kasar perangainya, tidak takut pada Allah dan tidak setia. Ah, betapa seperti neraka hidup dalam rumah tangga semacam itu.

Karena menurut hemat saya, menentramkan bisa berarti kepribadian yang menawan, kesamaan tujuan dan cara berpikir, nyambung ketika diajak ngobrol dan kecocokan-kecocokan lainnya. Klik, istilah saya.

It’s not about something I feel for you, it’s about something I don’t feel for anyone but you.

Tidakkah kita sadar bahwa keindahan fisik merupakan sesuatu yang tidak abadi, ia akan memudar seiring berjalannya waktu? Dan apa artinya semua kelebihan itu jika tidak dilengkapi dengan akhlak yang baik, kecocokan dalam banyak hal dan keshalihan?

Betapa banyak pasangan yang sama-sama menarik, mapan, sukses dalam, karir, berkelimpahan materi tapi ternyata tidak sukses dalam membina rumah tangga, bahkan saling mengkhianati pasangannya dengan berselingkuh.

Apa lagi yang kurang? Semuanya mereka punya.

Merupakan sebuah bukti nyata bahwa tiga dari empat kriteria yang biasa dipilih anak adam yaitu harta, keturunan dan kecantikan/ketampanan lahiriah tidak selalu menjamin kebahagiaan dalam berumah tangga.

Jika keempatnya ada dalam diri seseorang maka itu adalah sebuah bonus, tapi jika tidak jangan korbankan keshalihan demi mendapatkan ketiganya.

Maka benarlah sabda Rasulullah, 

“…maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung…”

Dedicated to all jombloers out there, especially my sister who is already available *melipir

~ Jakarta, Ramadhan 2011.. terinspirasi dari sebuah obrolan ringan dengan suami kala sahur tadi pagi🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s