Dari Buku “Aku Wanita Yang Dipoligami”

“Poligami akan menjadi indah dalam kehidupan berkeluarga bila dilakukan secara bertanggung jawab, proporsional, mengindahkan ajaran Islam. Namun bila ia dilakukan serampangan, nyaris tak mengindahkan aturan syariat, mengabaikan prinsip maslahat, maka segala kericuhan dan prahara bisa menanti di depan sana.”

Kemarin sore ketika jalan-jalan dengan suami dan anak-anak ke toko buku, tak sengaja mata saya melirik sebuah buku cantik yang berjudul “Aku Wanita Yang Dipoligami”  karya Abu Umar Baasyir.  Baca baik-baik ya, bukan Abu BAKAR Ba’asyir,  sering tertukar soalnya. Beda orang beda urusan lho, hehe.

Sebuah kumpulan kisah-kisah nyata tentang mereka yang telah menjalani hidup berpoligami. Dan tiba-tiba saja saya tertarik membelinya. Padahal sebelumnya saya sudah pernah mendengar buku ini, tapi tidak tertarik untuk membacanya. Pikir saya waktu itu, wah pasti isinya “serem” nih, hehehe. Singkat kata jadilah saya beli buku tersebut.

Setibanya di rumah langsung saya buka sampulnya dan siap-siap menikmati isinya. Sampai suami saya dengan nada heran bertanya, “Kenapa sih kok Neng (panggilan beliau untuk saya) beli buku itu?”. “Yang mana?”. “Itu, yang poligami”.  Jawab saya santai, “Nggak tau A, pengen baca aja..”

Buku Aku Wanita Yang Dipoligami

Alhamdulillah pagi ini buku tersebut sudah tamat saya baca. Buku itu rasanya nano nano banget deh. Maksudnya pas baca ada banyak hal yang saya rasakan. Ada rasa sedih, senang, lucu, geram bahkan rasa salut. Singkatnya menarik. Menarik, karena bukan sekedar fiksi melainkan kisah nyata.

Romantika dan lika-liku hidup berpoligami yang beraneka ragam membuka mata saya pada banyak hal tentang syari’at yang mulia tersebut. Walau dipaparkan dari sudut pandang seorang pria, namun tidak ada tendensi untuk menyudutkan wanita. Padahal ini adalah salah satu hal yang sangat sensitif untuk dibahas, terutama bagi kaum wanita. Tapi saya enjoy tuh bacanya. No hard feeling, hehehe piss..

Buat yang belum baca, saya tidak berniat untuk promosi yah, nor give you any spoiler. But let me write down the conclusion about this book,  which i like very muchyang juga merupakan bab penutup dari buku ini. And here it is….

“Segala puji hanya milik Allah, yang tidak pernah menyia-nyiakan siapa pun yang mengharapkan keridhaan-Nya, dan tidak pernah menampik siapa pun yang memanjatkan doa kepada-Nya.

Poligami atau menikahi istri lebih dari satu merupakan bagian dari syari’at Islam yang telah diatur syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya dengan terperinci. Di dalamnya ada kegembiraan, kesedihan, keindahan dan juga kericuhan-kericuhan. Kesemuanya mengajarkan banyak hal bagi kita bersama, bahwa POLIGAMI itu bukanlah hal yang sederhana, dan ia sama sekali tak layak disederhanakan sedemikian rupa.

Artinya, syariat poligami itu haruslah dipandang sebagai salah satu solusi bagi kebutuhan seorang muslim, dan bukan satu-satunya solusi. Sebagai sebuah solusi, maka sosok poligami tak harus muncul dalam bingkai yang sama, hukum yang sama, konsekuensi yang sama dan wujud implementasi yang sama. Bagi sebagian orang bisa menjadi solusi yang baik untuk kebahagian keluarganya, dan untuk memenuhi kebutuhan manusiawinya sebagai pria muslim yang normal. Namun bagi orang lain, bisa jadi bukan solusi yang baik, atau bahkan justru menjadi bibit dari banyak prahara dalam kehidupannya.

Maka, marilah meletakkan poligami secara proporsional dalam kehidupan Islam kita. Pasti, kita harus menerima adanya syariat poligami dalam Islam. Dan kita mendoakan kebaikan bagi mereka yang melaksanakan poligami secara proporsional dan berusaha mengikuti bimbingan Islam dalam menerapkannya.

Tapi,  mengutip ucapan salah seorang sahabat saya POLIGAMI BUKANLAH SEGALA-GALANYA…”

Akhir kata, saya merekomendasikan buku ini bagi mereka yang ingin lebih ‘melek’ dan mengetahui tentang apa itu poligami syar’i, syarat-syarat, adab, tahapan, resiko, plus dan minusnya. A good book to reconsider for married couple, I think.

Dan setelah membacanya, saya bilang pada suami, “Emang bener ya A, poligami itu kalo tanpa ilmu dan pelakunya nggak wise, bukan sakinah yang didapat, melainkan neraka. Ia bisa menjadi solusi, atau justru menjadi polusi..”. Saya juga menganjurkan suami untuk membacanya. Apakah berarti kemudian saya siap untuk dipoligami? Eitss…. menurut saya itu dua hal yang berbeda yaaa~ smile

Allaahul Musta’an…

~ Cibubur, di penghujung Ramadhan 1432 H

13 thoughts on “Dari Buku “Aku Wanita Yang Dipoligami”

  1. ana dah baca dan buku itu membuka pengetahuan ttg ta’adud (walopun sesek dada ini memposisikan diri jika kelak dipoligami sama abu Salman🙂.
    afwan sahabatku yg shalihah, di akhir post anti menulis/menyatakan bhw adalah hal yg berbeda menganjurkan suami membaca dan kesiapan diri di poligami, maksudnya gmn?

    • Fitrahnya wanita memang sulit untuk berbagi, tapi bukan tidak mungkin kan? Salut pada mereka yang telah sanggup.

      Lho memang berbeda kan mbak?🙂
      Menganjurkan suami untuk membaca, berarti mencoba membuka mata beliau tentang lika-liku kehidupan poligami, menambah ilmu tentang hal tsb.. Sedang kesiapan saya untuk dipoligami adalah hal yang berbeda.

      Mengutip perkataan Abu Umar Basyier di kolom konsultasi Majalah Sakinah ketika ada yang bertanya tentang syari’at poligami: “Anda (si penanya) sebagai seorang muslimah WAJIB menerima poligami sebagai bagian dari syari’at, walau Anda TIDAK HARUS mengalaminya.”

      Wallahu Ta’ala A’lam🙂

      • Aduh apa banget, baru ngeh stelah sekian lama comment ana di reply.

        Ana tanyain maxud anti soalnya keinget sama ustadz yg mengomentari pernyataan seorang umahat bhw dia (si umahat) rela dan ikhlas suami org berpoligami, tapi jika suaminya sendiri yg berpoligami, beda cerita. Pernyataan anti mirip sedikit, menganjurkan suami membaca buku itu tapi point utama buku tsb seakan tidak anti dapatkan. Tentu tidak wajib mengalaminya, hanya saja kurang oke kalo bilang tidak ada kesiapan. Tentu ada bedanya org yg mengetahui dg org yg tidak mengetahui.

        Buku itu memberi pencerahan ilmu ttg ta’adud kpd pembacanya, walaupun sedikit yg qta dapatkan tapi tentu memberi kesiapan kpd si pembaca saat memposisikan diri kpd pengalaman para tokoh dlm kisah nyata mereka.

        Reading leads you to somewhere new. Experience things by reading.

        • Ahsanti🙂 Tentunya kita semua bersiap diri jika seandainya itu terjadi, mengingat sunnah poligami atau ta’addud merupakan solusi, walau bukan satu-satunya solusi. Namun kondisi dan kesiapan tiap orang kan berbeda. Tidak bisa disamakan satu dan lainnya. I got the point, mbak. Yang saya tekankan disini adalah ingin meluruskan salah kaprah bahwa menerima syari’at poligami sama dengan mau dipoligami. Padahal itu dua hal yang berbeda. Kembali kepada kesiapan tiap individu yang menjalankannya. Tidak hanya suami, tapi juga istri dan anak-anak. Dan Allahlah Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Wallahu Ta’ala A’lam.

  2. Pingback: “Poligami Bukanlah Segala-Galanya…” | So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s