Malang, I’m In Love :’)

Akhir Agustus lalu, tepatnya menjelang hari Lebaran saya dan keluarga mengunjungi rumah mbah di Malang, Jawa Timur. Jauh sebelum datangnya bulan puasa kami memang sudah merencanakan ingin berlebaran bersama saudara dan kerabat di sana. What a wonderful trip and a wonderful place to visit. Tidak seperti Jakarta yang panas dan banyak macetnya, kota Malang itu indah dan sejuk. Macet ada sih biasanya tiap akhir pekan di jalan-jalan besar, tapi karena udaranya yang sejuk walau tanpa AC macet jadi tidak terlalu menyusahkan. Nggak seperti di Jakarta, udah macet, polusi, panas, klakson bunyi tan-tin-tan-tin, perut lapar lagi dsb dsb, lengkaplah penderitaan.. Lha kok jadi curcol membandingkan Jakarta sama Malang? Hehehehe.

Rumah mbah tempatnya di pinggir jalan besar, di wilayah Blimbing kota Malang. Walaupun di pinggir jalan besar, tapi tiap pagi dan malam udaranya terasa amat sejuk dan dingin. Saya selalu berusaha mandi sebelum malam agar tidak kedinginan. Qaddarullah waktu kami berkunjung kemarin, Malang sudah lama tidak diguyur hujan. Jadi bukan pas musim dingin. Selain udaranya yang sejuk, penduduknya yang mayoritas suku Jawa membuat saya merasa tidak asing dan seperti di rumah sendiri. Don’t tell me to speak Javanese fluently, I can’t. Hahaha. Bahasa Jawa saya pasif, ngerti tapi nggak bisa ngomong. Yaeyalah, saya kan lahir dan tinggal di ibu kota. Ke Malang cuma pas liburan ajah.. *ngeles*

Malang juga merupakan bagian dari masa kecil saya. Bermain, berkejaran dan nginep bareng sepupu-sepupu di rumah mbah adalah kenangan yang tak terlupakan. Bekas luka di kedua lutut ini adalah kenang-kenangan yang mengingatkan akan ketomboyan saya di Malang sewaktu kecil. Cucu-cucu mbah itu banyak banget, anaknya mbah aja ada 12. Jadi kalo tidur udah kaya pindang dijejer-jejer tinggal digaremin, ahahaha. Air minum juga nggak pernah adem, tekonya baru aja diisi udah habis lagi. Karena kami bolak-balik minum setelah kecapekan main. Dulu belum ada galon, jadi mengandalkan masak air dari sumur aja. Dan yang paling berkesan adalah tentu saja.. saat mengantri kamar mandi. Orang sejibun kamar mandinya cuma satu😀

Dulu saya dan para sepupu suka jalan-jalan ke stasiun Blimbing, naik lokomotif yang lagi berhenti, pulangnya main ke rumah mbah buyut. Disana kami main monopoli, lihat menthok (nila) dan main raja dan ratu-ratuan. Pokoknya happy dan ndeso banget deh saya kalo ke Malang. Ga kebayang kalo sekarang kami semua ngumpul dengan membawa pasangan dan anak masing-masing. Bisa-bisa gelar tenda deh di gang rumah mbah. Betapaaa hebohnya..

The next best thing is the food. Kuliner disini mungkin tidak sevariatif dan sepopuler di Surabaya, tapi cukup membuat saya kangen berat. Soto Lamongan Bu Dul is one thing I’d never miss, it’s a must. Adalah soto ayam terenak yang pernah saya makan selain soto surabaya cabang Kramat Jati. Nikmat dan nagih. Relatif murah untuk ukuran depot soto pinggir jalan besar (Jl. Jend A Yani no.120), cukup sepuluh ribu rupiah aja untuk seporsi soto dan nasi. Dijamin whareg. Ada menu lain juga sih, kaya tahu campur dan nasi rawon, tapi favorit saya tetap si soto. Masih banyak sebenarnya spot kuliner yang belum saya jelajahi, insya Allah lain kali. I promise.. *mulai nabung*

Alhamdulillah kemarin sempat nyicipin tahu campur, rujak petis dan rawon buntut. Yang terakhir spesial buatan mbah. Many thanks to my cousin, Mbak Ren yang bersedia menjadi duta pariwisata dan kuliner saya selama di Malang. Yang udah bela-belain nyari rujak petis beberapa jam sebelum kepulangan saya ke Jakarta. We’ll spend another fabulous moment in my next visit, insya Allah.. *peluk*

Untuk cemilan, saya suka banget cucur dan keripik buah khas Malang. Kemarin berhasil beli banyak aneka keripik buah dan keripik tempe. Mumpung ada yang bisa ditodong, hehehe *lirik suami*
Keripik apel, salak, nangka, brem, jenang apel dan minuman sari apel. Yang paling juara buat saya adalah si keripik nangka. Asli, susah berhentinya kalo udah makan keripik ini. Another Malang’s addictive food for me. Dan ternyata suami juga doyan banget, alhamdulillah kemarin beli agak banyak. Jadi tenang deh😀

Kemarin kami sempat jalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang letaknya tidak jauh dari kota Malang, seperti Wisata Air Wendit. Tirta Nirwana Songgoriti, Kebun Teh Wonosari, dan Alun-alun Kota Malang. Insya Allah akan saya buat dalam catatan perjalanan tersendiri di blog ini.

8 hari liburan di Malang, tidak seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, ada hal yang berbeda.. Ya, saya telah jatuh cinta dengan kota ini. Suasananya, orang-orangnya, tempat wisatanya, makanannya, kesejukannya. Saya amat bersyukur diberi kesempatan untuk mengunjungi Malang lagi, setelah 11 tahun absen. Juga insya Allah di tahun-tahun berikutnya jika ada rezeki dan kesempatan. Aamiin.

Over all, bagi warga Jakarta seperti saya, Malang could be a perfect getaway. Ngangenin full. We’re so satisfied spending last holiday here. Bahkan suami pun sudah jatuh cinta dengan kota ini. Anak-anak betah walau tanpa AC dan kipas angin. I’m looking forward a chance to see you again, Malang. Coz I’m missing you, already..🙂

~ Malang Lebaran Holiday Trip, 29 August – 6 September 2011 ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s