Kita, Bukan Orangtua Malaikat

my kiddos ^^

Ayah, Ibu…

Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua ‘malaikat’ yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak.

Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar, bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak itu yang menjadi fokus perhatian.

Artinya, ayah ibu, sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak, tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai dan menyakiti anak-anak kita.

Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak dapat membuat hati anak terluka. Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya. Tubuhnya bisa kesakitan, tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

Ayah, Ibu..

Karena kita bukan orangtua malaikat, maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat yang langsung terampil berbuat kebaikan. Mereka tengah belajar ayah, mereka masih berproses Ibu.

Seperti belajar bersepeda, kadang mereka terjatuh, kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh. Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita, mereka bereksplorasi, mereka berproses, mereka mengayuh kehidupan untuk meraih kebaikan dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku, sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal, padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak dengan cara yang baik. Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka akan terus tergerus dari kehidupan mereka.

Tetapi Ayah, Ibu, jika kita menghadapi ketidakterampilan ini dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan, mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

Ayah Ibu…

Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan: nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel, siramlah ia dengan kesejukan. Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas hanya membuat ia makin terbakar.

Ayah, Ibu…

Yakinilah, sifat-sifat negatif anak hanyalah bagian ‘eksplorasi’ untuk mencari cahaya kehidupan. Jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan, insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan.

Karena itu ayah, ibu… jika kadang amarah dalam memperlakukan anak mampir lagi dalam hidup kita, kamus yang benar adalah ‘inilah ujian ketulusan’ bukan kegagalan, terus belajar tentang kehidupan, bukan tak berhasil dalam kehidupan.

Belajar, memburu ilmu, adalah ikhtiar yang kita tuju, karena sebagian kita ketika menikah tidak disiapkan jadi orangtua .

Jadi, ayah ibu, mari kita terus belajar, meskipun telah jadi orangtua: belajar…. jadi orangtua.

Andaikan keluarga kita kuat, insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental terhadap lingkungan yang gawat.

~ Ditulis oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari,  Direktur Auladi Parenting School/Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) ~

“Rabbii hablii minashshaalihiin…..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s