Be An Entrepreneur :)

dreamsss

Who Wants To Be An Entrepreneur?

Beberapa waktu lalu, seorang kawan di Facebook bertanya lewat status, ” Jika ada modal fresh 200 juta kamu mau bisnis apa?.. “.

Sayapun tergelitik untuk memberi sedikit komentar, ” Sesuai dengan passion, buka butik busana muslim syar’i🙂 “

Ya, itu memang cita-cita saya. Working with passion, do what I love. Dan memiliki butik sendiri barangkali adalah impian setiap penjahit seperti saya. Siapa yang tidak ingin mewujudkan mimpinya? And my dream is about earning money, without being employed.

Sejak kecil, saya sudah belajar mencari uang sendiri lho, walau hanya kecil-kecilan.. Ketika SD, saya membantu ibu berjualan es di sekolah. Jadi Ibu membuatnya di rumah, kemudian saya pasarkan ke sekolah. Tentu saja selain membantu orang tua, saya juga mendapat keuntungan, bagi hasil lah istilahnya. Lumayan hitung-hitung menambah uang saku. Kalau tidak salah waktu itu harga es masih sangat murah, hanya lima puluh rupiah sebatang.

Salah satu penyebab es dagangan saya laris manis adalah varian rasa es yang tidak biasa. Jika di sekolah hanya ada es teh atau es limun, es dagangan saya macam-macam jenisnya. Ada es kopi, es rujak, es susu, es jambu, es gula asam dan es tape. Hampir setiap hari selalu habis terjual. Saya sudah hapal betul, teman saya yang ini, penggemar es tape, yang satunya penggemar es jambu, setiap pelanggan punya favorit sendiri-sendiri🙂

Pertama kali berjualan, saya nggak pede banget. Khawatir nggak laku lah, khawatir dilarang pihak sekolah, khawatir diejek teman-teman lah. Nah kekhawatiran yang terakhir ini memang terbukti. Ketika saya masuk kelas sambil menenteng termos (ya, termos es), langsung saja jadi bahan cemoohan teman-teman lelaki.

” Ih Mutia sekarang ke sekolah bawa termos.. Mau jualan apa mau sekolah?? “

Daaann… berbagai celotehan lainnya. Tapi memang dasarnya saya ini cuek, ya tak diambil hati. Toh ini pekerjaan halal, pikir saya waktu itu. Dan ternyata, mereka yang dulu mengejek akhirnya malah jadi langganan tetap saya. Hihi.

Alhamdulillah pihak sekolah terutama wali kelas sama sekali tidak melarang saya untuk berjualan, bahkan mendukung. Satu momen yang tak terlupakan adalah ketika saya sedang duduk di bangku lapangan menghitung uang hasil jualan hari itu, tiba-tiba Bapak Wali Kelas mengagetkan saya dari belakang,

” Nah, Mutia.. lagi apa? “ sambil tersenyum.

” Hehe, ini pak lagi ngitung uang es, “ jawab saya malu-malu. Lalu beliau bertanya tentang berapa keuntungan bersih saya setiap hari, berapa rupiah yang saya dapatkan dari setiap es yang laku terjual, dsb.

Kemudian tanpa diduga, beliau memegang pundak saya, ” Bapak bangga sama kamu, Mutia.. Kecil-kecil udah bantu orang tua jualan, bisa tambah-tambah uang saku sendiri.. Bahkan kamu tetap bisa berprestasi di sekolah. Nggak perlu malu, jualan seperti ini nggak hina kok. Semangat ya Mut… “ ujar beliau sambil tersenyum.

There I was, stiffly speechless. Mata saya berkaca-kaca. Rasanya saya terharu… sekali. Kata-kata itu sepertinya sederhana namun sangat berarti bagi saya. Beliau, yang saya anggap sebagai Bapak di sekolah. Dukungan dari beliau sangat memotivasi saya untuk terus melangkah. Terima kasih, Pak..🙂

Orang tua mendidik saya sejak kecil untuk menghargai arti uang. Uang, tidak diperoleh begitu saja, melainkan harus diusahakan. Bila ingin sesuatu, saya harus menabung. Mengumpulkan sedikit demi sedikit, menyisihkan uang saku.. baru deh kemudian memetik hasilnya. Saya ingat benar, kelas 3 SD saya membeli tas ransel gambar CareBears dari hasil tabungan sendiri, tanpa meminta dari orang tua. Dan apa yang kita beli dari hasil keringat sendiri, jauh lebih bernilai ketimbang sekadar menadahkan tangan pada orang tua.

” Kalau mau mendapatkan sesuatu, ya harus berkorban.. ” begitu kata Ibu saya dulu.

Setelah menyelesaikan sekolah, saya ikut kursus menjahit. Yang terpikirkan saat itu adalah, saya ingin membuka lapangan pekerjaan, bukan menambah daftar calon pekerja di perusahaan. And yes, I’m truly falling for this subject. Saya suka sekali menjahit.

Walau cuma penjahit rumahan, namun karena dikerjakan dengan sepenuh hati (ceilee..) maka terasa sangat menyenangkan. Hasilnya pun lumayan, apalagi sebelum menikah dulu hampir saja saya tidak pernah ‘libur’, atau sepi order. Alhamdulillah selalu ada saja, sampai baju saya sendiripun tak kunjung selesai dikerjakan😀

Setelah menikah, otomatis saya tersibukkan dengan urusan rumah tangga. Well, everything never be the same again. Saya hanya menerima sedikit saja, bahkan sekarang mulai meng-cut beberapa pesanan karena khawatir tidak bisa meng-handle. Lagi-lagi karena kesibukan, maklum saya tidak punya asisten dan tidak mau, hehehe. Insya Allah setelah anak-anak agak besar saya bisa memulai lagi, seperti dulu. Menjahit itu ngangenin, sih…

Impian saya, ya… sederhana saja. Ingin punya usaha sendiri, butik pakaian muslim yang syar’i. Suami pernah bertanya ketika kami sedang membahas tentang rencana masa depan, ” Kalau Neng, rencananya pengen buka usaha apa? “ dengan mantap saya jawab, ” Buka butik, A.. “. Teteuupp😀

Sebenarnya, tak perlu nunggu modal gede juga sih kalau mau berwirausaha. Every big thing started from little things, right? Adik saya, contohnya. Dengan modal dan skill yang dipunyainya, ia buka usaha jahit-menjahit, jualan es, jualan kain, jualan pulsa, jualan makanan kecil. Saya salut dengannya. Semangatnya berwirausaha walau kecil-kecilan, patut saya tiru. Pandai memanfaatkan kesempatan, cermat dalam melihat peluang, sekecil apapun.

Dari yang kecil-kecil justru kita belajar jatuh, lalu bangun, jatuh lagi, bangun lagi, sampai pada akhirnya menempa mental wirausaha menjadi mental sukses. There is no shortcut to success. Quote yang sangat saya suka sekali…

Dalam hal ini, saya dan suami punya pandangan dan cita-cita yang sama, yaitu berwirausaha. Seringkali saya memotivasi beliau, memberi semangat untuk menyiapkan diri, untuk membuka usaha sendiri. Yah, banyak di antara para suami yang masih maju mundur untuk ‘bakar kapal’ alias resign dan memulai usaha sendiri, karena kurangnya dukungan dari sang istri.

Alhamdulillah sekarang suami mulai serius dengan side jobnya sebagai freelancer di bidang design interior. Dan mudah-mudahan tak lama lagi bisa mendirikan jasa design interior sendiri🙂

Saya percaya rezeki itu datang dari Allah, untuk mereka yang mau berusaha mendapatkannya. Bukankah Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi Wa Sallam juga berdagang? Dan sukses? Dengan memulai wirausaha sejak muda, maka pengalaman, skill dan mental akan lebih terasah. Time will give you that all.

Dan yang perlu kita ingat, entrepreneurship is not a Job , entrepreneurship is about Mindset.

You don’t need to leave your primary job pretty soon, but you prepare yourself for it. Prepare for freedom of doing what you wanna do, not what you told to. Prepare to be an entrepreneur.

Semangat berwirausaha!🙂

~ Jakarta, on a windy afternoon of March 2012.. never ever give up, the power of dreams.

[ image source: FlickR ]

5 thoughts on “Be An Entrepreneur :)

  1. uwooo setuju banget bacanya buuuu🙂 ayo berwirausaha🙂 aku pun skrg ngejalanin kecil2an jualan baju, tp berasa bgt passionnya lebih ke jualan dibanding ke kerjaan, jauh bgt rasanya mau kerja kudu dtg jam 9 dengan mau ke supplier ambil baju jam 6 pagi, padahal harusnya lebih ringan yg 1 tp hati lebih ringan ke yg 2. Kalopun jd enterpreneur, smg jadi enteroreneur yg jujur, professional dan memajukan ummat yaa bu🙂 aamiin.. barakallahu u keluarga mu, dua jempol untuk ‘bakar kapal’nya. smg bertambah keberkahan keluargamu🙂

    • aamiin.. allahummaa aamiin, wa fiykum barakallaah..

      ah alhamdulillaah.. semoga berkah ya bu usaha barunya, mudah2an kecondongan itu tanda diberkahinya usahamu yang baru ^^ tapi sekarang blm resign kan ya? salut euy, bisa manage dua duanya ^^ kapan2 main ah bu insya Allah, pengen liat baju2 baby, hihi…

      • belum resign bu, secara hitung2an kebutuhan rumah tangga masih menuntut untuk kerja😀 iyaa bu capek banget emang managenya, pulang kerja ngerjain rekapan pesenan, pagi2 ngirim barang (walau blm setiap hr) kadang pagi2 suka ada tetangga yg beli2 juga, tp alhmdh semangat ngerjainnya, jd menikmati aja, tp kasian Filah aja sih makin berkurang waktunya sm aku, makanya rencana kedepan mau buka toko aja sekalian cr pegawai jd bisa dihandle sm pegawai, tp masih hitung2an bu, mohon doa nya yaa bu, kamu jg yaa bu jasa design suamimu smg makin ok, begitu jg cita2 u buka butik muslimahnya🙂 semangat buu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s