Waktu Kita. . .

Waktu sejenak bersama anak-anak sebelum tidur adalah saat-saat yang penuh makna

Sharing pengalaman hari ini, saling bercerita, menghafal do’a…

Berbagi tatap mata, pelukan, ekspresi-ekspresi cintaku untuk mereka

Saat-saat seperti ini, yang mungkin suatu saat nanti akan kurindukan…

Continue reading

Are You Really My Friend?

two hearts

Are you really my friend?

I sit with you all day …
I spend all my time with you
I reach out to you when I am bored… or have nothing to do
I call you to have fun or just hang around
I call you when I need a shoulder…
I call you when I am down

But are you really my friend?
That’s my question to you
Something you need to answer… if you are really true

Do you stop me from all evil and prevent me from all vice…
Or do you assist me in it with your immoral advice?
Do you take me to the Masjid and remind me it’s time to pray…
Or do you say, ‘You can pray later…, it’s perfectly okay’?

Continue reading

Ibnu Qayyim Berkata Tentang Cinta

bougainvillea

“ Cinta yang terpuji adalah cinta yang bermanfaat..
Yaitu kecintaan yang mendatangkan manfaat bagi pemiliknya..
Di dunia dan di akhiratnya.

Cinta semacam inilah yang menjadi sinyal kebahagiaan.
Adapun cinta yang berbahaya adalah yang mendatangkan bahaya baginya..
Di dunia dan di akhiratnya,

Dan itu merupakan sinyal kebinasaan dirinya. ”

~ Ibnu Qayyim dalam ad- Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 229 ~

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Google ]

Akhlak Mulia Pada Istri Tercinta

lovely home..

Alhamdulillahi wahdah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah..

PROLOG

“Masya Allah, akhlak pak anu bagus banget lho!”  kata seorang bapak-bapak ‘mempromosikan’ rekan kerjanya.

“Buktinya apa pak?”  tanya lawan bicaranya.

“Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi kalo sedang berhadapan dengan bosnya!”  jawabnya.

“Wuih, bu anu akhlaknya baik banget!”  komentar seorang ibu-ibu tatkala membicarakan salah satu tetangganya.

“Darimana ibu tau?”  tanya temannya.

“Itu lho jeng, kalau di arisan RT, dia tuh ramah banget!”  sahutnya.

Begitulah kira-kira cara kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak seseorang. Sebenarnya, pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang jeli. Sebab, sangat memungkinkan sekali seseorang itu memiliki dua akhlak yang diterapkannya pada dua kesempatan yang berbeda. Berakhlak mulia di satu tempat, tetapi tidak demikian di tempat yang lain. Itu tergantung kepentingannya.

Lantas, bagaimanakah Islam membuat barometer penilaian kemuliaan akhlak seorang itu? Tulisan berikut berusaha sedikit mengupas permasalahan tersebut.
Continue reading