Ghadhul Bashar Terhadap Dunia

flowers..

Sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah seorang tetangga. Kemudian si pengendara masuk ke halaman depan. Tak lama si empunya rumah melongok dari pintu, “besok aja bang, lagi nggak ada duit nih!”. Laki-laki yang rupanya tukang kredit tadi pun kembali menuju motornya lantas memacunya pergi.

Well that’s not an illustration of a daily life, but a reality I often find from the next door🙂

Wanita (baca: ibu-ibu) rasanya memang identik dengan yang namanya BELANJA . Diakui atau tidak, cap itu rasanya benar adanya. Kebalikannya, para pria biasanya tak terlalu suka belanja, apalagi menemani si wanita belanja selama berjam-jam😀

Saya sendiri sebagai wanita suka berbelanja. Selain karena sifat wanita, ya memang pekerjaan sehari-harinya belanja. Dan, siapa sih ibu-ibu yang nggak suka dengan kata Diskon? Sepertinya nggak ada deh.. Dan bukan monopoli ibu-ibu saja, bapak-bapak juga kok. Yah, fitrah manusia banget deh suka membeli dengan harga murah, dengan mengharapkan kualitas yang oke. Okesip.

Dan sebagai ibu negara yang memang tugasnya berbelanja setiap bulan, ke pasar modern atau tradisional, tentunya godaan untuk menghamburkan uang itu (baca: belanja) seakan melambai-lambai di depan mata. Apalagi saat awal bulan aka tanggal muda.

Jadi teringat nasehat dari seorang pakar perencanaan keuangan, “Bagaimana Anda menghadapi godaan di awal bulan, menentukan kondisi keuangan Anda di akhir bulan.” 

Nah. Ada betulnya juga sih, walau sebenarnya bagi mereka yang cermat mengatur keuangan, istilah tanggal muda-tanggal tua sebenarnya tidak berlaku. Karena, baru gajian ataupun tidak, cara mereka mengatur uang tetap sama. Nah bagaimana dengan yang kurang bisa menahan godaan, baik di tanggal muda maupun tua?

Bahkan, di saat ‘tiris’ pun, godaan itu tetap menghampiri lho. Contoh paling sederhana ya tadi, godaan kredit barang. Kredit panci, baju, alat elektronik bahkan gadget sekalipun. Dari mulai abang tukang kredit keliling sampai Mal besar yang menawarkan cicilan dengan embel-embel menarik. Dan yang sering silau bisa dipastikan adalah ibu-ibu seperti saya ini. Walaupun ada juga pria yang hobinyaa… membeli barang dengan sistem kredit.

Saya sendiri, tidak terlalu suka kredit barang. Karena buat saya kredit = berhutang. Dan saya tidak suka berhutang kecuali kepepet. Sepertinya ada tanggungan yang bikin gelisah aja kalau punya hutang. Hidup juga jadi kurang tenang. Nggak enak lah pokonamah…

Prinsip yang ditanamkan dalam keluarga sejak kecil adalah jika ingin sesuatu, berkorbanlah. Mengumpulkan rezeki yang didapat sedikit demi sedikit, bersabar, kemudian baru memetik hasilnya.

“Sebisa mungkin hindari berhutang untuk sesuatu yang tidak perlu..” pesan Ummi.

Pernah suatu saat ketika saya dan tetangga sedang duduk-duduk di depan rumah, ditawari baju, lucu-lucu sih sepertinya.. Tapi segera saya tolak secara halus, “nggak deh Mang, belum butuh..”. Si Mamang pantang menyerah, “coba aja atuh dilihat-lihat dulu, Teh..”. Yaahh.. pikir saya dalam hati. Kalau udah lihat dan nggak jadi beli, saya justru nggak tega atuh Mang😀

Kadang, godaan itu justru timbul dari melihat-lihat lho. Yang tadinya nggak minat jadi minat, yang tadinya nggak yakin bisa bayar jadi yakin. Yah kalau memang butuh sih nggak pa-pa .. Tapi kalau cuma ‘ingin’? Nah disini pentingnya kita mengevaluasi lagi niat kita beli suatu barang, “sekadar butuh atau ingin?”. Kemudian, “harus segera atau masih bisa ditunda?”. Rethink and reconsider. Well, the real battle is within ourselves, then. :))

Teringat sebuah nasehat dari seorang ummahat di kolom sebuah majalah keluarga Islam beberapa tahun silam..

“Ghadhul bashar itu, bukan hanya kepada lawan jenis saja. Tapi juga kepada dunia dan gemerlapnya. Ambillah seperlunya. Semakin dirimu mampu menundukkan pandangan dan memangkas keinginan terhadapnya, maka jiwa akan semakin tenang. Tak lagi silau dengan apa yang bukan milikmu. Hati tak lagi lelah akan hiruk pikuk dunia dan orang-orang yang mengejarnya…”

Jleb. Bahkan bagi saya yang waktu itu belum menikah. Zuhud terhadap dunia. Tidak semua yang dimiliki orang lain, harus kita miliki juga. Tak akan ada habisnya mengejar dunia. Karena dunia itu laksana air laut.. semakin engkau meminumnya, semakin engkau merasa dahaga.

Apa yang menyebabkan para pegawai berani bertindak korupsi? Karena tamak akan dunia. Karena selalu merasa kurang. Karena selalu memandang pada apa yang dipunyai oleh orang lain, bukan apa yang sudah dipunyai. Karena kurangnya keyakinan bahwa dunia ini.. tak sebanding nilainya dengan sehelai sayap nyamuk.

What to be noted is, beli sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan kemampuan. Jangan sampai, saking nggak bisanya ngerem keinginan, dikejar-kejar hutang, dikejar tukang kredit, dibikin pusing oleh tagihan kartu kredit. Bahkan meninggal dalam keadaan meninggalkan hutang, kasihan kan ahli waris kita.. Kalau memang merasa tidak sanggup bayar, ya jangan maksa harus beli.

Memperkaya diri dengan sifat qana’ah. Merasa cukup dengan apa yang ada. Bersyukur dengan nikmat-nikmatNya.. Jika Allah saja tidak membebani diri kita di luar kesanggupan, lalu mengapa kita justru sebaliknya?

“Ya Rabb, letakkanlah dunia di tanganku.. Tapi jangan letakkan ia di hatiku.. “

~ pagi yang mendung di timur Jakarta, pengingat diri agar senantiasa dalam kesederhanaan….

[ image source: FlickR ]

8 thoughts on “Ghadhul Bashar Terhadap Dunia

  1. masyaa Allaah, mba… ini jleb sekali…

    “Ya Rabb, letakkanlah dunia di tanganku.. Tapi jangan letakkan ia di hatiku..

  2. suka banget sama post ini. apalagi aku nih yg mulai mulai kepengen macem2. hayok ibu2 mari godhul bashar kalo di mall😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s