Dunia Kecil Itu Bernama Jurnal Harian

Di suatu sore selepas berbuka puasa, sesuatu secara tak sengaja membawa kenangan saya  ke masa lampau, mengingatkan saya akan kebiasaan yang sering saya lakukan dulu.. menulis jurnal harian di atas kertas, sebelum tidur. Tiba-tiba saja jadi kangeeennn… banget dengan masa-masa itu. Sesuatu yang setelah menikah sangat jarang bahkan sekarang sama sekali tidak pernah saya lakukan.

Menulis jurnal harian adalah hobi sekaligus kebiasaan saya semenjak SMP. Guru bahasa saya pernah bilang, “sering-seringlah menulis.. walau hanya catatan pribadi di buku harian.. semakin sering kalian menulis, maka kemampuan berbahasa, menyampaikan ide dan keterampilan mengolah kata akan semakin terasah..”.

Dan karena sejak kecil saya suka sekali menulis, maka menuangkan ide, cerita dan kejadian sehari-hari di atas kertas bukanlah hal baru bagi saya. Apalagi yang ditulis sifatnya pribadi. Upclose and personal. Disimpan di tempat khusus pula. Jadi ga perlu malu kalo ada yang baca, hehehe..

Banyak manfaat yang saya peroleh dari rutinitas menuliskan kegiatan di jurnal harian. Sebagai bahan refleksi diri dan muhasabah, sarana mengenal konsep diri, hingga merupakan milestone atas fase-fase dalam kehidupan saya. Sesuatu yang berharga untuk dikenang. Bukankah menulis itu merapikan kenangan?

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga saya remaja bahkan setelah dewasa. Tak terhitung berapa lembar kertas yang saya habiskan. Ya walau banyak ga pentingnya, hehehe. Tapi semakin dewasa apa yang ditulis pun mulai berbeda. Ya, seiring dengan bertambahnya kedewasaaan (ceilee..) maka isi pikiran pun berubah. Saya banyak menulis tentang hidup dan perjuangannya. Apa yang saya lihat, dengar, rasakan. Semuanya adalah sumber inspirasi yang layak saya ambil ibroh dan hikmahnya. Seperti kata pepatah,

“Kita tidak akan mungkin dan bisa mengalami semua hal yang terjadi pada semua orang. Oleh karenanya, lihat, amati dan belajarlah dari pengalaman orang lain..”

Namun, setelah menikah dan mempunyai anak, otomatis kesibukan pun bertambah. Ada pergeseran prioritas yang tak dapat dihindari. Jika dulu sebelum tidur saya selalu menyempatkan ritual wajib ‘facial’ ala home treatment atau duduk menulis jurnal harian.. Kini kadang justru tak sadar sudah terlelap ketika menidurkan si kecil. Jurnal harian? Nomer kesekian. Bahkan mungkin tak pernah tersentuh lagi. But well, dear people.. I’m not complaining. My life has changed. A lot. But I feel truly blessed, and complete.

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimush-shalihaat… :’)

Tapi kini.. saya merindukannya. Ya, rindu dengan suasana sebelum tidur tiap malam itu. Cahaya redup yang hanya berasal lampu meja belajar. Disitu tiap malam saya duduk, membaca dan menulis, kadang menjahit juga (jika ada deadline). Hanya ada kesunyian, kertas dan pulpen. Begitu tenang, begitu hening, begitu damai. Bisa dibilang itulah tempat beristirahat favorit saya dari segala kesibukan dan kepenatan sehari-hari. Suasana kamar yang temaram membuat saya semakin betah berlama-lama menikmati dunia kecil saya. My heaven. My daily journal. Yes, just me and my thoughts..

Ketika blog dan media sosial begitu menyita perhatian saya akhir-akhir ini. Hello.. apa kabar pulpen? Apa kabar buku? Ada sesuatu yang tak tergantikan dengan semua kecanggihan itu. Rasa yang berbeda. Menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Seperti halnya excitement ketika kita membaca buku yang baru dibeli, membuka lembar-perlembar, menghirup wangi khasnya.. sesuatu yang tidak tergantikan dengan e-book maupun artikel online. Jika saya sempat menghabiskan waktu berjam-jam di Facebook, Twitter, WordPress atau Tumblr.. harusnya saya juga punya sedikit waktu untuk si kertas dan pulpen. Sahabat sejati yang setia menemani saat era internet belum meraja seperti sekarang ini.

Ya, saya berjanji pada diri sendiri untuk melepas rindu pada mereka. Insya Allah. Menyempatkan waktu untuk menulis, dalam arti yang sebenarnya. Saya rindu perasaan lega setelah menumpahkan rasa di atas kertas. Saya rindu pulpen, saya rindu jurnal harian. Saya rindu melihat tulisan tangan saya sendiri. Sesuatu yang terasa sangat kaku saat memulainya lagi, ya karena terlalu lama saya tinggalkan. Saya rindu malam-malam penuh keheningan itu.

Yes, just me and my thoughts…

~ aku dan jurnal harianku, menjelang tengah malam, di sepertiga akhir Ramadhan….

[image source: Tumblr]

3 thoughts on “Dunia Kecil Itu Bernama Jurnal Harian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s