Bila Wanita Bekerja di Luar Rumah

bila wanita bekerja di luar rumah..

Kehidupan adalah perjuangan, sedangkan perjuangan itu bermacam-macam medannya. Dan bahwa wanita mampu melaksanakan kewajibannya secara sempurna bila ia memiliki kedewasaan berpikir, kecerdasan yang tajam, tekad jujur, kemauan tinggi dan ketabahan menghadapi beragam kesulitan.

Seperti layaknya Khadijah binti Khuwailid, yang juga seorang ibu sekaligus pedagang.

Ia mengandalkan diri sendiri dalam mencari rezekinya dan rezeki anak-anaknya. Ia terjun dalam dunia bisnis secara total hingga memperoleh keuntungan melimpah yang ia pergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyumbangkan kepada kaum fakir di sekitarnya, baik kepada orang yang datang kepadanya atau orang yang ia ketahui keadaannya entah termasuk kerabat atau bukan.

Tidak ada salahnya wanita mencari sendiri kebutuhan hidupnya berdasarkan firman-Nya,

“Dialah yang telah menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu kembali setelah dibangkitkan.” (Al-Mulk 67:15)

Sasaran ayat ini adalah umum, meskipun laki-laki lebih berhak mencari nafkah dibanding wanita. Tapi bila ia juga berusaha mencari rezeki seperti laki-laki —semoga Allah memberkahi usahanya—, barangkali ia dapat menyedekahkan hartanya yang akan dicatat dalam lembaran amal baiknya.

Namun, mengenai hukum wanita terjun di dunia kerja di luar rumah, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi, diantaranya:

  1. Tidak ikhtilat dengan kaum laki-laki,
  2. Pekerjaan sesuai dengan tabiat wanita,
  3. Tidak menelantarkan tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga,
  4. Pakaian harus sesuai dengan jilbab syar’i,
  5. Izin suami bagi yang telah memiliki suami, dan izin wali bagi yang tidak bersuami,
  6. Tidak memiliki orang yang dapat mencukupi kebutuhannya,
  7. Pekerjaan sangat dibutuhkan masyarakat, sementara tidak ada laki-laki yang dapat melakukannya,
  8. Pekerjaan dilakukan pada lingkup wanita saja,
  9. Tidak ada ketimpangan tanggung jawab, dimana seolah-olah wanita merebut dunia laki-laki.

Perlu diketahui, Khadijah tidak menjalankan bisnisnya secara langsung. Sebab, ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan di masa itu. Ia menggunakan jasa para lelaki yang telah terbukti sifat amanah dan keterampilan mereka dalam berdagang dan mengenal pangsa pasar.

99% rezeki terdapat dalam perdagangan, sebagaimana disebutkan dalam atsar.

Dan andai ia tidak menggeluti dunia perdagangan, ia tidak akan mengenal Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan baik. Dan diantara berkah perniagaannya adalah pernikahannya dengan beliau sebagai pernikahan terbaik yang terdokumentasi dalam sejarah umat Islam.

~ Dikutip dari buku Bidadari 2 Negeri, Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, Bab 8 hal. 141-142.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Anna Hwatz on FlickR ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s