Memaafkan, Merelakan, Melupakan

forgiving is relieving..

Bismillaah..

Ibroh hari ini dari percakapan dengan seorang kawan:

Sesungguhnya hidup dalam dendam itu capek dan bikin rugi..

Memendam dendam dan sakit hati terus menerus itu sama saja seperti meminum racun..
Tapi berharap orang lain yang mati.

Bila kita beriman sepenuhnya pada qadha’ dan qadar juga adanya yaumul hisab..
Maka tak perlu mendendam.
Bukankah segala yang menimpa kita, baik maupun buruknya..
Adalah ketentuan-Nya? Sesuatu yang takkan terjadi tanpa izin Allah..

Dan bukankah kita meyakini bahwa ada hari pembalasan?
Bahkan perbuatan sekecil biji sawi-pun tidak luput dari perhitungan.

Siapa yang hatinya tak pernah disakiti? Everybody is.
Tapi hanya orang-orang berjiwa besar yang mampu move on dan melanjutkan hidup.
Karena hidup mereka begitu berharga untuk disia-siakan memikirkan sesuatu yang seharusnya tak perlu dipikirkan.

Buat apa menyediakan sebuah ruang di hati kita..
Untuk seseorang yang tak pantas menempatinya?
Bahkan walau hanya sebuah ruang untuk melampiaskan kebencian.
Alangkah lebih bermanfaatnya jika ruang itu diisi dengan hal-hal dan orang-orang yang lebih positif.

Ketika kita dizhalimi, di tengah ketidakberdayaan..
Biar Allah saja yang membalas.

“Alaysallaahu biahkamil haakimin?
Bukankah Allah itu hakim yang paling adil?”

Setidaknya kita perlu bersyukur..
Kesulitan demi kesulitan yang kita lalui mengajarkan begitu banyak hal.
Menempa kita untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan tegar.
Mengajarkan kita untuk ‘legowo’ menerima apa yang tidak bisa diubah.

Bukankah Allah telah mengganti kepahitan itu dengan nikmat-nikmat yang tidak dapat kita dustakan?

Maka nikmatilah hidup.. isi dengan hal-hal yang bermanfaat.
Yang tak bermanfaat, klik delete —> send to recycle bin.

Karena kita tidak hidup untuk masa lalu.
Kita hidup untuk hari ini dan esok.

“Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.” (Tere Liye)

Tapi satu hal yang pasti..
Memaafkan, tidak sama dengan melupakan.
Manusia bisa memberi maaf, tapi tak pernah bisa dipaksa melupa..

Tapi, kita bisa belajar merelakan.
Merelakan bahwa apa yang terjadi pada kita, adalah bagian dari takdir-Nya.
Dan tidaklah Ia menggariskan sesuatu, melainkan pasti ada hikmah di baliknya.

Ya, bahkan kepedihan mengajarkan kita satu hal,
Belajar untuk survive dan bangkit dari keterpurukan.

Past is past. It cannot be undone. Never look back. Put your face forward. Step ahead. Learn the lesson. Make sure what happened yesterday makes you stronger, braver and wiser.

Jadi, apa gunanya untuk SELALU menengok ke belakang?
Bukankah sekarang dan masa depan menanti di depan mata,
Sebuah kesempatan untuk kita lewati dengan sebaik-baiknya…
Agar tidak ada lagi penyesalan.

Allaahu Rabbi, so glad that I’ve passed that level of letting go.
Without You I’m nothing🙂

~ Just a bunch of thoughts in the middle of the night, March 17th, 2013
Originally posted in My Tumblr.

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: October Glory ]

2 thoughts on “Memaafkan, Merelakan, Melupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s