Anak Berprestasi atau Anak Berbakti?

anak berprestasi atau anak berbakti..?

“(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya..” (Syaikh Nashiruddin al-Albani Rahimahullaah)

Jika Anda sebagai orang tua, akankah Anda merasa senang ketika anak Anda menjadi anak yang berprestasi? Saya yakin semua orang tua pasti menjawab, “Iya”.

Karena memang prestasi anak adalah salah satu sebab kebanggan orang tua.

Jika Anda sebagai orang tua, akankah Anda merasa bahagia ketika anak Anda adalah anak yang berbakti? Tentu, karena setiap kita menginginkan anak yang berbakti.

Alangkah senang dan bahagianya, ketika orang tua memiliki seorang anak yang berprestasi lagi berbakti kepada orang tuanya. Itu adalah kenikmatan di atas kenikmatan.

Prestasi-prestasi dunia seperti kepandaian anak dalam pelajaran sekolah, atau kemampuannya mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan, dan lain semacamnya, maka hal-hal tersebut tidak berbeda dengan perkara dunia lainnya, bisa memberi manfaat namun bisa juga mendatangkan bahaya.

Prestasi itu akan mendatangkan manfaat ketika prestasi itu diarahkan sesuai dengan jalur syari’at Allah, tidak bertentangan dengan syari’at Allah, dan disertai dengan niat yang benar. Akan tetapi jika diarahkan pada jalur yang salah, atau disertai dengan niat yang tidak benar, maka bukan manfaat yang akan datang, melainkan malapetaka yang dikhawatirkan.

Dengan demikian, jangan sampai keinginan kita memiliki anak yang berprestasi malah menjadikan kita kehilangan kesempatan untuk memiliki anak yang berbakti. Akan tetapi jadikanlah anak kita anak yang berbakti, kemudian usahakanlah agar ia menjadi anak yang berprestasi.

Penjelasan di atas adalah jika kita memandang prestasi dalam hal keduniaan. Akan tetapi jika yang dimaksud dengan prestasi adalah prestasi anak dalam hal keshalihannya, yaitu dalam hal keimanan dan ketakwaannya, maka tentu kita katakan anak yang berprestasi adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Karena tidak akan mungkin seorang anak yang memiliki keimanan sempurna namun dia berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Karena kedurhakaan seorang anak menunjukkan kurang sempurnanya keimanan, ketakwaan dan keshalihannya.

Kita katakan keshalihan, keimanan dan ketakwaan anak adalah sebuah prestasi, bahkan kita katakan inilah prestasi yang sesungguhnya harus kita raih, karena sesungguhnya hakikat dari kemuliaan adalah kemuliaan di sisi Allah.  Sebagaimana firman-Nya..

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Maka prestasi hakiki yang diraih seseorang adalah ketika dia mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala.

Inilah prestasi yang hendaknya para orang tua berlomba-lomba dalam mewujudkannya. sehingga bagaimanapun kedudukan atau prestasi duniawi seorang anak, apakah di sekolahnya menjadi anak dengan ranking sekian, atau ketika besarnya hanya menjadi buruh saja, seandainya dia adalah anak yang bertakwa kepada Allah. Maka itu adalah prestasi besar yang patut dan sangat wajib kita syukuri..

Dan prestasi anak yang seperti inilah yang akan membawa manfaat bagi kita meski kita telah meninggal dunia.

“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka diabertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini?’  Maka dikatakan kepadanya, ‘(Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun) kepada Allah yang selalu diucapkan oleh anakmu untukmu.’ (Riwayat Ibnu Majah)

Jika demikian sisi pandang terhadap “prestasi” anak, tentu setiap anak yang berbakti adalah anak yang berprestasi.

Dan anak yang durhaka walaupun sukses secara dunia bukanlah anak yang berprestasi. Maka utamakanlah pendidikan anak kita untuk mewujudkan anak yang berprestasi dalam hal keimanan dan ketakwaan, tanpa harus melupakan prestasi dalam masalah keduniaan.

Anak ibarat kertas. Jiwa raga mereka adalah ukiran kita. Bagaimana kelak Allah akan meminta pertanggungjawabannya, semua kembali pada kita sebagai orang tua.. sebab kertas-kertas putih itu telah Allah percayakan kepada kita.

Sebagai orang tua kita tak bisa seenaknya. Mereka membutuhkan dampingan kita dalam perjalanan mereka. Ibarat mata air, dari orang tualah mereka mereguk teladan dan didikan. Dan bersama do’a langkah-langkah kaki mereka berlomba meraih bintang..

Allahul Musta’an… Rabbii hablii minash-shaalihin…

~ Dari rubrik lentera Majalah Nikah Sakinah ‘Anak Berprestasi atau Anak Berbakti?’  Vol. 12, No. 01 Edisi April-Mei 2013, dengan sedikit perubahan.

©aisyafra.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s