Selamat Datang, Anakku…

3 proses kelahiran, 3 buah hati, 3 pengalaman yang berbeda. Alhamdulillaah semuanya berhasil saya lewati dengan selamat melalui proses kelahiran normal tanpa ada halangan dan kesulitan berarti. Semuanya tak lepas dari pertolongan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah…

Pagi itu, 17 Juni 2013 .. diawali oleh hujan rintik-rintik, saya bangun dengan perasaan tak biasa. Entah mengapa pagi itu saya merasa lebih bersemangat dan fresh. Tapi juga merasakan mulas yang tak seperti biasanya, agak terasa nyeri. Sudah jauh-jauh hari bahkan ketika sehari sebelumnya saya menghadiri resepsi pernikahan seorang kawan, mulas itu sudah terasa. Tapi mulas pemanasan saja saya kira, sekadar kontraksi palsu.

Pagi itu pukul 7, saya baru sadar ternyata sudah keluar vlek. “Ok, it’s the day..” I said to myself. Sebenarnya persiapan juga belum rampung 100 persen, karena HPL masih 6 hari lagi. Tapi kemungkinan maju sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Qaddarullaah pagi itu suami ada rencana meeting dan survey proyek keluar, agak bimbang juga beliau meninggalkan saya di rumah dalam keadaan seperti itu, dengan dua anak kami (yang artinya otomatis saya jadi tak bisa istirahat untuk mengumpulkan tenaga menjelang proses bersalin nanti). Tapi saya bilang, “Nggak apa-apa A, jalan aja.. Insya Allah masih lama, mungkin sore lahirnya, masih bisa tahan kok. Tapi tolong usahain pulangnya jangan sore-sore, ya. Nanti biar ammahnya anak-anak nemenin kesini pulang dari sekolah..”.

Sepanjang pagi sampai siang, kadar mulasnya seperti stagnan saja. Tak ada banyak perubahan. Mulas sih, tapi saya masih bisa senyum-senyum, ketawa-ketiwi dengan adik sambil membereskan rumah dan menyiapkan perlengkapan untuk keperluan proses bersalin nanti. Tak lupa saya minum sereal coklat, ngemil kurma, donat dan makan siang dengan ketoprak pemberian adik untuk amunisi ‘bertempur’ nanti. Alhamdulillaah suami pulang sebelum Ashar dan membawa nasi padang menu rendang favorit saya. Masih bisa makan dengan nikmat, walau kadang mengernyit juga merasakan nikmatnya kontraksi, heheu..

Lepas Ashar saya putuskan ke bidan, mau cek sudah pembukaan berapa. Baru beberapa meter keluar dari rumah, saya melihat rombongan bermotor yang tak asing lagi. What, now? Ya, itu teman-teman saya (baca: ummahat funky yang begitu sehati dengan saya :D). Ckck.. dasar gokil, dimana-mana juga orang udah lahiran baru ditengokin, ini lagi mules-mules dateng bawa rombongan segede gaban. Akhirnya kami beserta adik plus keponakan-keponakan, plus ummahat funky tadi beserta anak-anak mereka ikut serta ke bidan. What an unforgettable moment with unforgettable people. Memang teman-teman saya itu tiada duanya. Btw, I love you guys! X))

Sesampainya di bidan, ternyata baru bukaan 2 menuju 3. Bidan memperkirakan masih lama, sekitar tengah malam. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja dahulu, sambil disuruh banyak-banyak jalan kaki agar bukaan cepat bertambah. Alhamdulillaah kliniknya hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Pas banget di dekat rumah ada pasar malam, sambil meringis menahan mulas saya coba melihat-lihat.. Kali aja ada yang unyu dan murah, heheheh.. *teteuupp*

Setelah muter-muter dan akhirnya nemu sepatu sandal super unyu warna pink buat kakak Aisyafra, saya pulang. Ummi datang dengan membawa bubur ayam, tak lama Abi datang juga. Saya sempat membuatkan Abi teh hangat, sambil ngobrol dan sibuk berjalan-jalan lokal di sekitar ruang tamu. Menjelang jam 9, mulesnya makin menjadi. Alhamdulillaah berarti bukaan nambah, pikir saya. Semoga sebelum jam 12 sudah selesai semuanya, karena saya ingin bayi ini lahir pada tanggal 17, bukan 18. No special reason, believe me :)

Menjelang jam 10, kontraksi terasa semakin dahsyat, walau interval masih 10 menit sekali. Setelah menitipkan anak-anak pada Ummi yang memutuskan untuk menginap di rumah kami, saya dan suami menuju klinik. Tak lupa saya memohon do’a dari Ummi tercinta, agar dimudahkan segala sesuatunya.

Saya ingat sekali, saat keluar rumah dan menutup pintu pagar, rembulan bersinar dengan indahnya.. Saat itu, sempat terfikir.. “Akankah rembulan esok malam masih dapat saya jumpai?”. Tapi pikiran itu cepat-cepat saya tepis sambil menguatkan hati, “Masih, insya Allah. Dan ada satu makhluk mungil yang akan menemani saya menikmati pesonanya..”

Sampai di klinik, ternyata baru bukaan 4. Saya membatin, kok lama sekali bertambahnya, tak seperti waktu Aisyafra dulu. Tak terlukiskan lagi apa yang saat itu saya rasakan. Jam 11 saya masuk ruang persalinan. “Pembukaan 7, bu.. Sedikit lagi..” . Sambil berbaring ke kiri dan kaki kanan diangkat lalu diturunkan, begitu terus.. *tips bagi yang mau melahirkan nih, supaya pembukaan cepat nambah, berbaring ke kiri sambil kaki kanan dinaik-turunkan* Insya Allah sudah terbukti waktu melahirkan Harits dulu. Kalau pas Aisyafra sih, nggak usah nunggu cepet banget nambahnya, sampai bidannya bingung dan panik karena belum ada persiapan :))

“Pembukaan 9..” . Tak lama ketuban dipecahkan. Alhamdulillaah pikir saya.. tak lama lagi berakhir sudah. Tapi ternyata dari pembukaan 9 ke 10 jaraknya lumayan lama. Si kecil belum mau turun juga. Sampai bu bidan bilang, “Ini anak ketiga tapi (proses) turunnya kayak anak pertama.. agak lama. Sabar ya bu.. “.

Saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Teringat teman saya yang sudah mengalami pembukaan lengkap, tetapi bayinya nggak mau turun juga. Sampai didorong oleh beberapa dokter. Setelah sang Ibu kehabisan tenaga, akhirnya dokter memutuskan untuk SC . Aduh rasanya, sudah (hampir) merasakan melahirkan normal, akhirnya di-SC juga. Qaddarallaah wa maa syaa-a fa’al.. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.

“Tapi masih mungkin lahir normal kan bu?” tanya saya terbata-bata. “Masih dong bu, udah sampai sini kok. Bismillaah, ayo semangat bu..” jawab bu bidan sambil tersenyum. Ya, insya Allah saya bisa. Dua kelahiran sebelumnya saya bisa, sekarang juga pasti bisa, biidznillaah.. “And this too shall pass, insya Allah..”

“Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.. Yaa hayyu ya qayyum birahmatika astaghits, laa takiini ilayya wa ashlih li sya’ni kullahu. Allahummaa laa sahla illaa maa ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa..”

Detik-detik terasa lama, rasa sakit semakin tak tertahan. Suami tak beranjak dari sisi sambil terus memijat punggung dan menyuapi air putih. Ya, saat itu saya merasa benar-benar bergantung sepenuhnya pada Allah.. Tiada yang dapat menolong kecuali Dia. Semua kenikmatan seperti hilang sirna, tak ada artinya. Sampai dua lutut ini bergetar menahan rasa sakit. Bibir pun tak lepas berdo’a.. “Yaa Rabb mudahkanlah..”

Tepat jam 11.45 , saya disuruh mengejan, yang artinya pembukaan sudah lengkap. Saya tak ingat pasti berapa kali mengejan, bahkan percaya atau tidak, saat mengeluarkan bayi itu.. sama sekali tak terasa sakit, jauh rasanya dibandingkan sakitnya menahan kontraksi.

11.50 . Tangis itu terdengar juga. Makhluk mungil yang dinanti itu telah hadir ke dunia. Memandangnya, segenap rasa sakit terbayar sudah. Selesai semuanya. Alhamdulillaah ia lahir dalam keadaan sehat, selamat dan sempurna, tanpa kurang suatu apapun. Suamipun terlihat begitu sumringah. Dan tampaknya, wajahnya duplikat beliau banget deh. Terutama mata dan hidungnya :)

18 Juni 2013: 1 am . Perut saya lapar sekali, setelah berjuang dengan tenaga terkuras habis. Ya, saya ingin makan sesuatu. Apalagi si kecil sudah asyik menyusu setelah akhirnya tertidur lelap. Akhirnya suami keluar sebentar mencari makanan. Tak lama beliau kembali dengan membawa sebungkus pecel lele.. Lahap benar saya makan waktu itu, sambil disuapi oleh beliau.

Ah rasanya lega tiada terkira. Tak sabar rasanya saya menunggu pagi, tak sabar ingin menghabiskan banyak waktu bersama makhluk mungil ini, tak sabar ingin bertemu Ummi, Abi adik-adik, keponakan, dan tak sabar melihat reaksi kakak-kakaknya ketika mereka datang esok.. Adik kecil yang dinanti itu telah hadir di tengah-tengah kami :)

Alhamdulillaahillaadzii bini’matihi tatimush-shaalihat.. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna..

fiqar newborn ^^

“Selamat datang anakku.. Selamat datang, Abdurrahman Dzulfiqar..” :)

“The moment a child is born, the mother is also born. She never existed before. The woman existed, but the mother, never. A mother is something absolutely new.”

~ Bingkisan kecil untuk putraku tersayang, 7 Juli 2013 ~

About these ads

7 thoughts on “Selamat Datang, Anakku…

  1. Mabruuk yaa Ukhti
    Ja’alahullaah mubaarokan li waalidayhi wa li ummati muhammad.
    Wa ja’alahu waladan shaalihan…

  2. Alhamdulillah…
    congratulation for ur 3rd baby :)
    Semoga menjadi generasi penerus sunnah, aamiin :)
    Barakallahufikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s