Hidayah Lewat Sebuah Hadiah

buku..

“Bila engkau mendapatkan kesempatan berbuat baik, lakukanlah kebaikan itu meski sekali, niscaya engkau akan menjadi ahlinya.” (Umar bin Qais)

Pada suatu hari, salah seorang dokter dari Inggris di rumah sakit tempatku bekerja yang juga seorang sahabat, berniat melakukan perjalanan pulang ke negerinya, karena masa kerjanya sudah habis. Kami berniat mengadakan pesta perpisahan sekaligus memberinya hadiah sebagai kenang-kenangan.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya kuputuskan untuk menghadiahinya sebuah barang tradisional (karena sahabatku ini dikenal suka mengumpulkan barang-barang tradisional). Dan atas saran seorang sepupu, kuhadiahkan juga sebuah buku tentang Islam yang kebetulan harganya sangat murah sekali.

Datanglah saat pesta perpisahan dengan sahabatku itu. Akupun menyerahkan hadiah tersebut. Sungguh itu merupakan perpisahan yang amat berkesan. Dokter itu memang amat disukai oleh rekan-rekan kerjanya.

Sahabat kami pun pergi meninggalkan kami. Hari demi hari pun berlalu. Bulan demi bulan juga berlalu demikian cepat. Aku pun menikah dan dianugerahi seorang putera.

Suatu hari, datanglah surat dari Inggris. Aku segera membacanya dengan perlahan. Surat itu ditulis dalam bahasa Inggris. Pada mulanya, aku memahami sebagian isinya. Namun aku tidak bisa memahami sebagian kata-katanya. Aku tahu bahwa surat itu berasal dari teman lama yang beberapa saat lalu bekerja bersama kami. Namun kuingat-ingat, baru kali ini kudengar namanya. Bahkan nama itu terdengar aneh di telingaku. Dhaifullah, demikian namanya.

Kututup surat tersebut. Aku berusaha mengingat-ingat sahabat bernama Dhaifullah. Namun aku tidak berhasil mengingat seorangpun dengan nama itu. Kubuka lagi surat itu, dan kembali kubaca isinya dengan tenang. Huruf demi huruf mengalir dengan mudah dan lancar. Berikut sebagian isi surat tersebut..

Saudara yang mulia, Dhaifullah.

Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh..

Allah telah memudahkan diriku memahami Islam dan memberiku petunjuk melalui kedua belah tanganmu. Tak pernah kulupakan persahabatanku denganmu. Aku selalu mendo’akanmu. Aku teringat dengan buku yang pernah engkau hadiahkan kepadaku di hari kepergianku. Suatu hari kubaca buku itu, sehingga bertambahlah kesungguhanku untuk lebih banyak mengenal Islam. Termasuk di antara taufik Allah kepadaku, di sampul buku tersebut aku mendapatkan nama penerbit buku itu.

Aku pun mengirim surat kepada mereka untuk meminta tambahan buku. Mereka segera mengirimkan buku yang kuminta. Segala puji bagi Allah yang telah menyalakan cahaya Islam di dalam dadaku. Aku pun pergi menuju Islamic Centre dan mengumumkan keislamanku. Aku ubah namaku dari John menjadi Dhaifullah. Yakni seperti namamu, karena engkau adalah orang yang memiliki keutamaan dari Allah. Aku juga melampirkan surat resmi ketika aku memgumumkan syahadatku. Aku akan mengusahakan pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan haji.

Dari saudaramu seiman, Dhaifullah.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Aku pun menutup surat tersebut. Namun dengan cepat kubuka kembali. Aku membacanya untuk kesekian kali.

Surat itu begitu menggetarkan diriku. Karena aku merasakan ikatan persahabatan pada setiap huruf-hurufnya. Aku pun menangis terus. Bagaimana tidak? Allah telah memberi hidayah kepada seseorang menuju Islam melalui kedua belah tanganku, padahal selama ini aku lalai dalam memenuhi hakNya. Hanya dengan buku yang tidak sampai lima Riyal harganya, Allah memberi hidayah kepada seseorang. Aku sedih sekaligus bahagia.

Bahagia, karena tanpa usaha yang keras dariku, Allah menunjukkannya kepada Islam. Namun aku juga merasa sedih terhadap diriku sendiri, kemana saja aku selama ini ketika masih bersama para pekerja tersebut? Aku belum pernah mengajaknya kepada Islam? Bahkan belum pernah mengenalkannya dengan Islam? Tak ada satu katapun tentang Islam yang akan menjadi saksi buat diriku pada hari kiamat nanti.

Aku banyak mengobrol bersama mereka dan sering bercanda dengan mereka, namun aku tidak pernah membicarakan Islam, banyak ataupun sedikit.

Allah telah memberi hidayah kepada Dhaifullah untuk masuk Islam, dan juga memberiku petunjuk untuk berintrospeksi diri akan keteledoranku dalam menaati Allah. Aku tidak akan meremehkan kebajikan sedikitpun, meski hanya dengan sebuah buku berharga satu Riyal saja.

Aku berpikir sejenak: Seandainya setiap Muslim menghadiahkan sebuah buku saja kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, apa yang akan terjadi?

~ Diketik ulang dari buku Akhirnya Mereka Bertaubat karya Abdul Malik bin Muhammad Al-Qasim, terbitan Darul Haq, halaman 12-15 dengan sedikit perubahan.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s