Yang Terbaik

crystal shaped heart

“Dan, bukan mengatakan : ‘Terimalah aku apa adanya..’  Tapi katakanlah, ‘Terimalah aku, aku akan berusaha menjadi yang terbaik semampuku..’ ”  (Tumblr)

Ketika masih single dulu, ada beragam harapan, impian, cita-cita dari A sampai Z  tentang bagaimana hidup berpasangan dengan orang yang saya pilih kelak. Yang saya yakin setiap orang pasti pernah memilikinya.

Contohnya saja, saya ingin sekali bertukar kata-kata romantis nan mesra dalam bahasa inggris. Ada apa dengan bahasa inggris? Selain karena saya menyukainya, juga karena hanya itu bahasa yang saya kuasai selain bahasa indonesia, ahaha😄

Tapi ternyata, orang yang saya pilih tersebut  tak terlalu suka dan fasih berbahasa inggris. Ia juga tak terlalu suka bergombal ria, merayu, menyatakan cinta lewat kata-kata. Beda banget dengan saya yang suka romantis-romantisan dengan syair dan puisi. Tapi bukan berarti saya suka digombalin ya, heheu… Those two things are totally different.

Saya juga berharap orang yang saya pilih itu menyukai tema yang sama dalam memilih buku bacaan, atau film kesukaan. Saya suka buku-buku yang mengupas kehidupan secara mendalam, sejarah peradaban dunia, kisah nyata penuh hikmah, sirah sahabat Nabi, hingga karya sastra klasik dan buku detektif yang—lagi lagi berbahasa Inggris.

Saya suka jenis film yang memerlukan perenungan panjang, yang bikin mikir. Bukan film yang dinikmati dengan hanya duduk santai: sit, relax and enjoy. Mungkin film dengan genre sci-fi   atau psychological thriller.

No, any love-sinetronized-cheesy movie is definitely not my cup of tea.

Ternyata orang yang saya pilih itu, lebih suka majalah atau bacaan ringan, buku-buku Fiqih atau anything yang berkaitan dengan profesinya, yaitu dunia design interior. Genre film kesukaannya adalah yang ‘cowok’ banget. War, adventure and battle movie. Nah kan, beda banget😀

And so on and so on..

Jujur, di saat -saat pertama, keterkejutan itu ada. Dan merupakan sesuatu yang wajar saya rasa.  “Kok tidak persis seperti yang saya bayangkan ya?” .

Tapi.. haruskah saya terus menerus complain dan menuntut orang yang telah saya pilih tersebut agar memenuhi impian dan harapan saya seratus persen? Selalu memintanya untuk berubah seperti keinginan saya sebelum menikah dulu?

Well, ternyata ada hal lain yang tidak pernah saya impikan tetapi ia wujudkan dalam bentuk nyata, dalam segala tindak kesehariannya. Yang mungkin baginya, cinta lebih dari sekadar kata-kata.

Orang yang telah saya pilih itu.. Ia memang tak pernah mengirimkan bertangkai-tangkai bunga sebagai wujud rasa cinta, tapi saya tahu ia mencintai saya.. apa adanya saya. Tanpa banyak menuntut dan meminta. Walau kadang ia juga suka menyelipkan sebatang cokelat kesukaan saya di lemari atau meja sebagai kejutan kecil.

Ia mungkin tak tertarik dengan beberapa jenis buku yang saya baca, atau tema film yang saya gemari. Tapi kami bisa asyik duduk berdampingan membaca buku yang berlainan, sambil menikmati secangkir minuman kesukaan.

Ia juga bersedia menemani saya nonton, walau terus bertanya, “Ini ceritanya gimana, sih?” .  Lol.

Ketika lantai sudah mulai tak mengkilap lagi, tanpa saya minta ia sudah ke belakang menyiapkan pel dan segala perlengkapannya. Atau dengan sukarela membereskan ruang tamu yang penampilannya lebih mirip kapal pecah karena penuh mainan anak-anak.

Ia tak pernah segan untuk membantu mengasuh anak-anak. Memandikan anak-anak, menyuapi mereka, dengan sabar mengajari si sulung belajar, sampai mengganti popok si kecil. Ia juga selalu tahu cara terbaik meredakan emosi saya ketika tengah meninggi.

Ia memang tak jago masak, dan tak terlalu suka masak, tapi ia tak keberatan saya titipi catatan untuk belanja di warung atau ke pasar ketika saya sedang repot-repotnya dan tak sempat belanja. Ia juga tak pernah mengeluh ketika saya tak sempat memasak dan hanya menyediakan menu seadanya saja.

Dan pasti, masih banyak lagi (hal baik) yang dilakukannya, yang tak pernah saya impikan sebelumnya atau bahkan saya minta.

Akhirnya saya menginsyafi, ternyata begitulah caranya mencintai saya. Sederhana, apa adanya. Ia mencintai saya, tanpa perlu menjadi seseorang yang bukan dirinya. Atau mengesankan dirinya lebih dari yang sebenarnya.

Ia mencintai saya dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya. Ia romantis, dengan caranya.

“Pilihlah seorang pasangan hidup yang ketika bersamanya kamu tak perlu bersusah payah menjadi seorang sempurna yang bukan kamu.” (Tia Setiawati Priatna)

Ya, saya lantas sadar bahwa hidup, terlebih-lebih, cinta.. adalah tentang penerimaan. Menerima ketidaksempurnaan, menerima apa yang tidak bisa diubah. Keberadaannya sendiri di sisi saya adalah sebuah karunia yang tak pernah habis saya syukuri.

Maka nikmat Allah mana lagi yang saya dustakan?

Not everything you want, is everything you need. Boleh jadi dia yang Allah pasangkan untuk kita, memang tidak seperti yang kita inginkan. Tapi selalu tepat seperti yang sesungguhnya kita butuhkan. Jika selalu saja fokus pada kekurangannya, kapan kita bisa melihat dan menyadari, bahkan mensyukuri kelebihannya?

For me, love is to compromise. Relationship is about accepting that no one is flawless.

Tapi bukan berarti menutup diri ke arah perubahan yang lebih baik. Kalau kita bisa, why not? Apalagi perubahan itu membuat belahan jiwa yang kita cintai menjadi lebih bahagia…

Ya, berubah menjadi seperti yang diimpikannya.. Menjadi yang terbaik untuknya, tanpa harus kehilangan jati diri. Dengan segala keunikan yang dipunyai, tetaplah menjadi diri sendiri saja. Be you.. be the best version of yourself.

“Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.”  (Tere Liye)

Bukanlah pasangan itu yang selalu sama segala sesuatunya. Tapi pasangan itu seperti sepasang sepatu, saling melengkapi satu sama lain. Bila satunya hilang, ia tak lagi utuh adanya. Dan seseorang yang telah saya pilih itu.. adalah sepotong kepingan lain, yang membuat saya merasa lengkap dan utuh.

Alhamdulillaah.

~ Cibubur di suatu pagi, untuk separuh jiwaku.. sebentuk refleksi sederhana di awal tahun ketujuh kebersamaan kita🙂

© aisyafra.wordpress.com

 

[ image source: Getty Images ]

15 thoughts on “Yang Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s