Home: A Little Piece of Heaven

a cozy place named home :)

Istana bagi seorang wanita adalah di rumah suaminya. Tempatnya tumbuh dewasa, belajar, mengajar, bereksperimen dengan hal-hal baru, membangun dan merawat cinta dengan keluarga kecilnya.

Rumah, adalah ruang paling lapang untuknya berlabuh dari segala kepenatan dunia. Tempat yang paling nyaman untuk kembali pulang, sejauh apapun kakinya melangkah. Tempat yang paling indah untuk  menua bersama yang tercinta.

Rumah, juga adalah hijab terbaik. Di dalamnya kita terlindungi, terjaga dari berbagai macam kemudharatan yang akan dijumpai saat kita melangkahkan kaki ke luar rumah. Di antara hikmah tetap tinggalnya seorang wanita di rumahnya, adalah untuk melindunginya dari berbagai fitnah.

“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sebagai ibu rumah tangga dengan banyaknya tugas dan jam kerja yang durasinya 24 jam sehari, 7 hari sepekan, saya tidak menafikan bahwa menjadi IRT alias Ibu Rumah Tangga juga bisa dilanda rasa bosan. Seperti wanita yang memilih untuk berkarir di luar, yang juga bisa merasa bosan dengan rutinitasnya.

Ibu rumah tangga, juga manusia. Di balik ke-super-annya sebagai multitasking person, ia juga bisa merasa capek dan jenuh. Bagi seorang IRT, yang namanya bebenah dan mengurus rumah beserta segala isinya itu, mulai dari melek mata sampai merem lagi.

Kadang pas lagi merem juga masih dituntut untuk ini dan itu, misalnya ibu-ibu yang punya bayi. Menyusui, mengganti popok sampai begadang ketika anak sakit.

Motherhood.. is truly a full-time job

Banyak para wanita yang mengeluhkan tentang betapa jenuh dan membosankannya jadi ibu rumah tangga.

“Di rumah aja? Emang nggak bosen? Trus mau ngapain?”.

Well, noted that: “Mau ngapain?”😄

Saya sendiri saking banyaknya yang dikerjakan di rumah, sampai nggak sempat hanya untuk sekadar bertanya, “mau ngapain?”.

Banyak banget lah buuu… Kalau dijembreng di mari, nggak bakal kelar seharian bacanya.. #oke ini lebay #abaikan

Kembali ke laptop, yaitu ke masalah kebosanan menjadi seorang IRT. Merasa jenuh dan bosan itu, rasanya wajar banget. Dan nggak cuma IRT aja.

Tanya aja para suami yang tiap hari kerja keluar rumah, menekuni pekerjaan yang sama, melewati jalan yang sama, berjuang melawan kemacetan yang sama. Setiap hari. Kecuali hari libur tentunya. Sejujurnya, mungkin mereka juga merasa bosan dengan rutinitas harian yang itu-itu saja.

“Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah.

Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya. Mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita.

Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. ”

(Asy syaikh Ibnu BaazKhatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)

Allah telah menciptakan manusia sesuai dengan kodratnya masing-masing. Pria, diwajibkan keluar rumah mencari nafkah. Berpanas-panas ria, menerjang hujan, berjuang untuk tetap survive di tengah kerasnya persaingan hidup, belum lagi resiko kecelakaan berkendara yang makin meningkat dari hari ke hari.

Karena sesungguhnya Allah mengetahui.. pria sanggup untuk menghadapi semua tantangan itu, dengan sebaik-baiknya.

Sebaliknya, seorang wanita, tempatnya adalah di rumah. Mengurus rumah, mendidik anak-anak, menyediakan keperluan keluarga mulai dari makanan dan pakaian. Mendamaikan anak-anak ketika berebut mainan, membujuk si kecil yang rewel tak tahu apa maunya di masa tantrumnya, membereskan rumah yang rasa-rasanya tidak pernah benar-benar beres, sekalinya beres pun.. dalam beberapa menit sudah berantakan lagi.

Lagi-lagi, karena sesungguhnya Allah mengetahui.. kita sebagai wanita, sanggup menghadapi semua tantangan itu, dengan sebaik-baiknya.

Bosan, penat, jenuh? Manusiawi kok. Tapi semuanya tergantung pada kita..

Bagaimana memenej kebosanan itu agar tidak berkepanjangan.

Bagaimana menciptakan suasana rumah yang nyaman biar nggak gampang bete.

Bagaimana menenangkan hati agar always stay calm walau anak-anak asyik berteriak dan berlarian kesana kemari sementara rumah porak poranda seperti habis diterjang badai tornado.

And this is the hardest part, I must admit. #lol

Saya sendiri, ketika rasa capek dan bosan itu menghampiri, akan mencari kegiatan lain yang bikin fresh.. Sesuatu yang bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah. Sesekali tak masak seharian, makan di luar bersama suami dan anak-anak, rihlah bareng keluarga besar, mengajak anak-anak main ke taman dekat rumah..

Melepaskan kejenuhan juga bisa dengan melakukan hobi, misalnya membaca buku yang bermanfaat, ngobrol bareng tetangga sebelah rumah, mendatangi majelis ilmu, ngumpul dan ngerujak sama teman-teman sesama ummahat, menjahit, menulis, nge-blog, menyendiri sambil ngopi-ngopi cantik atau ngemil makanan kesukaan..

Tinggal di rumah bukan berarti kita menutup diri dari kemajuan dunia luar. Kita bisa mengikuti perkembangan informasi dari media (tentu yang shahih dan terpercaya), kita bisa meng-upgrade skill dan pengetahuan dengan banyak membaca, menulis dan berkumpul dengan mereka yang memiliki banyak kesamaan ide dan sudut pandang.

“Jika suatu hari kita menjadi full timer ibu rumah tangga, bukan berarti kita akan menjadi kuper sama sekali, tidak. Kita tetap bisa menjadi ibu yang cerdas dengan banyak membaca dan menyerap pengetahuan dari mana pun, mengikuti seminar, memilih tontonan televisi dan siaran radio yang berkualitas, melakukan hobi, dan bergaul dengan ibu-ibu lainnya yang menghasilkan kebermanfaatan.” (Terinspirasi dari kalimat Asma Nadia dalam buku Sakinah Bersamamu, via superbmother)

Seorang mahasiswi pascasarjana jurusan Komunikasi sebuah PTN favorit di Jakarta yang beberapa waktu lalu mewawancarai saya terkait dengan tugas kuliahnya, merasa kaget melihat saya: seorang ibu rumah tangga dengan dua balita yang berpenampilan seperti ini, punya blog pribadi, bahkan akun Twitter dan Facebook.

“Lho memangnya kenapa mbak, kok heran?”  tanya saya.

“Ya, saya pikir orang-orang seperti mbak yang memilih untuk berpakaian seperti ini dan tinggal di rumah itu, tertutup (mungkin maksudnya menutup diri) dari dunia luar, nggak mau kenal dan melek teknologi..”,  jawabnya malu-malu.

Saya sih mesam-mesem aja. Hehe.

Seorang full-time mother juga bisa mengaplikasikan keahlian yang dipunyainya tanpa harus meninggalkan rumah, mengorbankan rasa malu dan bercampur baur dengan mereka yang bukan mahramnya.

Berbisnis dari rumah, membuka toko kecil-kecilan, menerima pesanan kue, katering, jahitan jilbab, baju dan kerajinan tangan, mengelola online shop sampai menjadi freelancer seperti penerjemah lepas atau designer interior. Menghasilkan tanpa perlu melalaikan tugas dan kewajibannya, tanpa harus kehilangan momen-momen berharga bersama anak-anak tercinta.

There are sooo many ways to make your home feels like the comfiest place on earth. Saya pribadi, selain karena memang anak rumahan yang nggak terlalu suka ‘kelayapan’ kalau nggak perlu banget.. Bagi saya, rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk menghabiskan waktu.

Home is a little piece of heaven, a worldly pleasure Allah has sent for women like us. There is nothing like staying at home for real comfort

Jadi, bagi yang merasa nggak betah tinggal di rumah karena bosan atau jenuh, yuk sama-sama menata ‘surga kecil’ itu menjadi tempat ternyaman mulai saat ini. Terlebih lagi menata hati dengan keyakinan penuh bahwa apa yang Allah peruntukkan bagi manusia, adalah yang terbaik untuk manusia itu sendiri. Begitu juga saat Allah memerintahkan para wanita untuk tetap tinggal di rumahnya.

Bagi para suami, dukunglah para istri agar senantiasa betah di rumahnya. Dengan membantu meringankan pekerjaan mereka, menciptakan suasana rumah yang nyaman, memberikan perhatian-perhatian kecil sebagai wujud rasa cinta.

Mengajak mereka rutin mendatangi ta’lim dan kajian ilmiah, menyediakan bacaan-bacaan yang bermanfaat, memilihkan teman-teman shalihah untuk mereka dan bersabar atas ketidaksempurnaan mereka sebagai ratu dalam rumah tangga.

Dear husbands, we’re only human after all..

“Suami yang baik bukanlah suami yang hanya memenuhi kebutuhan jasadiyah istri dan keluarganya, tapi juga memenuhi kebutuhan ruhiyah mereka. Misalnya mentarbiyahnya, mendukungnya untuk hadir di majelis-majelis ilmu, menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang ketaatan kepada Allah. Hal tersebut merupakan bentuk syukurnya atas nikmat berkeluarga.” (Majalah Al-Mawaddah edisi Januari 2010)

Dan ketika rasa bosan, penat dan jenuh itu menghampiri, ingatlah selalu surga dan pahala besar yang menanti, jika kita ikhlas menjalani peran mulia ini..

“Being a full-time mother is one of the highest salaried job, since the payment is Jannah, insha Allah..”

there is no place like home..

~ Jakarta, 22 Oktober 2013, ditulis oleh seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang -alhamdulillaah- selalu merasa betah tinggal di rumahnya. بَيْتِيْ جَنَّتِيْ …  ♥

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Getty Images ]

10 thoughts on “Home: A Little Piece of Heaven

  1. Kyaaa, sama banget mbaaa, saya juga dari kecil adalah anak rumahan, jadi betah-betah aja di rumah, bahkan ketika Asma’ belum lahir saya juga sendirian di kontrakan selagi suami kerja. Di rumah juga adaaa aja kerjaan, jadi alhamdulillaah ga bosan😀

    • Wah sama dek.. Aku dulu pas baru nikah juga gitu, betah banget di rumah.. padahal ga ada TV dan jaringan internet, palingan baca buku, denger radio.. Sampe buku yang udah dibaca, dibaca lagi saking banyaknya waktu luang. Sekarang? Boro-boro.. Hihi malah curcol :))

      • Hihii, setelah ada krucil krucil jadi makin bejibun ya mba agendanya di rumah. Ini saya aja baru satu udah kewalahan, apalagi kalo udah tiga kayak mba meut *doh*
        Harus pintar bagi-bagi waktu nih mba, huhuhu

        • Hihi iyaaa.. Kalo nggak bisa bagi waktu ya keteteran semua kerjaan. Prioritas tetep kerjaan rumah, suami dan anak-anak.. Tapi tetep mencuri waktu untuk me time dan meng-upgrade skills, krn IRT itu dituntut untuk cerdas dan up to date🙂

  2. klo saya kok smp saat ini blm bisa ya nemuin cara spy tinggal di rmh tanpa marah2 sm anak2.Jenuh yg luar biasa.mau dtg ke majelis ilmu g bisa.krn g ada yg dititipin.dn g bisa dengerin jg krn anak saya aktif.jd pasti cm di luar.blm lg ditinggal suami kerja di luar kota.smp sabtu minggu pun tdk ada rehat bwt saya.

    • Coba sering2 ajak anak2 keluar untuk rihlah, mbak. Nggak perlu jauh2.. Yg bikin kita dan anak2 fresh dan happy aja. Kalo kita kembali ke rumah dlm keadaan rileks, insya Allah mood kita akan kembali baik.

      Jenuh sesekali wajar.. Kalo berkepanjangan pasti ada sesuatu yang perlu dievaluasi kembali, untuk kemudian diperbaiki. Sangat perlu untum mengkomunikasikan hal ini dengan pasangan. Karena ibu yang jenuh dan tidak bahagia, akan berdampak pada anak2 juga, sekarang atau nanti.

      Semoga Allah mudahkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s