Merekatkan Ukhuwah

ukhuwah fillah

“Kita semua, anak Adam, pernah melakukan kesalahan. Dalam dekapan ukhuwah.. Kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, satu sisi bertuliskan, ‘Akuilah kesalahanmu..’  Sisi lain berukir kalimat, ‘Maafkanlah saudaramu yang bersalah..’.”  (Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah)

Hakikat ukhuwah itu bersandar pada iman, maka ada keselarasan antara iman dan ukhuwah. Jika ukhuwah bermasalah, maka periksalah imannya. Seperti halnya kehidupan, perjalanan ukhuwah juga penuh lika-liku. Tak ada ukhuwah yang sempurna.

Ukhuwah…

Di dalamnya terdapat ujian dan goncangan. Seringkali ia terasa hambar, tak ada lagi manis tersisa. Seringkali ia retak dan rusak hanya karena hati salah satu, atau kedua-duanya, berpenyakit. Kejinya lisan, keangkuhan, prasangka, egoisme, dendam, sakit hati hingga iri dengki. Dan untuk sesaat, hilanglah segala ingatan tentang kebaikan saudaranya.

Pesan seorang Ulama’…

“Memiliki SATU musuh sudah sangat banyak, mempunyai SERIBU teman masihlah kurang.”

Terpisahnya dua orang yang tadinya saling mencintai, boleh jadi disebabkan karena satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. Penyakit hati itu memang tak terlihat, tapi Allah berkenan menampakkannya lewat lisan dan perbuatan.

Serapat dan serapi apapun seseorang menyimpan penyakit hati, apalagi memendam bara permusuhan dengan saudaranya, walau hanya dalam hati.. Suatu saat akan Allah tampakkan juga, bila ia tidak segera bertaubat darinya.

Hati ini lemah, sedang fitnah dan syubhat menyambar-nyambar. Hati ini rapuh, rentan akan penyakit. Ketika fitnah dan penyakit itu meracuni hati, ada dua pilihan:  Membiarkan, memupuknya agar tumbuh subur..

Atau segera tersadar, mengobatinya dan memohon petunjuk Allah agar terlepas darinya, kemudian memperbaiki hubungan dengan saudara kita tersebut. Terserah kita.. mau pilih yang mana.

Mengutip sebuah tulisan di Tumblr yang pernah saya baca, sayang sekali saya lupa siapa penulisnya..

“Ada kebaikan-kebaikan yang hanya bisa diterima, yang hanya bisa terlihat kalau hati kita terbebas dari penyakit-penyakit hati.. Bahwa ada ketulusan-ketulusan yang hanya bisa dipahami kalau hati kita telah melepaskan dan memaafkan kesalahan diri sendiri dan orang lain di masa lalu..”

Ukhuwah sebenar-benarnya adalah menghendaki kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia menghendaki untuk dirinya dan membenci kejahatan yang ada pada saudaranya seperti membenci kejahatan itu menimpa dirinya. Berbuatlah kepada saudaramu sebagaimana engkau suka diperlakukan demikian.

Senantiasa berbaik sangka dan mencari udzur saat mendapati saudaranya berbuat salah, kerelaan hati untuk mengakui kesalahan, kesediaan untuk memaafkan, ikhlas dalam memberi nasehat, saling muhasabah dan ta’awwun ‘alal birri wat-taqwa..

Juga kesadaran bahwa tak ada satupun manusia yang sempurna.. tak ada hubungan pertemanan yang bebas dari masalah.. adalah faktor-faktor perekat ukhuwah fillaah.

“Kalau kau melihat atau mendengar tentang saudaramu sesuatu yang tidak berkenan bagimu, maka carilah 77 alasan untuk membenarkannya. Kalau 77 alasan itu tidak cukup, maka katakanlah pada dirimu sendiri bahwa saudaramu itu pasti memiliki alasan yang tidak engkau ketahui. ” (Abdullah ibn Mubarak)

Tali ukhuwah ini begitu erat, namun juga sangatlah rapuh. Hanya kekuatan cinta dariNya lah yang mampu menambah kuatnya ukhuwah. Mempertahankan ukhuwah, jauh lebih sulit dari menjalin ukhuwah itu sendiri.

Kepercayaan dalam sebuah ukhuwah layaknya sebuah cermin.. sekali ia retak dan pecah, walaupun telah diperbaiki.. tak akan kembali utuh seperti sedia kala.

Sesungguhnya ukhuwah, persaudaraan karena Allah itu, amat mahal harganya. Tak sembarang manusia bisa mendapatkan, merasakan manisnya, bahkan mempertahankannya. Ia begitu tak ternilai. Harganya tak bisa diukur dengan harta dunia. Dan karena ia begitu berharga, maka berhati-hatilah dalam menjaganya..

Ya Allah karuniakanlah kepada kami hati yang bersih dari segala penyakit hati dan hal-hal dapat menjerumuskan kami kepadanya. Dan jadikanlah iman sebagai landasan utama ukhuwah kami, agar ikatan ini kekal hingga ke surgaNya..

“Setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla, inilah yang kekal selamanya. ” (Tafsir Ibnu Katsir)

Untuk hati-hati yang pernah tersakiti, untuk jiwa-jiwa yang pernah terluka.. maafkanlah diriku bila pernah bersalah. Karena sesungguhnya, aku telah memaafkanmu lebih dulu..

ukhuwah..

~ Jakarta, Oktober 2013. Teruntuk sahabat, aku selalu mencintaimu. Lillaah, fillaah.. ~

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

4 thoughts on “Merekatkan Ukhuwah

  1. ‘afwan sepertinya ada yang kurang di
    “Setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla, inilah yang kekal selamanya. “ (Tafsir Ibnu Katsir)

    sepertinya kurang kata “tidak”
    CMIIW : ))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s