Menulis: Menebar Cahaya Pada Dunia

butterfly and pen..

Menulis adalah mengikat ilmu dan pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. Kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama, ilmu dahulu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak.

Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal, sekata tuk sealinea, sekalimat tuk sebab, separagraf tuk sekitab. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i: ilmu adalah binatang buruan dan  pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman, kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian, adakah kemajuan? Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran… kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.

Lebih lanjut, menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak, yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan dan penilaian. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan, tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.

Maka menulislah… agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu, maka ia berbalas tambahan pengertian, kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. Agungnya lagi, sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak.

Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan, percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.

Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?”

Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.”

Tulisan shahih dan mushlih, jadi jaring yang melintas segala batas, menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. Menulis juga bagian dari tugas iman, sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa dan ayat pertama berbunyi: “Baca!”

Tersebut di dalam sebuah hadits riwayat Ahmad dan ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman.. ..”Tulislah!”

anya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?”

Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.”

Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam dan membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata.. (QS 2: 31)  dan “Baca!”  adalah wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta.

Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam  hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan, dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya, wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah dunia. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami, tak tersia, tak jadi tragedi dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?

Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah: Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. Daya Ketuk ini paling berat dibahas, yang mericau ini pun masih jauh dan terus belajar. Ia masalah hati, terkait niat dan keikhlasan.

Pertama, marilah jawab ini:

  •  Mengapa saya harus menulis?
  • Mengapa ia harus ditulis?
  • Mengapa harus saya yang menuliskannya?

Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. Alasan kuat tentang diri, tema dan akibat dunia-akhirat jika tak ditulis, akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca… mengetuk, menyentuh, menggerakkan.

Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu.. IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala.

Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu, terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan, murni, bergizi, memberi tenaga suci dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertaqwa (QS 16: 66).

Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, kekayaan dan kemasyhuran, riya’ dan sum’ah. Jika ia berhasil dilampaui, jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. Sebaliknya, penulis tak ikhlas itu, tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah.. lalu disajikan pada pembaca.

Ya Rabbi… ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal:

a) pembaca muak, mual dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.

Atau lebih parah:

b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita, tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.

Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian. Agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca, bukan didapat dari wudhu’ dan shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata..

Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya, menggenapi semua keshalihan nan mengemuka.

Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf dan tergugah, tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak, jadilah masalah baru. Daya Isi adalah soal ilmu.

Mahfuzhat Arab itu sungguh benar: “Fakidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.”

Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi, membaca ayat-ayat tertulis, menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya dan membawakan makna ke alam tinggalnya. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi, tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi, mencerahkan akal dan hati.

Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang dan kedalaman tafsir. Dengan proses internalisasi, semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah, pembacanya mengasup ramuan bergizi.

Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’.

Tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami, agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.

Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih dan tertentu. Dia hubungkan makna nan kaya, fikih dan tarikh, dalil dan kisah, teks dan konteks, fakta dan sastra, penelitian ilmiah dan sisi insaniyah. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali.. tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri, tapi kian haus mencari.

Ia bawakan pemaknaan penuh warna, beda bagi masing-masing pembaca, beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu. Maka karyanya melahirkan karya, syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan bahkan bahkan bantahan.

Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur: dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. Sang penulis sejati juga memahami, banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”

Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!”  pasti berat dan membuat penat saat dibaca. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu.

Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.”

Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.

Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru, beribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu.

Inilah yang jadikan tulisan akrab dan lezat disantap, pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu dan rendah hati. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.

Lebih parahnya, keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis, ianya jadi kegenitan intelektual, inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.

Penulis sejati hayati pesan Nabi, bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka. Penulis sejati mengerti, dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja. Itupun tidak dalam rangka mengajari, tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi dan tambah data.

Penulis sejati juga tahu, yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.

Begitulah Daya Memahamkan, dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta.

Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!”  menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu dan rendah hati.

Kita lalu tahu… menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin: tebar cahaya pada dunia.

Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih dan saling menasehati.

Jika ada ‘amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya…

~ Disalin dari kultwit Salim A. Fillah dengan tagar

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: WeHeartIt ]

4 thoughts on “Menulis: Menebar Cahaya Pada Dunia

  1. Masya Allah. gak ada yang salh meski saya hanya bisa menulis melalui blog spt mbak.
    kultwit Salim A. Fillah memang selalu meyakinkan.
    lama tak buka twitter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s