Muslimah, Antara Menikah dan Menuntut Ilmu

niqab..

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan engkaulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)

Setelah menikah dan mempunyai anak, banyak di antara ummahat yang tak tampak lagi ‘beredar’ di majelis-majelis ilmu. Pertama hanya sepekan sekali, lalu menjadi sebulan sekali, kemudian sesekali saja ketika ada bedah buku dan tabligh akbar, hingga akhirnya menghilang tanpa jejak. Jika suaminya bisa mengajarinya di rumah, maka tak masalah, karena sebaik-baik guru bagi seorang wanita adalah suaminya. Namun bagaimana jika tidak?

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna dari ayat { وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ }yaitu menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri kalian. Sedangkan makna ayat { وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى }  yaitu  janganlah banyak keluar dengan bersolek atau memakai parfum sebagaimana kebiasaan orang-orang  jahiliyah sebelum Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Perintah tersebut bertujuan untuk mencegah munculnya kejahatan dan sebab-sebabnya. (Lihat Taisir Al Karimirrahman surat Al Ahzab 33).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan bahwa makna ayat di atas artinya tetaplah di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa ada kebutuhan. Termasuk kebutuhan syar’i yang membolehkan wanita keluar rumah adalah untuk shalat di masjid dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :‘Janganlah kalian melarang istri-istri dan anak-anak kalian dari masjid Allah. Namun, hendaklah mereka keluar dalam keadaan berjilbab.’ Dan dalam riwayat lain disebutkan : ‘Dan rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.” [Tafsir Al Qur’an Al Adzim tafsir surat Al Ahzab ayat 33 via web Muslim.Or.Id]

Menuntut ilmu adalah wajib bagi seorang muslim, tak terkecuali bagi muslimah. Alasan absennya para muslimah dari majelis ilmu setelah menikah biasanya karena sibuk dengan anak, banyak kerjaan rumah, kecapekan, repot ngurus side job..

Akhirnya kita, para muslimah, meremehkan urgensi menuntut ilmu syar’i, duduk di majelis-majelis ilmu. “Yah lihat nanti deh kalo sempat..” bukan, “Insya Allah harus disempatkan..”

Sesuatu yang menurut kita penting tentu akan diutamakan dan menjadi prioritas. Bukan kalau ‘sempat’, tapi ‘disempatkan’. Kadang, menyisihkan sedikit waktu untuk hadir di majelis ilmu sepekan sekali saja rasanya susah banget. Tapi kita bisa menyisihkan waktu tiap bulan untuk belanja dan makan-makan di food court atau mall dan bepergian ke tempat-tempat wisata untuk melepaskan kejenuhan.

Seakan waktu untuk ngaji dan menuntut ilmu adalah ‘sisa’ dari 7×24 jam yang kita punya, itupun kalau sempat dan nggak malas.

Salut sama ummahat yang rutin berangkat ta’lim walau harus naik angkot dan bawa banyak anak. Walau terpaksa tidak konsentrasi menyimak dan mencatat, walau kadang diselingi adegan lari-larian mengejar si anak.. setidaknya langkah-langkahnya keluar dari rumah telah dicatat sebagai amal shalih jika ia melakukannya ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala.

Tentu tiap kondisi disesuaikan dengan kemampuan diri. Jangan pula ‘memaksa’ untuk ngaji dengan membawa anak yang tipenya super aktif dan tak bisa diam di tempat yang sempit dan tak ada arena untuk mereka beraktifitas. Karena alih-alih mendapat ilmu, bisa jadi malah mendapat keluhan dari jama’ah lain yang mungkin terganggu dengan ulah anak kita.

Pandai-pandailah membaca situasi, tak lupa cermat menyusun tips dan trik untuk ngaji dengan membawa anak, yang tentunya kita sebagai ibunya lah yang lebih mengetahui.

Dukungan penuh suami dalam hal ini sangatlah penting. Bisa dengan cara bergantian dengan suami dalam menjaga anak. Saya sering menerapkan cara ini, terutama saat baru punya anak satu dulu, dan masih terkaget-kaget dengan ritual ngaji membawa anak. Hehe.

Dan menurut pengalaman saya, dengan sering mengajak anak untuk duduk di majelis ilmu sejak kecil, akan lebih mudah baginya untuk terbiasa dengan lingkungan ta’lim.

“Sekarang waktunya ngaji ya nak, jangan lari-lari.. Duduk yang anteng ya..”.

Berusaha menyibukkannya dengan mainan, buku atau cemilan kesukaannya. Walau kadang trik ini juga tidak berhasil membuatnya bersikap manis, yeah at least you’ve tried.. menghibur diri🙂

Hadir di majelis ilmu bisa menghidupkan hati yang telah mati. Iman itu sifatnya naik turun, bisa bertambah dan berkurang. Apalagi kita, sebagai wanita, yang telah mafhum bahwa sifatnya ‘bengkok’ dan perlu sering-sering diluruskan.. Harus sering-sering diingatkan dan diberi nasehat, karena begitulah sifatnya wanita..

“إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة”

Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup) nya ”. [Riwayat Muslim no. 1468].

Ada hal-hal yang tidak didapatkan ketika kita hanya membaca buku atau mendengarkan rekaman kajian. Di antaranya meneladani akhlak dan adab sang da’i, bertemu dengan kawan-kawan sesama thullab, adanya ketenangan (sakinah) di dalam hati, membiasakan keluarga dengan suasana ta’lim serta mendidik mereka untuk mencintai ilmu, dan banyak manfaat lainnya.

Walau kini kecanggihan teknologi menyediakan berbagai sarana untuk menuntut ilmu, seperti buku, majalah, kaset, radio, TV, namun beda rasanya dengan datang langsung, mendengar, menyimak dan mencatat penjelasan dari ustadz. .

Beda sekali, saya sudah merasakannya. Ada keutamaan-keutamaan yang hanya bisa didapat ketika kita hadir langsung di majelis ilmu. Di antaranya rahmat Allah turun ketika kita duduk di majelis ilmu, malaikat turun memberi syafa’at dan ilmu pun terasa lebih masuk daripada cuma mendengarkan via audio MP3 atau visual via video rekaman.

Suami yang baik, tidak akan membiarkan keadaan iman istrinya stagnan atau mungkin futur. Karena istrinya adalah partner hidupnya, madrasah bagi anak-anaknya, maka ia harus cerdas dan shalihah. Begitu juga sebaliknya. Berdua, saling bersinergi untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ngaji berdua bareng pasangan, apalagi pas baru nikah itu nikmatttt banget, masya Allah. Salah satu surga dari surga-surga dunia. Apalagi kalo nanti ditambah hadirnya anak-anak. Komplit dah riweuhnya😀

Yaa walau mereka pasti bakal ‘ngerecokin’ dan nggak bisa diam.. Itulah seninya berkeluarga. Family time yang sangat berharga. Dinikmati aja. Repot, riweuh, susah fokus memang.. Tapi membiasakan istri dan anak menghadiri majelis ilmu aja udah dicatat sebagai pahala dan amal kebaikan di sisi Allah🙂

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah  ditanya,

“Bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan belajar kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya?

Beliau menjawab:

Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bisa diperoleh dengan mempelajarinya dari para ulama dan dari kitab. Karena, kitab seorang ulama adalah ulama itu sendiri, dia berbicara kepadamu tentang isi kitab itu. Jika tidak memungkinkan menuntut ilmu dari ahli ilmu maka ia boleh mencari ilmu dari kitab.

Akan tetapi memperoleh ilmu melalui ulama lebih dekat (mudah) daripada memperoleh ilmu melalui kitab, karena orang yang memperoleh ilmu melalui kitab akan banyak menemui kesulitan dan membutuhkan kesungguhan yang besar, dan akan banyak perkara yang akan dia fahami secara samar sebagaimana terdapat dalam kaidah syar’iyyah dan batasan yang ditetapkan oleh para ulama. Maka dia harus mempunyai tempat rujukan dari kalangan ahli ilmu semampu mungkin.

Adapun perkataan yang menyatakan: ‘Barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya.’

Perkataan ini tidak benar secara mutlak, tetapi juga tidak salah secara mutlak. Jika seseorang mengambil ilmu dari semua kitab yang dia lihat, maka tidak ragu lagi bahwa dia akan banyak salah. Adapun orang yang mempelajarinya bersandar kepada kitab orang-orang yang telah dikenal ketsiqahannya, amanahnya, dan ilmunya, maka dalam hal ini dia tidak akan banyak salah bahkan dia akan banyak benarnya dalam perkataannya. [Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dari web Abu Zuhriy]

Jika sewaktu muda dan single dulu kita rajin ngaji dan senantiasa haus akan ilmu, kenapa sekarang jadi ‘melempem’? Sibuk karena anak, suami, side job, pekerjaan rumah.. Kesibukan-kesibukan yang seakan tak ada habisnya.

Sungguh benar bahwa di antara anak, pasangan dan harta ada yang menjadi fitnah (cobaan) bagi manusia. Lalu, sampai kapan kita terus menunda? Sampai anak-anak besar? Bagaimana kalau adiknya lahir terus? Nggak ngaji-ngaji dong..🙂

Dalam kehidupan berumah tangga, menimba ilmu yang dilakukan secara kontinyu adalah ‘suntikan bekal’ untuk membangun rumah tangga sekaligus mendidik dan membesarkan anak. Dan jika kita tidak punya cukup ilmu, apa yang akan kita ajarkan pada anak-anak kita kelak? Bagaimana bisa memberi, jika tak memiliki..?

Karena menikah dan memiliki anak,
tak selayaknya menghalangi kita dari menuntut ilmu..

“Ujian sesungguhnya bagi ikhwan ataupun akhawat yang ketika masa lajangnya rajin ta’lim atau giat dalam da’wah adalah setelah menikah. Apakah dengan menikah ia makin terpompa semangatnya karena ada seseorang yang senantiasa mendukungnya dalam ketaatan kepada Allah.. Atau malah makin jarang mendatangi majlis-majlis ilmu, makin malas beribadah karena direpotkan oleh istri dan anaknya, hingga ia makin jauh.. makin jauh.. dan akhirnya terjatuh dalam kefuturan…” (Nasehat seorang Ustadz yang mengisi khutbah pernikahan saya 6 tahun lalu)

~ Jakarta saat hujan deras, 8 November 2013.. sekadar pengingat diri agar tak terjebak futur yang berkepanjangan.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Getty Images ]

2 thoughts on “Muslimah, Antara Menikah dan Menuntut Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s