Serunya Masa Kecil…

playing kites

Beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali ketika berjalan menuju pasar untuk berbelanja, saya mendapati tiga orang anak yang sepertinya masih berusia sekitar 5-6 tahun, duduk di beranda sebuah rumah.

Sedang bermain apa mereka? Oh ternyata mereka tengah berkutat dengan “tablet” masing-masing. Mereka duduk berdampingan, tapi tidak saling bicara. Ketiganya nampak asyik dengan apa yang dipegangnya.

Terus kenapa ?

Ya enggak kenapa-kenapa.. tapi jujur saja, saat itu di hati saya sempat terbersit sedikit rasa bahagia telah menghabiskan masa kecil di masa lalu. Tidak di masa sekarang, saat teknologi sudah secanggih ini. Dulu, pagi-pagi begitu biasanya saya dan kawan-kawan tengah asyik jalan-jalan pagi, berpetualang ke alam terbuka.

Hari libur, adalah hari yang paling dinanti untuk bereksplorasi dan bermain sepuasnya, walau hanya bermain di halaman bersama tetangga. Main congklak, engklek, karet, bekel, petak umpet, petak jongkok, hulahop, benteng, hmmm.. apalagi ya?

Karena sekolah saya dulu berdekatan dengan areal persawahan, hampir tiap sekolah usai saya dan teman-teman mampir kesana. Nyebur ke sawah, mandi di kali, menangkap ikan, manjat pohon kersen lalu duduk santai di puncaknya sambil menikmati buah kersen yang berhasil dipetik.

Walau itu artinya, saya akan dimarahi ibu karena pulang dengan baju yang kotornya minta ampun. Tapi kok ya waktu itu saya nggak kapok-kapok. Hahaha..

Jika anak zaman dulu setiap pulang sekolah biasanya makan siang, mengerjakan PR, tidur sebentar, lantas sorenya bermain keluar, maka anak zaman sekarang setiap pulang sekolah kembali berkutat dengan gadgetnya.

Menghabiskan waktu berjam-jam untuk main playstation, game online, berhaha-hihi dengan kawan-kawannya di Facebook atau chatting lewat gadget kesayangannya.

Dulu, bermain artinya berkotor-kotor ria, penuh keringat, muka, tangan dan kaki penuh debu. Menariknya, saya jadi sering mendapat kawan-kawan baru dari kampung sebelah, update jajanan-jajanan yang super enak sekaligus murah, atau permainan baru yang lagi ‘in’.

Acara kumpul bocah pun sering diisi dengan tukar menukar buku cerita, ngadu Tazos (yang besar di tahun 90-an pasti tahu nih), main ABC  lima dasar, menggambar bersama, bikin kapal-kapalan dari kertas, tak lupa cerita-cerita seru dan seram yang seringnya dikarang-karang sendiri.

Ah those good old days.. :’)

Kelompok anak laki-laki sih biasanya asyik sama robot-robotan, sepak bola, gasing, layangan, perang-perangan ala ninja dengan menggunakan sarung, atau main tembak-tembakan dari pelepah pisang dan main gundu di halaman.

two kids play video games

Mereka melompat dan berlarian dalam arti yang sesungguhnya, bukan belajar melompat dengan menekan tombol, atau berlari dengan jemari yang menari-nari lincah di atas layar.

Ya, dulu.. ketika bersosialisasi maknanya bertatap muka, mendengar suara, memperhatikan ekspresi lawan bicara, tersenyum dan tertawa.. semua dalam artian yang sebenarnya. Bukan hanya memelototi layar yang tak seberapa lebar, kemudian tersenyum dan tergelak sendirian atau  berkirim emoticon dan smiley untuk mewakili gestur tubuh dan mimik wajah.

“Kids are so obsessed with sitting inside and playing with their iPod Touch and it’s so useless. I watch my cousin, who’s six, and she sits on the couch and plays Scooby Doo with her friends on the iPad, and I’m like….. When I was six years old I was figuring out how to tie teddy bears to gate posts or flinging them over the banisters. I just think of all the fun things my sisters and I would do, all these fun memories that I have and my cousins won’t because they are sitting on the couch and video-chatting. My cousins aren’t having any childhood.” Suzannah, Age Thirteen

Kini, dimana lapangan dan tempat bermain di daerah perkotaan seperti Jakarta ini terasa begitu amat langka. Jarang ada lahan yang kosong dan tidak tertutup lantai beton. Coba saja lihat saat acara “Tujuh Belasan” tiap tahun, banyak yang menggunakan jalan utama untuk arena perlombaan. Lapangan rumput yang lega dan luas itu kini telah berganti dengan bangunan dan rumah-rumah penduduk yang terasa semakin padat saja.

Maka akhirnya, di tengah gedung-gedung menjulang yang sering kita sebut mall, banyak disediakan arena bermain yang berkonsep alam.. Ada pasirnya, perosotan, ayunan, pohon buatan, rumput buatan. Benar-benar tiruan yang mengagumkan. Tapi bagi saya, rasanya tak pernah sama dengan bermain di alam terbuka.

Kini, pendidikan atau sekolah berbasis alam dipandang sebagai sesuatu yang ‘wah’ dan cukup diminati, walau biaya masuk ke sekolah itu tak bisa dibilang murah.  Fasilitasnya lengkap, dari mulai wahana outbond, kelas memasak, kolam renang, tak lupa lahan luas untuk anak-anak belajar bercocok tanam.

Mungkin kalau zaman saya dulu sekolah alam ini sudah berdiri, saya tak akan kepingin-kepingin banget. Buat apa? Toh alam sekitar di daerah tempat saya tinggal sudah menyediakannya.. Gratis lagi nggak pake bayar. Bisa dijelajahi kapan saja saya mau.

Yes, nature is the original playstation.

play outside..

Kemajuan teknologi memang ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memudahkan kita dalam banyak hal. Banyak  aplikasi-aplikasi yang bermanfaat dan mendidik yang bisa kita dapati dalam sebuah gadget. Misalnya saja aplikasi anak muslim atau belajar calistung dengan warna dan suara yang menarik. Sangat-sangat membantu tugas kita sebagai orang tua dalam mengajari anak membaca, berhitung, mengenal dunia.

Bertanya tentang pelajaran sekolah atau PR ke teman saat hari itu tak masuk sekolah, tak perlu datang ke rumahnya. Cukup lewat pesan singkat atau telepon. Praktis dan menghemat waktu.

Anak-anak juga bisa bertatap muka dengan kakek dan neneknya yang terpisah ribuan kilometer menggunakan fitur video call  atau Skype.  Jadi tak perlu menunggu pulang kampung dulu untuk melepas rindu dan bersilaturrahim dengan kerabat tercinta.

Tapi di sisi lain, ada dampak negatif yang tidak dapat kita hindari. Dengan menjamurnya gadget, media sosial dan yang semacamnya, maka arus informasi menyerbu dengan begitu cepat, dari berbagia media. Sesuatu yang sulit untuk dibendung dan difilter lagi keshahihannya. Fakta dengan mudah dapat diputarbalikkan sesuai ‘pesanan’ yang berkuasa.

Dalam hal sosialisasi dengan sesama, gadget kadang justru mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Acuh terhadap sekeliling, apatis terhadap lingkungan. Ketika colokan listrik terasa lebih penting dari kehadiran orang terdekat.

Lebih suka bermain di kamar dengan menggunakan tablet, ponsel atau komputer pribadi, daripada bermain dengan kawan-kawannya di luar. Lebih memilih gadget daripada buku. Lebih akrab dengan kawan-kawan di dunia maya daripada kawan-kawan di dunia nyata, bahkan dengan kita, orang tuanya.

Kini hampir setiap anak usia pra-remaja yang tinggal di daerah perkotaan, punya ponsel pribadi dan akun media sosial. Ya, anak-anak seusia mereka yang sedang dalam proses pencarian jati diri dan besar rasa ingin tahunya. Yang belum bisa memilah dan memilih, mana pengaruh yang benar dan mana yang salah. Dan jadilah mereka anak-anak karbitan, yang tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Mungkin, boleh jadi, mereka justru bercermin pada kita, para orang dewasa, yang cenderung lebih suka menyapa teman-teman di dunia maya ketimbang berkunjung dan bercengkrama dengan mereka yang kita kenal baik di dunia nyata. Yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di depan sebuah layar kecil.

Yang lebih senang mengirimkan emoticon dan smiley ketimbang menggerakkan otot wajah dan tersenyum dalam arti yang sebenarnya. Yang kadang saat duduk berdampingan dengan sahabat, rekan kerja, keluarga atau pasangan sekalipun, perhatian kita tak pernah luput dari sebentuk benda mungil, sebuah tempat dimana teman-teman dari lain dunia itu berada…

“Don’t let technology let you miss out on your kid’s childhood. Don’t let your kids lose their childhood on the internet. For childhood is the most beautiful of all life’s seasons…”

Ya, tiba-tiba saya merasa amat bahagia sekaligus bersyukur menghabiskan serunya masa kecil,  di masa lalu..

childhood nowadays

~ Jakarta.. sesaat selepas hujan, November 2013..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

6 thoughts on “Serunya Masa Kecil…

  1. bener deh mbak, aku sendiri, nanti anakku gak boleh kenal gadget yang tab-tab-an itu kecuali mereka udah usia tamyis.. kalaupun kenal tab, mungkin fungsinya cuma bisa buat menonton video, membaca, tapi bukan main games. itupun dibatasi, semoga lebih cinta yang lainnya…
    soalnya, pernah mbak ada anak 3 tahun main ke kamarku dua sampai tiga kali, aku installkan mainan mengenal bentuk, ketagihan mbak… sampai nggak dengar panggilanku.. gak interaktif sama sekali.. *sedih dengan gadget u/ anak2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s