Mudahkanlah..

Ada berbagai macam tipe manusia dalam berjual beli. Penjual yang jujur, sabar dan murah senyum.. tentu lebih disukai pembelinya. Pembeli yang santun dan ramah tentu lebih disukai oleh para pedagang. Adab dan syarat berjual beli, tidak setiap orang mengetahuinya. Bahwa proses jual beli bukan hanya semata soal untung rugi, tapi terkandung banyak pahala dan kebaikan di dalamnya.

selling

Dari kacamata saya yang awam ini, ketika saya memposisikan diri sebagai penjual, misalnya.. Tentu saya lebih menyukai pembeli yang sopan dan paham adab-adab dalam membeli barang. Tidak menawar barang dengan sadis. Apalagi tetap ngotot menawar walau sudah dibilang, “maaf, nggak bisa.. modalnya aja nggak dapet segitu..”.

Pernah sekali waktu saya membeli sesuatu di pasar, setelah saya tawar dan ternyata boleh, saya iseng-iseng nanya ke penjualnya:

  • Saya : Bang, ngomong-ngomong ini bener ridho’ kan jual harga segini?
  • Abang : Ya ridho’ atuh neng, kalo nggak mah nggak bakal dikasih.
  • Saya : Kirain gitu bang, kalo emang nggak ridho’ bilang aja, biar sama-sama enak..

*si Abang cuma senyam-senyum aja sambil ngebungkus dagangannya*

Ya, keridho’an antara penjual dan pembeli itu penting artinya. Setidaknya buat saya. Pernah di waktu yang lain saya beli sayuran di pasar, dan iseng saya tawar karena belinya dalam jumlah banyak. Sempat melihat sekilas mimik muka si penjual yang agak kurang enak, seakan terpaksa.. Tapi karena waktu itu saya lagi buru-buru (karena meninggalkan bayi di rumah) jadi nggak sempat mikir kesitu. Sesampainya di rumah saya jadi kepikiran terus, terbayang-bayang..

Astaghfirullaah.. Akhirnya saya berjanji besok-besok tidak akan menawar kalau beli di penjual itu lagi.

Kita tak pernah tahu, barangkali memang si penjual sudah memberikan harga yang pantas, dengan hanya mengambil untung pas-pasan. Kita tak pernah tahu, di balik ngototnya seorang penjual mempertahankan harga barangnya, boleh jadi ada keluarga yang harus ia nafkahi. Sedang ia tak punya sumber penghasilan lain.

Seperti nasehat suami yang selalu saya ingat-ingat,

“Jangan selalu beli barang karena butuh atau murah, tapi belilah barang untuk menolong pedagang kecil, dan niatkan untuk sedekah. Karena dalam harta kita, ada hak orang lain..”

Ketika saya berada di posisi pembeli, tentu saya mengharapkan pedagang yang sabar dan tidak gampang emosi ketika kita banyak bertanya ini itu.. Bahkan ketika kita nggak jadi beli karena harga atau barang yang ada tak sesuai dengan keinginan, langsung menghadiahi kita dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Padahal belum ada akad terucap. Subhanallaah..

buying

Sebagai pembeli atau konsumen, rasanya sangat wajar jika saya akan lebih memilih penjual atau toko dengan pelayanan yang baik dan ramah daripada penjual yang jutek dan galak. Saya sendiri pernah pindah dari sebuah toko karena nanya ini itu dijawab sekenanya saja dan berlagak seakan tidak butuh pembeli. Padahal saya sudah berusaha bertanya sesopan mungkin. Maaf, masih banyak toko yang lain..

Atau ketidakjujuran penjual dalam menerangkan perihal barang dagangannya. Ada yang cacat atau sudah tak layak jual, sedang ia mengetahuinya, tapi tetap ia jual tanpa menerangkan cacatnya tersebut. Bahkan sampai bersumpah palsu demi melariskan dagangan, dan tak segan untuk mencurangi takaran dan timbangan..

Pernah sewaktu berjalan-jalan di pasar pagi Juanda Depok, di sebuah lapak baju anak-anak, saya melihat ada jaket bayi yang lucu sekali.

“Ini harganya berapa mbak?”  tanya saya.

“Itu aslinya 25 ribu, tapi karena ada jahitan yang lepas pas di ritsletingnya, jadi 15 ribu.. Bisa dibetulin kok, cuma perlu dijahit sedikit aja..”  kata penjualnya yang waktu itu saya lihat bercadar.

Sesampainya di rumah, saya jadi berpikir.. Sebenarnya tadi itu cacatnya nggak begitu kelihatan lho, saya aja nggak sadar kalau ada jahitan yang lepas. Penjual tadi bisa menjual dengan harga yang seharusnya tanpa menyebutkan cacat yang ada pada barangnya, tapi ia memilih untuk berkata jujur.

Masya Allah, enaknya bermuamalah dengan orang yang paham ilmu jual beli lagi bertaqwa, menentramkan.  Jadi sama-sama ridho’ dan tidak ada yang merasa ditipu atau dirugikan..

Tahukah para pedagang yang suka menipu, setelah barang sampai di tangan, maka si pembeli akan kecewa dan merasa tertipu. Bahkan mungkin, berjanji untuk tidak datang ke toko itu lagi. Nah, demi untung yang tak seberapa, malah kehilangan kepercayaan dari pelanggan. Apalagi jelas ancaman Allah atas perbuatan yang seperti ini..

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” (QS. al-Muthaffifîn : 1-6)

Juga ketika kita belanja dan bertransaksi lewat online, bila uang tak segera ditransfer oleh pembeli, atau pertanyaan kita tak segera direspon si penjual, bersangka baiklah, mungkin ia memiliki udzur..

Barangkali ada kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda sampai ia tak bisa mengirim uang atau menjawab pertanyaan dengan segera. Atau saat barang yang dipesan tak juga sampai, cobalah untuk bersabar, mungkin ekspedisi pengiriman mengalami kendala.

Pengalaman saya sebagi penjahit juga membuka mata bahwa karakter tiap pembeli atau costumer itu berbeda-beda. Ada yang maunya simple dan cepat jadi, ada yang kalau milih model dan bahan lamaaa sekali, ada yang cerewet sampai ke detail-detail terkecil, ada juga yang udah nanya ini-itu, bahkan pernah sudah terlanjur saya belikan bahannya, eh nggak jadi alias cancel.

Rasanya cukup manusiawi kalau ada sedikit rasa kecewa atau kesal, tapi saya menganggapnya resiko dalam berdagang, sekaligus pembelajaran. Saya percaya, rezeki sudah diatur dan ditetapkan.. Dan insya Allah kalau udah rezeki kita, nggak bakal lari kemana.

Jual beli, juga ada seninya. Ada berbagai cara agar aktifitas jual beli mendatangkan pahala dan keridhaan Allah. Di antaranya dengan memahami ada hak-hak antara penjual dan pembeli yang harus dijaga.. Ada kewajiban-kewajiban antara mereka yang harus ditunaikan.

Karena jual beli bukan hanya soal untung rugi, jual beli bukan kebutuhan salah satu pihak saja. Keduanya saling membutuhkan. Kalau tidak ada penjual, maka tidak akan ada pembeli, bukan?

Maka mudahkanlah.. jangan mempersulit. Agar tidak hanya ridho’ antara penjual dan pembeli yang diraih, tapi juga ridho’ dan keberkahan dari Allah Azza wa Jalla..

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual (dagangannya), ketika membeli dan ketika menunaikan utangnya.” (HR. Bukhari no. 2076)

~ Jakarta, suatu pagi di bulan Desember 2013.. semoga Allah memberkahi dan merahmati langkah-langkah kita dalam bermuamalah dengan manusia lainnya..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Mudahkanlah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s