Every Child is Special :)

every child.. is special

“Son, I love you. If you have any fears, come to me. So what if you slipped, failed? Don’t worry.. I’m there for you. “

Every child is special. Setiap anak punya keunikan tersendiri. Punya kelebihan dan kekurangan yang tak dimiliki oleh anak lainnya. Demikian juga dalam proses belajar, kemampuan mencerna hal baru, atau menganalisa suatu masalah. Dalam sebuah kelas atau kelompok bermain, ada beragam karakter anak.

Ada yang rajin, ada yang sedang-sedang saja. Jangankan dalam satu kelas yang lain ibu lain bapak, wong  dalam satu rumah, satu keluarga saja tiap anak punya keunikan tersendiri, kok.

Contohnya, saya dan adik saya yang usianya terpaut tiga tahun saja. Waktu kecil dulu, Ummi benar-benar menerapkan disiplin tinggi dalam segala hal. Bahkan saking disiplinnya, kami merasakan adanya tekanan dalam proses belajar. Tapi lain saya, lain pula adik saya.

Ketika saya merasa kedisiplinan itu agak membuat saya tertekan, walau akhirnya saya justru menikmati karena saya menyadari hal itu baik (bagi saya) dan memacu semangat belajar… Adik saya justru merasa sebaliknya.. no problemo, santai kayak di pantai.

Dia sih cuek aja, tertekan juga tidak. Bahkan tak jarang..  zzzZzz...  ia  jatuh tertidur saat kami asyik belajar bersama. Dan akhirnya sukses membuat Ummi ngomel-ngomel. Hahaha. Walau begitu, nilai-nilai pelajarannya tidak bisa dibilang jelek. Sedang-sedang saja lah, alhamdulillaah..

Reaksi seorang anak dalam menanggapi suatu hal, tentu berbeda antara satu dan lainnya. Demikian yang saya amati dari hasil menunggui si sulung sekolah selama beberapa bulan ini. Ada anak yang ketika diusili oleh temannya, hanya diam saja lantas pergi. Ada yang langsung bereaksi frontal, membalas dengan hal yang serupa. Ada juga yang menangis dan langsung mengadukannya pada bu guru. Kids oh kids..😀

Anak juga manusia. Layaknya orang dewasa, mereka pun tak ingin disamakan satu dan lainnya. Tiap mereka berbeda. Punya kecenderungan minat, bakat, sifat dan keahlian masing-masing. Ada yang dengan cepat belajar, menyerap dan menyimpannya dalam memori dalam waktu singkat. Ada pula yang butuh waktu untuk mengerti dan memahami apa yang disampaikan gurunya. Ada yang suka soal-soal dengan rumus dan berhitung, ada pula yang lebih suka menghafal.

“Pushing our children too much at school or expecting them to be first all the time can be very harmful to their mental, emotional and physical well being. So long as they have tried their best they deserve to be congratulated and encouraged further. In this way they will remain sane, happy and healthy.” (Mufti Ismail Menk)

Kita kadang, bahkan rasanya, seringkali hanya fokus pada hasil dan lupa untuk menghargai proses. Bahwa setiap pencapaian memerlukan waktu dan perjalanan yang berbeda antara satu anak dan lainnya. Saya sendiri, tak suka membandingkan anak saya dengan anak orang lain.

Anak saya adalah dirinya, bukan orang lain. Ia tumbuh dan dibesarkan dengan cara, situasi dan kondisi yang tak sama dengan anak yang lain. Maka adilkah jika kita terus membandingkannya?

Children. They are different. We are different. Then what’s wrong of being different? Can we imagine how boring this world can be when everything is just the same? Differences give us colors to our life. Teach us to appreciate and to complete one another.

child is like a butterfly..

Saya jadi teringat film yang pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu, sebuah film bertema pendidikan dan parenting berjudul “Taare Zaamen Par” atau versi inggrisnya, “Like Stars on Earth”.

Honestly, saya tak pernah suka dengan yang namanya film india, tapi film ini membuat saya jatuh cinta seketika. Film berdurasi panjang ini berhasil membuat saya memposisikan diri sebagai sang tokoh sentral : Ishaan, seorang anak berusia 8 tahun, penyandang dyslexia  yang dicap sebagai troublemaker  di sekolahnya, dianggap berbeda dan nyeleneh  di antara teman-teman sebayanya.

Ya, film ini sukses membuat saya terharu dan juga tergugah, sampai tak terasa menitikkan air mata. Tentunya lagu-lagu dan tariannya segera saya skip, hehehe. This must-watch-parenting movie, membuka mata saya bahwa untuk memahami sesuatu yang dilakukan seorang anak, sometimes we must put our feet in their shoes. It ‘s like.. slapped me right on the face. 

Ya, kadang agar kita, para orang tua, lebih dapat memahami alasan anak melakukan sesuatu (yang mungkin kita anggap salah), kita perlu sejenak memposisikan diri sebagai mereka. Memandang sebuah hal lewat kacamata mereka. Bertanya dan mencari tahu: mengapa mereka melakukan ini? mengapa mereka berperilaku seperti itu?

Bukan langsung menjudge mereka begini dan begitu. Karena sebenarnya mereka anak-anak.. bukan orang dewasa. Pola pikir dan cara pandang mereka berbeda dengan kita. Dunia di mata mereka tentu berbeda dengan dunia di mata kita, orang dewasa. Tidak membandingkan alam pikiran kita dengan mereka. Tidak menuntut mereka agar seragam dengan kawan sebayanya.

“Every child has his own capabilities, his own desires, his own dreams. But no. Each finger has to be pulled until it gets long. Pull away until it finally breaks. If you’re so fond of racing, then breed racehorses. Why have children? Forcing your ambitions onto the delicate shoulders of children. It’s worse than child labour. And what if the child can’t bear the load? When will we learn that each child has his own abilities? Sooner or later all of them learn. Each has his own pace. Five uneven fingers form a hand.”

Di balik ‘kenakalan’  seorang anak, pasti tersimpan sesuatu. Walau saya pribadi tak setuju dengan predikat ‘anak nakal’  atau ‘anak bandel’.  Dan seringkali, yang kita lihat dan sikapi hanya ‘kenakalan’  mereka saja, tanpa tahu mengapa mereka bersikap demikian.

Boleh jadi mereka menuntut perhatian lebih yang hanya bisa mereka dapatkan ketika mereka bersikap seperti itu, sebuah sikap yang sering kita cap sebagai ‘kenakalan’.

“Caring. It’s very important. It has the power of cure, a salve for pain, the child feels wanted. A hug, a loving kiss now and then, to show that I care. Caring. That’s what caring is, isn’t it?”

Terus mempererat hubungan pribadi dengan anak, mengenalkan anak dengan Rabbnya, selalu ada untuk anak kapanpun mereka butuh, tak putus-putusnya memotivasi mereka, tak segan memuji anak ketika mereka berperilaku baik.

Menerima mereka apa adanya dengan sepenuh penerimaan, tapi juga tak lupa untuk selalu cermat mengamati, mengasah bakat dan kemampuan yang mereka miliki, mengarahkan, serta membantu mereka untuk memaksimalkan potensinya.

Jangan sampai kita termasuk orang tua yang hanya fokus pada kekurangan, sampai melupakan bahwa mereka juga manusia.. yang juga punya kelebihan, punya mimpi dan cita-cita. Yang boleh jadi kita, sebagai orang tua, belum tahu. Atau mungkin tak pernah mau tahu?

Senang belajar hal-hal baru, semangat mengerjakan PR, gemar berbuat baik pada sesama, suka membantu orang tua, perhatian dan sayang pada saudaranya, rajin mengaji dan beribadah, pandai bersosialisasi, mau mengakui kesalahan, tak segan meminta maaf ketika bersalah adalah sisi-sisi baik anak yang mungkin sering abai untuk kita apresiasi. Karena menurut kita, ya memang sudah seharusnya seperti itu..

Teringat nasehat Ustadz Abdullah Zaen Hafizhahullah, jangan jadi orang tua pemadam kebakaran. Yang hanya bereaksi saat sudah terjadi sesuatu, tapi bersikap cuek saat segalanya tenang-tenang saja.

Jadilah orang tua yang mengapresiasi kebaikan anak.. Bukan hanya yang memperhatikan sisi buruk dari anak saja. Jadilah sahabat terbaik untuk anak Anda. Yang ia mengenal Anda tidak hanya sebagai orang tua yang tegas dan berwibawa, tapi juga pribadi yang penuh dengan cinta kasih…

Sebuah introspeksi panjang yang melegakan. Belajar menjadi orang tua adalah sebuah proses tanpa henti. Betapa banyak orangtua yang tak mau mendengarkan pendapat anaknya, orangtua yang tidak mau melihat sisi terang dari anaknya.

Belajar menyadari bahwa sebenarnya tiap anak berbeda, maka perlakuan terhadapnya harus berbeda pula. Tak bisa disamakan satu dan lainnya. Every child has a gift, but only those who care enough can see it.

“There have been such gems among us who have changed the course of the world, because they could look at the world differently. Their thinking was out of the box and not everyone understood them. They were ridiculed. But despite that, they persevered and emerged such winners and the world applauded them.”

Ya, belajar memahami bahwa setiap anak itu istimewa.

cutezzz..

Bismillaah.. Semoga bisa menjadi orang tua yang lebih baik bagi mereka. Lagi dan lagi. Semangat ~!

~ Jakarta, one fine morning of December 2013.. love them.. whatever they were, whatever they are and whatever they may become..  love them unconditionally.

© aisyafra.wordpress.com

[ The motivating quotations are taken from “Taare Zameen Par” movie. Pics by WeHeartIt ]

2 thoughts on “Every Child is Special :)

  1. unique…never naughty😉
    orang tua bilang anaknya nakal kalau lihatnya dari sudut pandang ortunya hehe…
    kalau lihat dari sudut pandang anak, insyaa ALLAh mereka always be unique, especially age 0-10.
    usia 10 ke atas, mereka mulai baligh, maka mereka bukan anak-anak lagi, melainkan sudah mulai dewasa. ketika itulah mereka telah mengenal konsep baik buruk, karena saat baligh tiap amalan baik dan buruk telah tercatat untuk mereka pertanggungjawabkan nantinya di hadapan ALLAh…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s