Pernikahan dan Lomba Lari

pendamping terbaik

Dear fellows, saya sering banget denger istilah nikah muda atau pernikahan dini,  juga istilah telat nikah.. How about you? How do you think?

Maka, izinkan saya untuk sedikit berbagi…

Orang tua saya dulu termasuk yang strict soal ‘pacaran’. Mereka melarang anak-anaknya pacaran sejak kami belum berusia baligh. Bagi mereka, lebih baik anaknya menikah di usia muda daripada pacaran. Dengan catatan, sudah cukup umur dan sudah siap dengan segala resiko dan konsekuensinya..

Maka ketika ada ikhwan yang serius dengan adik saya yang waktu itu masih muda banget, dan berani datang langsung ke rumah, bagi orang tua saya tak masalah.

Adik saya dulu menikah di usianya yang belum genap 18 tahun, termasuk nikah muda mungkin ya. Ia hanya terpaut 3 tahun saja dengan saya. Sedang saya menikah di usia yang kata orang-orang sudah boleh dibilang ‘matang’ tapi belum termasuk ‘telat’. Nah loh gimana tuh maksudnya..

Alhamdulillah, saya menyusul adik saya 3 tahun kemudian. Tepat di usia 24 tahun, lebih 16 hari. Sedang suami saya menikah di usianya yang masih muda untuk ukuran laki-laki, 22 tahun saja.

Adik saya dikaruniai anak pertama di usia yang masih sangat belia, kurang dari 19 tahun. Sedang anak pertama saya lahir tepat 2 bulan sebelum saya genap mencapai usia seperempat abad. Adik saya memasukkan anak pertamanya ke TK 4 tahun yang lalu, sedang baru tahun kemarin saya memasukkan si sulung Harits ke TK.

Waktu adik saya memutuskan untuk menikah lebih dulu, kami sering ngobrol, sharing dan tak jarang ia meminta pertimbangan saya tentunya. Saya dan adik terbilang sangat dekat. Best friend lah, until now alhamdulillah. We know each other so well..

Saya memberi masukan, “Kalo kamu udah siap dan mantap dengan orangnya, dengan segalanya, go ahead, silakan aja..”.

Adik saya bertanya, “Bener nggak apa-apa? Nggak merasa dilangkahi?”.

Saya tertawa kecil sambil meyakinkannya,

“Ya nggak lah.. Jodoh udah ditulis kapan datengnya kali.. Nggak ada aturan kakak harus nikah lebih dulu dari adiknya. Kalo jodoh kakaknya dateng 10 tahun lagi, apa adiknya harus nunggu selama itu? Kasian dong.. Apalagi aku emang nggak mau nikah muda. Belum siap, at least untuk saat ini. Masih betah jadi jojoba.. Hoho..”

Then years passes, time flies and everything changes…

Dan kami berdua akhirnya menyadari.. Nikah di usia muda, matang, tua or whatever lah.. Punya konsekuensi sendiri-sendiri. Punya plus minus masing-masing. Yang tidak bisa dibanding-bandingkan satu dan lainnya. Ya, karena kondisi tiap orang berbeda.

Enaknya nikah di usia muda, menurut adik saya, di antaranya jarak usia anak dengan orangtuanya tak terpaut begitu jauh. Ketika anak beranjak remaja, kita masih muda dan penuh vitalitas untuk mendampinginya, menjadi sahabat tempatnya bercerita dan berbagi. Juga lebih menjaga diri dan kehormatan dari fitnah. Dan masih banyak lagi..

Kurang enaknya -lagi lagi menurut adik saya- karena masih terlalu ‘hijau’ dan minim ilmu, jadi agak terkaget-kaget dengan rutinitas dan lika-liku kehidupan berumah tangga. Tapi ilmu kerumahtanggaan kan memang ‘learning by doing’, makin tinggi jam terbang, insya Allah makin piawai..

Awal-awal menikah dulu, kadang ia merasa iri dengan teman-temannya (juga dengan saya tentunya, haha) yang masih bebas wara-wiri kemana-mana tanpa harus minta izin suami dan membawa anak.

Hmmm.. enaknya nikah di usia ‘matang’ seperti saya dulu, bisa banyak bersiap-siap, membekali diri dengan banyak pengetahuan yang berguna. Bisa duduk di berbagai majelis ilmu dan mencatatnya dengan tenang tanpa gangguan. I enjoyed those times very very much indeed🙂

Saya juga banyak belajar dari adik saya. Ya berhubung ia yang lebih dulu ‘nyemplung’ ke dunia itu. Soal kehamilan, persalinan, mengurus anak, dunia sekolah, sampai soal printilan dan tips-tips kerumahtanggaan.  Hehehehe.. Thank you for always be my mentor, sist..😀

Saya juga lebih dapat mengontrol emosi dalam kehidupan pernikahan. Mungkin karena saya memasukinya dengan usia yang sudah dewasa pula. Tidak labil dan meledak-ledak seperti masih muda dulu. Lebih siap menghadapi segala kemungkinan, insya Allah.

Kalau yang nikah muda itu ikhwan, gimana? Seperti tokoh Rizqaan di cerita Sandiwara Langit? Nah ini, saya juga sedikit ‘mengorek’ tentang motivasi menikah muda, langsung dari suami saya.

Karena kalau menurut saya, akhwat berani nikah muda itu hebat. Tapi ikhwan berani nikah dan mengambil tanggung jawab berkeluarga di usia muda itu superb. Jarang pula ada yang seperti itu.

“Kenapa sih a, kok mau nikah muda? Kan jadi nggak bebas kayak temen-temen Aa lainnya tuh..”  tanya saya iseng ketika kami menyantap semangkok soto mie di sebuah siang sepulang kajian hari Ahad, tepat di depan stasiun kereta Bogor.

“Aa sih nggak kepikir kesitu, tuh. Motivasi utamanya sih biar lebih terjaga dari fitnah aja. Dan alhamdulillahnya, dimudahkan untuk itu. Trus daripada duit gaji buat jajan atau jalan-jalan, mending buat nikah, menafkahi anak istri, jelas berpahala. Kan tiap suapan yang masuk ke mulut seorang istri, dihitung sedekah..”  jawab beliau.

“Nggak pengen mencapai ini-itu dulu a? Mewujudkan impian-impian dulu, gitu. Kan kalo udah nikah apalagi punya anak jadi agak sedikit terhambat?”  kejar saya lagi, penasaran.

“Membangun mimpi kan bisa dilakukan bersama-sama setelah menikah, insya Allah..  jawab beliau lagi. Kali ini sambil tersenyum.

“Hei, menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore. Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini.

Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang-orang yang memang cerewet mulutnya bilang “Gadis tua, Bujang lapuk”, atau nyinyir bilang, “Kecil-kecil kok sudah menikah.”

~Tere Liye

Ya ya ya.. Setelah menikah selama 6 tahun lebih, menjalani suka duka dan pasang surutnya.. Memperhatikan, mendengar dan melihat langsung berbagai kisah tentang kehidupan pernikahan..

Saya paham betul.. nikah bukan soal berlomba untuk dulu-duluan ke KUA. Nikah bukan soal bagaimana menyandang gelar istri atau suami sesegera mungkin. Esensi nikah adalah lebih dari itu..

Nikah mencakup persiapan lahir dan bathin, jasadiyah dan ruhiyah yang jauh lebih penting dari sekadar angka dan usia. Nikah adalah ibadah yang butuh ilmu, ladang pahala yang juga butuh kesiapan, fisik dan mental. Kalau udah siap, ya why not? Tapi kalau belum, buat apa memaksakan?

Bersegera dalam menikah itu bagus, tapi yang perlu diingat, bersegera bukan berarti tergesa-gesa. Tak perlu galau kalau sang jodoh belum tiba.. Tak harus mematok harga mati untuk menikah di usia sekian atau sekian, hanya karena teman-teman kita sudah duluan menikah..

Don’t rush things, bilamana memang belum sanggup.

Nikah bukan untuk sehari atau dua hari, tapi seumur hidup. Lebih baik bersabar sedikit, menanti saat dan orang yang tepat.. Daripada terburu-buru yang akhirnya melahirkan penyesalan tiada guna di kemudian hari.

Remember, marriage is a lifetime commitment. So don’t gamble your future.

Jika hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka nikah adalah sebuah awal. Nikah bukan akhir sebuah pencapaian. Jadi pilihlah hati-hati dengan kesadaran penuh dari hati, dengan siapa, apa, kapan, bagaimana kalian kelak akan menikah.

Karena menikah adalah menggenapkan separuh agama, dan bertaqwa untuk yang separuhnya lagi.

Menikah adalah membangun peradaban.

Menikah adalah meletakkan masa depan kita, pasangan kita dan anak-anak kita.

Menikah adalah memulai awal baru dari garis start bersama seseorang yang kita pilih hingga mencapai garis finish, yaitu jannah-Nya..

Insya Allahu Ta’ala..

~ Jakarta, January 2014. Dedicated to someone, somewhere, out there. The time will come, my friend. Just believe in Allah’s perfect timing.. *wink*

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Getty Images ]

10 thoughts on “Pernikahan dan Lomba Lari

  1. Pingback: Enjoying Singleness :) | So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s