Seleraku, Selera Nusantara :)

my favourite food..

Sejak kecil sampai sekarang, menu makanan yang paling saya gemari adalah menu asli Indonesia. Bagi saya, makanan khas Indonesia punya cita rasa yang unik. Kaya rasa, kaya bumbu dan rempah-rempah. Bahan-bahannya juga mudah didapat dan dijumpai, bahkan bisa ditanam di pekarangan sendiri.

Mungkin karena ibu saya orang Jawa dan gemar memasak, maka saya jadi pengemar makanan khas Jawa. Juga menu-menu lain yang sering beliau buat di rumah. Tumis kangkung, sayur asem, ikan atau tempe goreng dan sambel terasi. Kadang juga beliau menyediakan masakan ala Padang dengan sayuran yang serba dikukus. Sambal ijo-nya tak ketinggalan. Atau menu ala Sunda dengan sayuran mentah seperti karedok dan sambal khasnya. Aduhai, sungguh lezat tiada tara. Maka, jadilah lidah saya ini tidak terbiasa dengan menu yang (menurut saya) aneh-aneh.

Pernah sekali waktu keluarga kami diundang bos suami berbuka bersama di sebuah restoran Jepang yang modelnya all you can eat. Sampai di sana saya bingung melihat menu dan nama-nama bahan yang benar-benar asing di telinga. Satu-satunya makanan Jepang yang saya tahu cuma Dorayaki. Itu juga pas nonton Doraemon waktu kecil dulu. Dan itu juga kayaknya nggak ada di daftar menu. Hahaha…

Yang saya ingat, waktu itu saya cuma memesan jus duren plus makan Dim Sum dan beberapa menu lain yang saya lupa namanya.  Itu juga banyaknya dibuatin sama suami, karena saya sibuk menjaga anak-anak agar tidak heboh berlarian ke sana kemari, berkejaran sambil membawa balon. Amfyun deh mereka, nggak dimana-mana hobinya nggak bisa diem.. #tepokjidat

Tak lupa waktu itu saya wanti-wanti pada suami, “A, jangan lupa masaknya yang mateng yak.. aku nggak doyan yang mentah-mentah..”.  Dan baru kali itu saya makan Dim Sum sampai teler, sampai kenyang banget. Alhamdulillah. Enak sih, enak buanget malah.. Tapi saking enak dan banyaknya, sampai-sampai perut ini jadi eneg. Atau mungkin lidah saya yang ‘katrok’ alias ‘ndeso’? Hehehe, iya kali yak…

Boleh dibilang, saya jarang sekali makan di luar ketika rihlah atau berwisata dengan keluarga.. Paling hanya sesekali saja.Kami lebih sering membawa makanan sendiri dari rumah. Membawa makanan sendiri, rasanya beda dengan beli. Bukan saja karena murahnya.. Tapi karena lebih bersih, sehat dan ekonomis, insya Allah. A lil bit ribet and hectic but it’s worth it, I think.

Walau hanya dengan menu seadanya, seperti nasi uduk, ayam goreng dan lalapan sayur plus sambel. Cemilannya biasanya jelly dan pizza mie, tak lupa es teh atau es jeruk. All homemade. Sambil lesehan di atas tikar atau jas hujan yang mendadak ‘disulap’ menjadi alas duduk sementara. Sederhana, tapi disitulah letak nikmatnya, masya Allah.. :)

lesehan..

Mungkin karena dari kecil saya sudah terbiasa dengan menu khas Indonesia, jadi kurang tertarik untuk menjelajahi menu-menu lainnya. Terutama menu asing dari lain negara. Kebab saya masih doyan.. nasi kebuli, doyan banget.. Tapi kalo masakan yang rasanya ‘beda’ banget .. masakan Italia, misalnya.. Yang saya doyan cuma Pizza aja. Spaghetti and friends nggak doyan, asli. Jadi jangan ngajak saya ke resto Itali ya… *dih, GR*

Apalagi yang modelnya all you can eat macam resto Jepang tadi, yang bisa bebas makan sesuka kita. Dijamin rugi deh, soalnya paling cuma saya comot sedikit. Mending kita lesehan makan gado-gado atau ketoprak plus es kelapa muda rame-rame deh. Swegeerrr..

Lebih-lebih lagi ibu saya, paling alergi sama makanan yang ‘eneg-eneg’. Semua yang mengandung keju, butter, vla atau susu udah pasti nggak bakal disentuh sama beliau. Dan seringnya kalau dikasih makanan model begitu sama temannya, langsung dioper ke anak-anaknya. Kata beliau, “Ummi mending makan gado-gado atau urap deh..”.  Hihi.. dalem hati, “alhamdulillah..”  #eh😀

Apalagi kalau kami pulang kampung ke Malang atau Surabaya.. Wah, list kulinernya bisa sejibun. Soalnya, kuliner Jawa Timuran itu enak-enak sih.. Harganya juga relatif terjangkau. Merakyat, lah.. Angkringan sego pecel, tahu campur, lontong kupang, tempe kacang, sampai bakso malang yang rasanya beda banget sama bakso malang yang ada di Jakarta.. dan masih banyak lagi. Nah kan, jadi kangen mudik deh..

Iya sih, semua kembali soal selera masing-masing. Selama makanan itu halal dan thayyib, kan boleh-boleh aja. Alhamdulillah saya dengan suami satu selera dalam hal ini. Sama-sama suka pedas, sama-sama suka panganan tradisional, sama-sama lebih suka mie ayam daripada bakso. Lho? Makanan ala Western atau Oriental paling hanya sesekali saja kami santap. Bukan karena nggak enak, tapi memang karena kurang cocok saja dengan lidah ini..

Jadi, nggak apa-apa deh dibilang selera kampung, ndeso, kelurahan atau kecamatan sekalian. Kalau emang nggak doyan, terus gimana dong? Asal jangan sampai mencela makanan aja, karena Rasulullah tidak pernah sekalipun mencela makanan. Kalau beliau tidak suka, maka cukup dengan tidak memakannya. Subhanallaah..

Ya mungkin, karena selera saya selera yang sederhana saja.. Selera nusantaraku, Indonesia tercinta.. #halah  :)))

~ Jakarta di bulan hujan dan banjir, Januari 2014.. terinspirasi dari semangkok bakso malang sore tadi😀

5 thoughts on “Seleraku, Selera Nusantara :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s