Hujan di Pagi Hari

rain_fall_animation_effect_by_here_i_is-d3f4p63

Akhir-akhir ini Jakarta tiap pagi selalu berselimut mendung, angin kencang dan dingin yang menusuk tulang. Kadang diiringi hujan cukup lebat, kadang hanya rintik-rintik saja. Sebentar terang, sebentar kemudian hujan lagi. Bener-bener Jakarta rasa Puncak deh, subhanallaah.. Brbrbrbrbrrr..

Cuaca yang demikian tentu membuat siapa saja merasa malas untuk pergi ke luar rumah. Paling enak memang selimutan dalam kamar, ditemani secangkir teh panas dan buku kesukaan, menjahit, atau ngobrol santai dengan suami dan anak-anak. Indoor activity lah.

Tapi bagi ibu rumah tangga seperti saya, pagi hari walaupun dinginnya kayak apa.. bukan alasan untuk bisa bermalas-malasan penuh di atas tempat tidur. Sejak membuka mata, pekerjaan rumah sudah menanti dengan manisnya.

Sebagian sudah saya cicil malam harinya, jadi nggak perlu bangun terlalu awal untuk merapikannya. Paling-paling hanya masak dan cuci piring saja, menyiapkan kperluan si sulung untuk sekolah.

Sedang suami dengan jam kerjanya yang santai dan fleksibel, bisa sedikit membantu pekerjaan rumah atau menjaga anak-anak ketika saya riweuh di dapur atau ke atas untuk menjemur pakaian. Yah, alhamdulillah tiap pagi bisa agak santai dan tidak terlalu dikejar waktu. Entah kalo anak-anak udah pada sekolah semua.. Kayak apa ya hebohnya. Hihihi.

Jika saya sebagai stay at home mom (and am so grateful of that) bisa tidak keluar rumah selama sepekan penuh di cuaca yang seperti ini, maka tidak bagi anak-anak yang harus sekolah atau para suami yang harus berangkat menjemput rezeki ke luar rumah.

Si abang yang tadinya selalu bersemangat ’45 untuk ke sekolah pun, akhir-akhir ini jadi sering sulit dibangunkan untuk sekolah, karena masih asyik tidur (ya hawanya memang selalu bikin ngantuk!). Tapi saya pantang menyerah. Setelah dibujuk selama beberapa menit akhirnya mau juga bangun dan turun menuju kamar mandi.

Sambil sarapan, kami ngobrol…

“Harits tau nggak, dulu Ummi biar hujan begini tetep sekolah lho, padahal waktu itu sekolahnya Ummi jauh.. harus jalan kaki. Jidah (ibu saya) nggak nganterin, karena belum punya motor. Jadi Ummi jalan kaki, pake jaket, bawa payung atau jas hujan, trus kakinya dibungkus tas plastik kresek biar sepatunya tetep bersih nggak kena ‘belok’ (tanah merah basah yang nempel di sepatu). Sampe di kelas plastiknya dicopot, buang ke tempat sampah. Begitu terus selama musim hujan..

Tapi Ummi tetep semangat sekolah, soalnya Ummi pengen belajar, biar pinter.. Harits sih enak, pulang pergi ada yang nganter jemput pake motor.. Nah, Harits malu nggak kalo masih males-malesan ke sekolah?”

Yang ditanya cuma nyengir geje, “Hehe..”,  jawabnya singkat.

Tapi dulu, dulu sekali bertahun-tahun yang lalu.. saya juga pernah bersikap seperti Harits. Mendadak malas pergi sekolah karena cuaca yang tidak ‘bersahabat’.

“Ma (dulu saya manggilnya masih Mama), aku nggak usah sekolah ya, hujan nih..”  kata saya yang waktu itu masih SD.

“Emang kenapa kalo hujan?”  jawab Ummi.

“Yah, males Ma, becek.. trus juga dingin..”  kata saya merajuk.

“Nggak, tetep sekolah.. kalo hujan, bawa payung.. dingin, pake jaket..” sahut beliau galak.

Nyali saya jadi menciut, dalem hati ngedumel bla bla bla.. Tiba-tiba Ummi ngomong…

“Kamu tau nggak Tia, di luar sana banyak anak-anak yang pengen sekolah, tapi nggak bisa karena orang tuanya nggak mampu. Ada yang sampe ngojek payung, nyemir sepatu, jualan koran.. supaya bisa bantu-bantu orang tuanya. Kamu udah tinggal sekolah, makanan ada, buku bisa beli lengkap, nggak perlu susah payah cari uang kayak mereka. Sekarang cuma karena hujan aja, kamu jadi males sekolah. Mana rasa syukurnya?”.

Ngok. Clep. Saya terdiam. Iya juga sih, pikir saya waktu itu. Banyak anak-anak yang ingin merasakan berada di posisi saya, tapi saya malah menyia-nyiakannya dengan menggampangkan untuk membolos hanya karena hujan. Duh, jadi malu sendiri.

Kini, saya merasa sangat bersyukur bahwa dulu orang tua saya, terutama Ummi, sering mengajarkan pentingnya rasa bersyukur dengan apa yang telah dimiliki. Juga mengingatkan untuk sering-sering membandingkan diri dengan mereka yang kehidupannya jauh lebih tidak beruntung daripada kami.

“Jadi, jangan banyak ngeluh, masih banyak yang lebih susah hidupnya dibandingkan kita..”  pesan beliau.

Akhirnya walau masih agak enggan, saya mulai menyiapkan tas dan sepatu untuk ke sekolah. Setelah berpamitan dan mencium tangan Ummi, sebelum berangkat saya iseng-iseng bertanya (sambil pasang mimik mupeng),

“Tapi Ma, aku pulangnya boleh hujan-hujanan nggak?”.

“Hmmm.. (mikir sejenak). Boleh, tapi tasnya dibungkus plastik ya biar bukunya nggak basah. Dan sekali ini aja, besok-besok nggak boleh!”.

Yesssss… ! *dasar anak-anak 😀

~ Rainy Jakarta, 20 Januari 2014, in every situation.. there is always something to be thankful for🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: WeHeartIt ]

2 thoughts on “Hujan di Pagi Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s