Karena Belajar itu Seharusnya Menyenangkan :)

coloured paper crafts

“Childhood is not a race to see who can read, write and count. Childhood is a small window of time to learn and develop at a pace that’s right for each individual child.” ~Unknown

Ada satu hal yang dulu selalu saya tanyakan pada diri saya dan si sulung sebelum memutuskan untuk memasukannya ke sebuah kelompok belajar. Siapkah saya? Siapkah kami? Apakah sudah tepat waktunya?

Di tengah banyaknya sarana dan prasarana untuk menyekolahkan anak di usia dini, bahkan sejak si anak masih bayi, saya sengaja memilih usia 5 tahun untuk mengenalkan Harits pada sekolah formal. Di antaranya karena saya tak ingin ia keburu bosan bersekolah atau memaksanya bersekolah sebelum waktunya.

Pikir saya kala itu, jangan sampai ia jadi tidak suka atau benci dengan proses belajar, hanya karena tak nyaman dengan sekolah atau metode belajar yang salah, dan timing yang kurang tepat.

Setelah Harits mulai bersekolah, saya mengevaluasi kegiatan hariannya, apakah ia enjoy dengan rutinitas barunya ataukah justru tertekan. So far, yang saya amati justru ia bersemangat sekali belajar di sekolah. Menghafal, menulis, menggambar, menempel dan mewarnai. Sering saat saya sedang santai, ia merajuk, ” Ayo mi, kita baca buku..  ayo mi, kita baca Iqro’.. ayo mi, kita mewarnai..”

Belajar bisa dilakukan dalam perjalanan atau saat berbelanja, seperti suatu waktu saat si abang asyik main game, tiba-tiba ia nyeletuk, “Mi, kalo saudara perempuan itu ukhti.. Kalo saudara laki-laki itu akhi. Iya kan mi?”

Atau di satu kesempatan saat kami berada di depan rak sayuran sebuah supermarket, ia mengambil sebongkah brokoli sambil berteriak dengan kegirangan , “Mi, ini brokoli, sama kayak yang ada di hape abi!”.

Pernah suatu siang sepulang dari sekolah, ia bergumam tak jelas di depan lemari, diam-diam saya mengintip dari balik pintu, “En-A-Pe..”. “Abang lagi ngapain?”  tanya saya. “Ini, bacanya apa mi? Kan ini N, trus A..  Jadi apa ya?”.  Olala, ternyata ia sedang berusaha membaca tulisan di lemari baju saat tadi mau ganti baju.

Atau di lain waktu ketika saya membayar belanjaan di supermarket, Harits kembali bergumam di depan meja kasir, berusaha merangkai huruf-huruf yang menempel di plastik belanjaan saya. Sampai si mbak kasir senyum-senyum ke saya dan si abang. Dan hal itu sering terjadi ketika kami pergi keluar rumah. Sebuah fase menyenangkan dalam proses belajar membaca.. Membaca apa saja yang bisa dibaca.🙂

Harits'  writing :)

Harits’ writing🙂

“Play – it is important for children. Children do not just play all day and learn nothing. They are learning as they play.” ~Unknown

Masa kanak-kanak adalah masa bermain, tapi bukan lantas membebaskan anak untuk bermain semaunya tanpa ada pelajaran yang bisa dipetik. Bermain, tapi bukan hanya sekadar permainan yang sia-sia saja. Golden age itu tak akan pernah terulang lagi dalam fase kehidupan mereka.

Setiap aktifitas yang dilakukan anak, sejatinya adalah sebuah pembelajaran. Ketika ia duduk di kelas, bermain dengan kawan-kawannya atau ketika ia kita ajak jalan-jalan ke taman kota. Setiap kesulitan dan kegagalan yang dialaminya pun, mengajarkan banyak hal, diantaranya memupuk semangat agar tidak mudah berputus asa dan kepercayaan diri untuk bangkit dan mencoba lagi.

Sambil bermain, bisa kita selipkan bermacam hal yang bersifat mendidik. Belajar tanpa merasa digurui. Hal itu bisa dilakukan saat kita dan si kecil misalnya, merangkai puzzle, memperbaiki mainan yang rusak, menyiram tanaman, berkebun, ikut membantu memasak bersama di dapur sampai bikin origami dari kertas berwarna.

Belajar di mata saya.. nggak mesti hanya berkutat di depan meja, menekuri buku dan memainkan alat tulis. Menjadi pintar, nggak selalu harus terkotak-kotak oleh sekolah formal. Keluarga adalah basis pendidikan utama bagi seorang manusia. Peran keluarga terutama orang tua, sangat besar dalam hal ini. Segala kelebihan, kekurangan dan potensi si anak, orang tuanya lah yang mengetahui dengan persis.

Belajar itu.. bisa sambil browsing internet bareng, membiarkan anak membantu di dapur, menyiangi sayuran, menyimak hujan turun, jalan-jalan pagi, lihat bulan dan bintang.. Bisa sambil ngobrol santai, main tebak-tebakan kata dalam berbagai bahasa, sambil ngutak-atik aplikasi di gadget.

Belajar.. bukan hanya soal menjadi pintar, meraih predikat juara kelas atau berhasil masuk ke sekolah favorit.. tapi juga mengenalkan nilai-nilai dalam kehidupan.

Membekali mereka dengan persiapan ruhiyah yang paling mendasar. Mengenalkan Allah..  mengenalkan apa itu iman dan islam.. Mengenalkan kasih sayang terhadap sesama, hewan dan tumbuhan.

Mengajarkan pentingnya adab dan tata krama dalam pergaulan dengan manusia lainnya. Mengajarkan empati. Mengajarkan tiga kata penting dalam berinteraksi dengan orang lain: ‘tolong’, ‘terima kasih’  dan ‘maaf’.

“Sungguh tugas orangtua dan guru bukanlah mempersiapkan anak-anak yang memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak-anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaan yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar.” ~Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Belajar.. bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Banyak cara untuk mengenalkan semesta dan isinya pada anak. Jangan mempersempit makna belajar itu sendiri dengan hanya hadir di kelas dan menyimak penjelasan guru.

Belajar, bisa di mana saja.. kapan saja.. dengan siapa saja. Jika yang namanya belajar itu dibatasi oleh dinding-dinding sekolah formal, maka ketika sudah lulus dan mendapat secarik kertas bernama ijazah, selesailah proses belajar itu. Padahal, belajar itu proses seumur hidup. Tak pernah terhenti sampai kita menutup mata.

Pembelajar yang baik, tak pernah merasa puas dengan ilmu yang didapat. Karena baginya, belajar adalah sebuah proses panjang yang tak pernah mengenal kata cukup.

Sekolah hanya sarana, bukan penentu keberhasilan pendidikan. Bahkan saya katakan, tak cukup hanya bersekolah untuk menjadi pandai. Banyak hal yang tidak didapatkan lewat sekolah formal. Semuanya berpulang pada diri sendiri, sampai dimana cita-cita itu akan dikejar.

Tiap kita, tentu punya tipe yang berbeda dalam belajar. Begitu juga anak kita, punya kecenderungan, minat dan bakat masing-masing. Alangkah tak bijaknya jika kita kerap membandingkan anak satu dengan yang lainnya, dan membebani mereka dengan tuntutan-tuntutan di luar kesanggupan mereka. Hargailah proses dan pencapaian mereka dalam belajar, apapun bentuknya. Mengutip dari rumahinspirasi.com,

 “Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani.”

Mendampingi anak melewati fase belajar membaca dan berhitung itu rasanya spesial banget. Berpindah dari huruf ke huruf, angka ke angka.. Sampai akhirnya lancar membaca sebuah buku dan menyelesaikan sebuah soal matematika sederhana. Aneka rasa, ada bangga dan bahagia walau kadang terselip sedikit rasa kesal dan kurang sabar.

Ya, saya sendiri juga sedang belajar mengajar sekaligus menjadi pembelajar. Perjuangan yang panjang dan tidak mudah, memang. Dan saya sama sekali tidak mau menekan anak untuk bisa membaca dan berhitung sedini mungkin, apalagi selalu membandingkan mereka dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu bisa membaca. Every child is special, right?

Biarlah mereka bisa karena mereka suka, karena memang sudah saatnya. Jangan sampai cara saya yang cenderung ‘memaksa’ justru menjauhkan mereka dari kecintaan mereka pada buku dan angka-angka, pada proses belajar itu sendiri..

Masya Allah, nikmatnya menjadi orang pertama yang menyaksikan mereka tumbuh dan berkembang.. Sempat terlintas dalam hati, “Oh begini ya yang dirasain ibuku waktu ngajarin aku dulu..”.  

Thank you, Mom!🙂

Yes, that feeling is priceless…..

reading

~ Jakarta, 10 Februari 2014.. terinspirasi dari obrolan beberapa waktu lalu  dengan seorang kawan di seberang pulau sana.. 

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Karena Belajar itu Seharusnya Menyenangkan :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s