Godaan itu Bernama Dunia Maya

gadget

Suddenly this afternoon, something makes me wonder. Really really wonder.. Jika ada seorang ibu rumah tangga yang hari-harinya nggak lepas dari gadget dan selalu mantengin socmed; entah itu nyetatus, ngelike, komen, ngetwit, ritwit, bales komen, upload pic, chat di BBM, Whatsapp, etc etc.. hampir 24 jam, always online.

Kecuali saat matanya terpejam di malam hari, kemudian ketika membuka mata di pagi hari, benda yang pertama kali dicari adalah: gadget.

And these questions remain in my head …

  • Kapan ya ngerjain pekerjaan rumahnya?
  • Kapan ngajarin anak-anaknya belajar?
  • Kapan baca buku untuk merecharge pengetahuan?
  • Kapan muraja’ah hapalan Qur’an?
  • Kapan ya bersosialisasi sama teman dan tetangga sekitarnya?
  • Kapan meluangkan waktu untuk main dan bersenda gurau dengan suami dan anaknya?
  • Kapan bersunyi-sunyi dengan dirinya sendiri, muhasabah, merenung tentang banyak hal?
  • Kapan menikmati quality time with family, with the ones she loves, away from her gadget..?

Ibu rumah tangga, bukan hanya sekadar label untuk wanita-wanita yang tinggal di rumah mengurus rumah dan mendidik anak-anaknya. Lebih dari itu, ibu rumah tangga adalah sebuah amanah dan tanggung jawab besar.

Dan tidaklah setiap orang yang diamanahi melainkan akan ditanya dan dimintai pertanggung jawabannya, di hadapan sang pemberi amanah kelak. Allah Azza wa Jalla.

Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah komitmen, bukan sekadar kegiatan menunggu anak-anak pulang sekolah, menyuapi mereka makan, membantu mereka mengerjakan PR, menyiapkan makan untuk suami, lalu sudah selesailah. Selebihnya, adalah waktu yang tersita untuk berlama-lama memandangi sebuah layar kecil tanpa nyawa.

Godaan itu bernama dunia maya.

Ketika obrolan antar kawan dan persinggahan di berbagai tempat semudah menggeser jari dan memencet tombol. Ketika pertikaian antara sesama penggunanya terasa aman karena berlindung di balik sebuah nama anonim. Ketika tidak ada lagi dinding yang menyekat antara ruang publik dan ranah pribadi.

Apa yang kita rasakan, seluruh dunia harus tahu. Apa yang kita lihat, dengan siapa kita menghabiskan waktu, makanan apa yang kita santap, baju apa yang kita kenakan, tempat apa yang kita singgahi.. everyone needs to know the details. Sampai-sampai kita lupa untuk menikmati waktu, lupa untuk merasakan momen yang tengah berlangsung.

Terjebak dalam membangun citra kehidupan yang serba sempurna. Hanya untuk mengesankan orang lain, bahkan mungkin.. mengesankan orang yang justru tidak kita sukai?

Ketika kemudahan yang idealnya membawa manfaat justru berbuah kesia-siaan bahkan mudharat.. Melalaikan tugas dan tanggung jawab. Membuat kita lupa untuk menghargai waktu sebagai sesuatu yang tak pernah kembali. Bahkan sampai mengabaikan mereka yang kita cintai..

Mari, evaluasi diri. Bukankah kita yang harusnya mengatur teknologi dan bukan sebaliknya? Seharusnya, idealnya. Kalau dirasa sudah begitu addicted alias kecanduan, you know it’s a sign to quit.

Mendisiplinkan diri, menjadwalkan waktu dan mengatur batasan-batasan ketika berselancar di dunia maya itu penting. Amat sangat penting.

Membuat hari-hari kita jadi lebih produktif. Mengurangi tingkat stress karena melihat hidup orang lain yang kita anggap lebih ‘wah’. Menghadirkan hati dan jiwa ketika berinteraksi dengan mereka yang kita cinta. Membuat kita kembali menjadi manusia seutuhnya.

Detox your habit. Control yourself. Spend less time online and more engaging your real life. Disconnect to reconnect. Remember, it’s your life that matters, not theirs.

“Maka lepaskanlah earphone-mu, simpan telepon genggammu, sapalah teman di sampingmu. Bukalah pintumu dan keluarlah untuk menemui orang-orang yang selama ini terlalu lama tak kau sapa. Peluklah orang-orang yang kau sayangi. Ketuklah pintu tetangga dan berikan sesuatu untuknya. Tersenyumlah. Kembalilah jadi manusia!” ~Tumblr

~ Jakarta, one lovely afternoon of March 2014.. a self-reminder actually.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

3 thoughts on “Godaan itu Bernama Dunia Maya

  1. Aku setuju kak meut. memang rasa ingin berbagi2 di socmed itu ada, apalagi wanita yang dunianya hampir di rumah terus🙂 Itu yang dikhawatirkan, banget. Tanggung jawab kita. Menurut aku, gak harus dibunuh seluruhnya perasaan ingin berbagi itu, beralih aja ke blog, cerita kita tahan dulu trus dikumpulin, dijadiin tulisan yang bagus dan bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s