Email-email Cinta dan Kepingan Nostalgia

just married..

Malam ini iseng-iseng membuka email-email lama, dan tak sengaja menemukan bait-bait ini..

Dari: ahmad hafid <ibnu_hafid@yahoo.co.id>
Kepada: “meutia halida” <chynatic@yahoo.co.id>
Tanggal: Sabtu, 31 Januari, 2009, 12:44 PM

Assalamu’alaykum ya Ummu Alharits..

Betapa bahagianya hati ini
Yang telah mendapatkan karuniaNya
Berupa istri yang shalihah…
Sungguh aku tak tahu apa jadinya
Jika aku tak mendapatkannya
Aku hanya bisa meminta kepadaNya
Ya hanya kepadaNya aku meminta…
Ya Rabb..
Aku hanya HambaMu yang lemah..
Sungguh tidak ada daya dan upaya yang aku lakukan kecuali atas kehendakMu
Ya Allah ya Rabbku
Ya Rahmaan Ya Raahim
La ilaaha illa anta ya Allah..
Jadikanlah diri ini menjadi hamba yang bersyukur..
Atas indahnya nikmat pernikahan ini..

Untuk Istriku tercinta..

~

Hafid Abul Harits
Di Bumi Allah

(Sab, 31/1/09)

Ternyata ini adalah potongan email lama dari suami saya tercinta (ciee..). Saya nggak tahu beliau bisa juga merangkai kata-kata, walau nggak puitis-puitis amat. Lebih parahnya lagi, saya malah lupa pernah dikirimi email ini. Hahahaha.. *maapkeun ya sayang

Membaca email-email lama dari sahabat dan orang-orang tercinta, seperti membuka kembali kenangan lembar demi lembarnya.. Ada beberapa yang saya forward kembali ke pengirimnya, sekadar mengajak mereka kembali bernostalgia.

Menerbangkan memori kembali ke masa lalu.

Merasakan kembali rasa yang dulu pernah ada..

Aihh sedaapp..

Hari-hari yang dulu hanya dihabiskan sendirian di rumah menunggu suami pulang, banyak waktu luang untuk melakukan ini dan itu. Sampai bingung apa lagi yang harus dikerjakan. Kini, setelah hampir tujuh tahun berselang.. Keadaan yang  serba berbanding terbalik.

Bingung apa yang harus dikerjakan lebih dulu, mesti cermat mengatur jadwal agar semua tugas-tugas rumah selesai tepat waktu. Bisa memanjakan diri sejenak atau menghabiskan waktu untuk berduaan saja sudah seperti menemukan harta karun.

Amboi..🙂

Cinta, rasa.. adakalanya perlu disegarkan kembali. Bernostalgia sejenak dengan momen-momen pertama kita jatuh cinta, menikah, memiliki buah hati.. mampu meremajakan kembali perasaan itu.

Mengingatkan diri, bahwa seseorang pernah begitu berarti dalam hidup kita. Mengenang kembali, kita pernah begitu dalamnya menyimpan rasa untuk seseorang, dan mungkin masih hingga kini..

Benar juga nasehat Ustadz Syafiq Reza dalam kajian beliau yang sangat fenomenal Andai Aku Tidak Menikah Dengannya..

Sesaat setelah menikah.. Kita menjadi pujangga dadakan, sibuk mencari kata-kata indah untuk dipersembahkan kepada kekasih tercinta. Bahkan sampai rela buka kamus segala demi menyenangkan hatinya..

Sedangkan kini? Aha! Bagaimana? Betul apa betul? :))

Ya, tak dapat dipungkiri, seiring bertambahnya usia pernikahan, cinta yang menggebu dan meluap-luap akan mulai meredup.. berganti rasa kasih sayang dan saling nyaman ketika berdekatan seperti sepasang sahabat.

Walau begitu, komitmen dan kesadaran akan tanggung jawab kita pada ikatan pernikahan yang telah dibuat mampu menjaganya tetap kukuh dan utuh..

Dan lagi, pernikahan dan rumah tangga tidak hanya melulu tentang cinta.

Umar Radliyallaahu ‘Anhu menasehati seseorang yang hendak menceraikan istrinya.

“Kenapa engkau ingin menceraikan istrimu?”.

Dia menjawab, “Karena aku sudah tidak mencintainya.”

Maka Umar berkata, “Apakah setiap rumah tangga harus dibangun atas dasar cinta? Kalau memang begitu manakah pentingnya merawat cinta dan menahan kebencian?”

Tiap-tiap orang punya cara sendiri untuk menyatakan cintanya. Cinta, tak selalu berwujud bunga atau kata-kata mutiara.  I do believe that actions speak louder than words. Namun kata-kata indah pada pasangan yang halal mampu merekatkan kembali hubungan kasih yang mungkin mulai retak di sana sini.

Nggak perlu bikin puisi sepanjang jalan kenangan, atau ribet ngutip kata-kata sastrawan terkenal, padahal nggak paham juga apa maksudnya. Lol😀

Cukup menanyakan, “Udah makan siang belum, sayang? Gimana anak-anak hari ini?”

Atau mengirim pesan singkat, “I do love you my other half.. semoga Allah mengekalkan cinta kita hingga ke Jannah-Nya..”  padahal sedang duduk bersebelahan aja, buat saya udah romantis banget.

Mind you guys, para istri, suka dengan kejutan dan perhatian-perhatian kecil. Nggak perlu candle light dinner romantis di pinggir pantai atau jalan-jalan traveling super mewah keluar negeri.

Cukup dengan meyakinkan mereka bahwa orang terkasihnya selalu dekat di hatinya, memperhatikannya, merindukannya. Dimanapun, kapanpun.

Segarkan kembali ingatan saat-saat pertama berkenalan, menaruh hati, kemudian mengikat rasa itu dalam indahnya pernikahan. Bersama-sama mengenang detail dan peristiwa penting yang mungkin terlupa dari ingatan.

It’s more than enough to make her know, your heart is always beside her, no matter what. That makes her feel safe and secure. And that makes her love you more than ever…

Sesungguhnya pernikahan adalah tentang perasaan jatuh cinta lagi dan lagi pada orang yang sama setiap hari. Agree? ;)

~ Jakarta, March 2014.. just a random thought between me, a messed house and a pile of dirty laundry🙂

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

8 thoughts on “Email-email Cinta dan Kepingan Nostalgia

  1. Maa syaa’ Allaah teh meut aku baca nya.. BaarakAllaahu fiyk teh meut. so sweet sekali teteh & suami.. Romantisme dlm Pernikahan itu sesuatu sekali ya teh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s