My Daily Journal

book of journey..

Banyak sekali tulisan di blog ini yang diakhiri dengan kalimat “taken from My Daily Journal” Bahkan saya membuat satu kategori dalam blog ini dengan judul yang sama, My Daily Journal.

“Actually, what is My Daily Journal?”

My Daily Journal  adalah catatan harian saya pribadi yang berbentuk tulisan tangan di atas sebuah note atau jurnal. Kebiasaan menuliskan kegiatan rutin harian sampai ungkapan perasaan terdalam ini (cieehh..) sudah saya lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah. Waktu SMP, tepatnya.

Sebenarnya waktu SD saya pernah punya buku harian alias diary. Warna-warni dan superrr wangi. Tapi alih-alih dipakai buat nulis jurnal pribadi, malah saya gunakan untuk bertukar biodata dengan teman-teman sekelas.

“Numpang buang tinta yach…!”

Ahahay. Nggak lupa nyantumin kata-kata mutiara plus pantun segala. Heheu.. yang besar di era 90-an pasti mafhum nih apa yang saya maksud :p

Ketika masuk SMP, Ummi menghadiahkan sebuah diary mungil lengkap dengan gembok dan kuncinya. Girang banget deh saya waktu itu. “Akhirnya bisa nulis yang er-ha-es alias rahasia. Ihiy!”. pikir saya.

Ternyata harapan itu harus pupus karena Ummi memutuskan untuk menyimpan duplikat kuncinya setelah menyerahkan kunci satunya ke tangan saya. Setelah protes dan nggak digubris akhirnya saya cuma bisa pasrah. Yaaahh.. penonton kecewa nih pemirsah. Nggak jadi deh maen rahasia-rahasiaan.. *sob

Akhirnya diary itu tetap saya isi tapi pakai kode-kode tertentu jadi nggak setiap yang baca ngerti apa yang saya maksud *ala-ala spy.

Malu aja kalo sampe ketahuan emak tercinta sama adek perempuan saya yang keponya tingkat kotamadya itu.. Kalo hari ini lagi sebel sama si anu, lagi bete sama pelajaran ini, atau lagi naksir si itu.

Lol.. Sooo old school! :))

Sewaktu duduk di kelas 1 SMA saya memiliki dua buah diary. Satu berbahasa Indonesia, masih lengkap dengan kode-kodenya, satu lagi full berbahasa Inggris. Diary berbahasa Inggris ini sebenarnya adalah program pelajaran sekolah.

“If you want to improve your English, keep a diary in English. Update it regularly, say everything you want to say there. Don’t be afraid to make a mistake. Just write.“, my English teacher suggested.

Setelah berkomitmen ‘one day one page’, akhirnya bisa juga saya nulis berparagraf-paragraf dalam bahasa Inggris. Woohoo~! Ngerasa keren banget deh pokoknya waktu itu.

Apalagi setelah beberapa bulan diarynya hampir penuh. Meski pas sekarang saya baca ulang rasanya kok ya malu-maluin banget, gitu. Grammarnya acakadul dan sambungan kalimatnya nggak karu-karuan. Kok bisa ya saya dulu nulis geje begini? Hakhakhaks.

Menjelang dewasa (ehem..) banyak yang berubah dari diri saya. Termasuk perubahan dalam topik dan pemilihan kata dalam menulis diary. Bertambahnya usia membuat saya berpikir dan merenung tentang banyak hal.

Banyak sekali yang saya rasakan waktu itu. Rancangan mimpi masa depan, pencarian jati diri dan makna hidup, sampai kriteria calon pendamping idaman *cough.

Tahun 2001-2007 adalah rentang waktu pendewasaan itu berlangsung.

Hampir setiap malam sebelum tidur saya menulis. Ketika seisi rumah sudah terlelap, dalam suasana temaram dan sunyi. Duduk manis di meja belajar, ditemani lampu kecil.. disanalah saya berada menikmati detik demi detik hening dan larutnya malam.

Dalam jurnal harian itu, saya menulis apa saja. Ungkapan segala rasa melebur menjadi satu. Sedih, kecewa, putus asa, pengharapan, bahagia. Proses jatuh bangun dan mencari kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan.

Sampai hal-hal yang begitu prinsipil, pergolakan batin untuk mencari kebenaran, saya luapkan lewat kata-kata. Keputusan-keputusan terbesar yang pernah saya ambil dalam hidup. Ketetapan hati untuk hijrah dan menikah..

Semua saya tumpahkan di sana. Perjalanan hidup yang tak selalu mulus, perjuangan untuk tetap berdiri tegar di tengah hantaman badai dan pertemuan tak disengaja dengan mereka, sahabat-sahabat saya tercinta. Dan diary-diary itu masih saya simpan rapi hingga kini.

Saya menulis, untuk membekukan waktu, mengabadikan peristiwa dan perasaan. Saya menulis untuk mengenal siapa saya, bagaimana saya bertumbuh dari waktu ke waktu. Saya menulis, untuk mengenang masa-masa sulit yang telah berhasil saya lewati dengan pertolongan Allah. Saya menulis, agar anak cucu saya kelak mengenal siapa dan seperti apa ibu mereka ini..

Meski kini telah memiliki blog pribadi, saya tetap menulis di jurnal harian, walau mungkin tak sesering dulu. Ketika suami dan anak-anak sudah tertidur, dalam kesenyapan malam saya bermain-main dengan pena dan kertas. Menulis di atas jurnal harian adalah cara saya melepaskan penat dan lelah.

Lepas sejenak dari rutinitas keseharian, rihlah menanggalkan semua beban dan kekhawatiran. Berpindah ke sebuah dunia kecil bernama jurnal harian. Just me, myself and I.

Here I am sitting, thinking and twisting with words, pen and paper. And a moment like this, nothing ever compares…

~ Jakarta.. just a bunch of thoughts in the middle of the night, April 2014

©aisyafra.wordpress.com

 

[ image source: Tumblr ]

One thought on “My Daily Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s