Anak Kita: Antara Ujian dan Penyejuk Mata

lovely bouquet of flowerss

Ahad kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri bincang-bincang seputar dunia pendidikan anak dan homeschooling bersama Abu Luqman, salah satu penyiar acara rutin anak-anak di radio Rodja tiap Ahad pagi. Dalam kesempatan tersebut beliau menceritakan sebuah kisah, yang kurang lebih isinya seperti ini:

Ada sebuah kisah nyata, tentang seorang laki-laki yang hidup berkecukupan dan memiliki karir cemerlang. Suatu ketika saat karirnya sedang bagus-bagusnya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya tengah sakit keras, sehingga ia memutuskan untuk pulang kampung. Perusahaan tempatnya bekerja hanya memberi izin selama 3 hari untuk pulang mengurus ayahnya yang sakit.

Namun setelah 3 hari ia tidak kunjung masuk kantor, bahkan sampai berminggu-minggu. Setelah berminggu-minggu tidak masuk kantor akhirnya ia dipecat, hilanglah karir yang telah dibangunnya dengan susah payah. Perlu diketahui, ia juga sudah memiliki keluarga berupa anak dan istri.

Apa yang ia lakukan di kampung selama berminggu-minggu? Ternyata ia mengurus ayahnya yang terbaring lemah dengan tangannya sendiri. Selama ayahnya dirawat, ia yang menangani segala keperluannya, sampai urusan membersihkan kotoran sang ayah. Ketika perawat rumah sakit mau membersihkan kotoran ayahnya, ia melarang,

“Biar saya saja yang membersihkan, kalau saya sedang tidur, tolong bangunkan saya..”

Begitu seterusnya sampai sang ayah meninggal dunia. Ketika ditanya apakah ia merasa sedih dan menyesal diberhentikan dari pekerjaan dan kehilangan karirnya, maka ia menjawab,

“Tidak, saya tidak menyesal atau bersedih. Sebaliknya saya justru merasa bahagia bisa mengurus bapak yang sedang sakit dan mengurusi keperluannya sampai beliau meninggal dunia..”

Akhirnya kini laki-laki tersebut mencari nafkah dengan berdagang. Ya, ia rela menukar pekerjaan dan karir beserta gaji tetapnya, dengan penghasilan dari berdagang, yang serba tidak menentu. Hari ini untung besar, mungkin besok malah tidak dapat untung sama sekali.

Subhanallah.. Begitulah kalau seorang anak dididik untuk tidak hubbud-dunya alias cinta dunia. Dia akan lebih mendahulukan berbakti pada orang tua yang besar ganjarannya daripada materi duniawi yang nilainya tidak seberapa.

Mendengar cerita Abu Luqman tersebut saya lantas teringat sebuah pepatah,

“Bagaimana engkau memperlakukan anakmu di waktu kecil, begitu juga ia akan memperlakukanmu kelak saat engkau tua”.

Tentunya anak shalih yang paham akan kewajibannya sebagai anak terhadap orang tua adalah hasil didikan orang tuanya. Anak yang shalih, tidak didapat dengan instan, tapi lewat usaha dan perjuangan yang tidak mudah. Meski ada juga yang justru tidak mendapatkan pendidikan dan contoh yang baik dari orang tuanya, melainkan mendapat hidayah melalui orang lain setelah mereka dewasa.

Idealnya, anak-anak adalah produk orang tua. Bila kita besarkan mereka dengan ketulusan dan kasih sayang, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tulus dan penuh kasih sayang. Bila kita besarkan mereka dengan kekerasan dan kekasaran, maka akan begitu juga perlakuan mereka terhadap orang-orang di sekitarnya kelak, termasuk terhadap kita, orang tuanya.

Bila sedari kecil kita tanamkan kepada mereka sikap zuhud, maka mereka akan memandang bahwa dunia ini tidak lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk. Sebaliknya, bila kita didik mereka untuk mencintai dunia dan menomorsatukan materi lebih dari apapun di dunia ini, maka jangan heran ketika kelak kita sudah tua renta, lemah dimakan usia, mereka akan lebih mementingkan pekerjaan, anak, istri dan urusan-urusan duniawi lainnya daripada berbuat baik terhadap kita. Orang tua yang dulunya melahirkan, mengurus dan membesarkan mereka tanpa pamrih dan penuh cinta kasih…

Masya Allah..

Sebuah kisah yang penuh hikmah. PR besar bagi para orang tua seperti saya. Memang benar bahwa basis pendidikan terpenting seorang anak adalah di rumahnya, bukan di sekolah atau lingkungan sekitarnya. Role model atau sosok panutan adalah orang tua dan keluarga tercinta, maka jadilah contoh terbaik bagi anak-anak kita.

Anak-anak ibarat kanvas putih yang polos, mereka hanya menampilkan apa yang terlukis di atasnya. Kepribadian, karakter dan kefaqihan mereka terhadap ilmu agama ditentukan dari bagaimana mereka tumbuh dan cara mereka dibesarkan.

Sungguh mendidik anak bukan sebuah pekerjaan mudah. Dibutuhkan ilmu, perjuangan, keikhlasan juga kesabaran yang tiada bertepi. Maka patutlah jika ganjarannya adalah pahala yang mengalir tak putus-putusnya, bahkan saat kelak kita telah tiada.

Salah satu dari tiga perkara yang tidak akan terputus, yaitu anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.

Rabbii hablii minash-shaalihin..

~ Jakarta, penghujung April 2014.. teruntuk penyejuk mataku, mereka yang kucintai karena Allah Ta’ala🙂

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “Anak Kita: Antara Ujian dan Penyejuk Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s