The Unconditional Love

parents love

Sejenak bertualang ke masa belasan tahun yang silam..

Dulu, sewaktu masih remaja, saya sering merasa bahwa orang tuaterutama Ummi terlalu mengekang kebebasan saya. Tiap pergi harus pamit, harus jelas: mau kemana, sama siapa, ada acara apa, pulang jam berapa. Nggak pernah ada ceritanya saya keluar rumah dan orang tua nggak tau saya kemana.

Orang tua juga mengenal betul teman-teman dekat saya. Kadang saya bercerita mengenai mereka pada orang tua, kadang orang tua bertanya siapa teman yang barusan saya ajak main ke rumah. Mereka juga suka membuka tas dan melihat-lihat buku-buku yang tergeletak di meja belajar saya. Dan saya lebih suka menyebutnya ‘sidak’ alias inspeksi mendadak. Hahaha.

Mereka juga melarang saya pacaran dan membatasi pergaulan saya dengan lawan jenis. Pesan mereka,

“Kalo cuma sebatas suka sih nggak apa apa, jatuh cinta kan fitrahnya manusia. Asal jangan sampai pacaran, dalam Islam nggak ada yang namanya pacaran. Kalo udah suka dan siap nikah ya mending nikah, daripada dosa. Kalo belum ya jangan deket-deket zina, nah pacaran itu termasuk perbuatan yang mendekati zina. Mau sekolah apa mau nikah?”

Waktu itu saya sungguh merasa seperti katak dalam tempurung. Soal pacaran saya setuju 1000%, wong memang pacaran itu banyak ruginya daripada untungnya, kok. Tapi soal kemana-mana harus bilang dan selektif dalam berteman itu yang menurut saya mengekang.

Ketika Ummi membuat peraturan mau pergi kemana aja harus ngomong dan minta izin,
“Temenku mau pergi kemana aja orangtuanya nggak pernah rese, kok orangtuaku gini ya. Ribet banget deh..”

Ketika Ummi melarang saya berkawan dekat dengan si A yang dikenal sering membolos dan berulah di sekolah,
“Kenapa sih aku nggak boleh temenan sama dia? Kayak anak kecil aja. Lagipula kan dia orangnya baik, bla bla bla..”.

Ketika Ummi menyita salah satu novel yang saya pinjam dari teman sekelas,
“Kenapa aku nggak boleh baca buku ini? Temen-temenku juga pada baca, orangtuanya nggak ada yang ngelarang.. Fine-fine aja tuh.”

Dan seabreg keluhan lainnya.

Intinya saya protes berat diperlakukan seperti itu, kenapa saya tak bisa sebebas teman-teman saya menikmati masa remajanya? Bebas dan lepas tanpa aturan yang membelenggu. Ingin sekali berontak rasanya waktu itu.

“Aku udah besar, nggak mau diatur-atur kayak anak kecil!”

Kembali ke masa kini, masa dimana saya telah menjadi orang tua dan memiliki anak..

Setelah saya mengenal Islam dengan pemahaman yang lebih baik dan menyadari betapa berat tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua akhirnya saya mengerti alasan mereka dulu melarang ini dan itu, menetapkan peraturan yang seakan mengekang..

Semuanya itu bukan karena mereka tidak menyayangi saya, tapi justru sebaliknya, merupakan bentuk rasa cinta dan penjagaan mereka atas diri saya.

Di tengah maraknya kasus kenakalan remaja yang makin mengkhawatirkan belakangan ini, saya merasa amat bersyukur dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai-nilai agama dan kesopanan. Apa yang mereka dulu larang dan perintahkan, tidak lain hanyalah demi kebaikan saya sendiri.

Ketika mereka menetapkan peraturan agar meminta izin bila hendak pergi keluar rumah, sebenarnya adalah agar saya terjaga dari berbagai kejahatan yang mengintai di luar sana. Seandainya terjadi apa-apa dengan saya, akan lebih mudah mencari dan menelusuri jejaknya. Selain itu, agar saya tidak terlalu sering keluar rumah kecuali memang benar-benar perlu.

“Karena sebaik-baik perempuan itu tempatnya di rumah, nduk..”  pesan beliau.

Ketika mereka melarang saya berkawan akrab dengan si A, misalnya. Mereka paham kalau anak remaja seusia saya waktu itu tengah dalam proses pencarian jati diri. Jiwa yang labil ditambah dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Pengaruh baik dan buruk sama kuatnya, terlebih-lebih pengaruh yang berasal dari teman sebaya.

Mereka memilihkan teman untuk saya karena mereka lebih berpengalaman mengenai jenis-jenis watak manusia..

Ketika mereka melarang saya untuk membaca jenis buku tertentu, mungkin mereka bermaksud  membentengi saya dari bacaan-bacaan yang merusak. Mungkin novel yang saya pinjam itu mengandung konten ‘dewasa’ yang berdampak buruk pada perkembangan jiwa remaja saya waktu itu.

Sebagai gantinya mereka mengizinkan saya berlangganan majalah remaja Islami yang aman dan bermuatan positif.

Ya, seringkali kita sebagai anak (apalagi di usia muda) bermudah-mudahan melabeli orang tua dengan sebutan kuno, ketinggalan zaman dan otoriter. Padahal belum tentu mereka benar-benar seperti yang kita duga. Mereka jauh lebih berpengalaman dalam hidup, istilahnya sudah makan asam garam kehidupan. Banyak sudah peristiwa yang mereka lalui dalam hidup ini..

Belum tentu mereka yang kita lihat bebas dan merdeka dari aturan lebih enak hidupnya dibandingkan kita. Pernah saya dengar curhatan seseorang,

“Kamu beruntung punya orang tua yang suka ngatur dan banyak nanya ini itu, itu tandanya mereka masih care, masih peduli. Kalo aku, mana pernah orangtuaku nanyain aku, ngobrol juga jarang.. Yang penting uang jajan sama bayaran sekolah lancar, kalo kurang tinggal ngomong. Tapi ya hidupku begini rasanya.. sepi..”

Maka ketika adik saya yang masih ABG dan duduk di bangku SMP acapkali kesal karena mau ini itu sering nggak dibolehin, saya nasehatkan kepadanya,

“Kamu kecewa, kamu kesel.. tapi asal kamu tahu, Ummi sama Abi itu ngelarang pasti ada sebabnya. Mungkin sekarang kamu belum bisa ngerti alasan mereka berbuat seperti itu, tapi nanti, bertahun-tahun kemudian, mungkin ketika kamu udah dewasa.. Kamu akan sangat bersyukur kamu dulu dilarang-larang begini. Mbak Tia udah ngalamin soalnya..”

Pernah saya berandai-andai, jika saja dulu Allah tidak menjaga saya dan orangtua tidak ketat mengawasi, bisa jadi saya ikut arus pergaulan yang nggak bener. Pola asuh keluarga sangat menentukan kepribadian tiap anggotanya, terutama anak. Apalagi di zaman sekarang, yang tingkat kerusakan remajanya jauh lebih parah dari zaman saya ABG dulu.

Paparan pornografi yang sulit dibendung, derasnya arus teknologi di era bebas informasi, merajanya jaringan internet dan besarnya pengaruh sosial media bagi para remaja. Allahul Musta’an.

Sampai-sampai ada kawan suami yang berkomentar di akun Facebooknya seperti ini,

“Biarin deh gue dicap parno, ngekang anak, ngatur-ngatur anak, toh ini anak juga anak gue. Kalo rusak, kalo ada apa-apa juga cuma gue yang ngerasain paitnya. Hari gini gitu loh, yang namanya anak kalo nggak diprotect bisa kecolongan kita. Anak-anak jaman sekarang nggak kayak jaman kita dulu, cuy..”

Hati orangtua mana yang tidak hancur dan terluka melihat buah hatinya yang mereka rawat sejak kecil, kini terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba, kriminalitas bahkan sampai hamil di luar nikah?

Dan bila itu terjadi, apakah mereka akan membuang begitu saja anaknya itu ke tepi jalan seperti sampah yang tak berguna, atau berbesar hati untuk menerimanya sebagai takdir dan ujian.. Untuk kemudian mencoba memperbaiki dari awal lagi..

Tidak ada orangtua yang tidak mencintai anaknya.

Kasih orangtua adalah setulus-tulus dan semurni-murninya cinta. Meski bentuk rasa cinta dan perhatian tiap orangtua terhadap anaknya berbeda-beda, tapi fitrah tiap orangtua adalah mengasihi anaknya, seburuk apapun anaknya. Bahkan ada orangtua yang rela bertaruh nyawa demi keselamtan anaknya tercinta.

Tidak ada yang bisa menyamai jasa mereka dalam hidup kita. Betapa berat perjuangan mereka menjaga kita sebagai sebuah amanah sejak kita membuka mata ke dunia, bahkan sampai kelak kita menikah dan memiliki anak, kita masih akan tetap membutuhkan mereka.

Sepanjang hidup kita.

Pernahkah kita sejenak merenung, banyak hal yang kita tuntut dari mereka, selalu merasa mereka kurang ini dan itu sebagai orangtua.. Tapi apa saja yang sudah kita berikan untuk mereka selama ini sebagai bentuk bakti dan rasa terima kasih kita?

Bila kita tidak bisa membuat mereka tertawa, setidaknya kita tidak membuat mereka menangis..

Banyak hal-hal yang tidak mampu kita pahami saat ini, karena kita hanya (mau) melihat dari sisi kita. Pernahkah kita mencoba melihat dari sisi mereka? Sometimes, their eyes see things our eyes can’t see..

Banyak hal-hal yang menurut kita tidak seharusnya mereka lakukan, namun yakinlah.. Seiring berjalannya waktu kita akan sadar, apa yang mereka lakukan tidak lain adalah karena satu hal: that unconditional love.

Cinta yang begitu murni dan tanpa syarat, yaitu cinta orangtua kepada buah hatinya.

“Love your parents. We are so busy growing up, we often forget they are also growing old…”

~ Jakarta, one sunny afternoon of May 2014.. there’s a reason for all that I do, sweetheart. And the reason is you.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: WeHeartIt ]

18 thoughts on “The Unconditional Love

  1. Orangtuaku juga pola didikannya sama kayak orangtuanya Kak Meutya. Aku ngerasain kyk kuda lepas pas SMA waktu jauh dr orangtua, ngerasa bebas gak diawasi lagi. Tapi cuma awalnya aja. Lama-lama malah pengawasan dan omelan mereka yg bikin aku ngerasa “diperhatikan”. prokteksi orangtua kpd anaknya saat ini musti berkali-kali lipat ya kak, aku serem banget dg pemberitaan di media soal anak-anak😥.

    • Kuda lepas, well said😀 tapi bener juga lho aku dulu pengen yang bebas nggak diatur-atur.. pas udah dewasa baru sadar kalo dulu tali kekangnya nggak ditarik, bisa jadi aku udah kebablasan..

      Hu um.. makanya tanggung jawab orang tua zaman sekarang berat banget Eka, mesti punya ilmu-aware-buka mata-buka telinga-melek teknologi.. harus jadi smart parents. Kalo nggak butuh bersosialisasi pengennya mereka aku kurung aja di rumah😦

      Allahul Musta’an..

  2. Assallamualaikum kak Meutia saya suka semua tulisan kaka, bermanfaat buat saya Alhamdulillah tp mhn maaf saya copas tanpa ijin , mhn maaf ya kaka😦

  3. Dan usia aku yang udah 27 tahun lebih pun. perhatian ibu aku begitu besar teh. Memang kasih sayang orangtua kpd anaknya itu tanpa mengenal batas dan tanpa syarat.. Barakallaahu fiik teh meut untuk tulisan nya :*

    • Betul sarah. Cinta paling besar (setelah cinta kepada Allah) adalah cintanya orangtua kepada anaknya. Bahkan cinta pasangan pun nggak sebesar cinta orang tua kita kepada kita. Apalagi setelah kita nanti jadi orang tua.. Berasaaa banget. Hiks.

      Wafiyk barakallaah, sarah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s