Cloth Diapering is Fun! :)

Apa sih cloth diaper itu?

Merujuk pada Wikipedia, istilah cloth diaper artinya:

A reusable diaper made from natural fibers, man-made materials, or a combination of both.[1] They are often made from industrial cotton which may be bleached white or left the fiber’s natural color. Other natural fiber cloth materials include wool, bamboo, and unbleached hemp. Man-made materials such as an internal absorbent layer of microfiber toweling or an external waterproof layer of polyurethane laminate (PUL) may be used. Polyester fabrics microfleece or suedecloth are often used inside cloth diapers as a “stay-dry” wicking liner because of the non-absorbent properties of those synthetic fibers.

Modern cloth diapers come in a host of shapes, including preformed cloth diapers, all-in-one diapers with waterproof exteriors, fitted diaper with covers and pocket or “stuffable” diapers, which consist of a water-resistant outer shell sewn with an opening for insertion of absorbent material inserts.[2] Many design features of modern cloth diapers have followed directly from innovations initially developed in disposable diapers, such as the use of the hour glass shape, materials to separate moisture from skin and the use of double gussets, or an inner elastic band for better fit and containment of waste material.[1]

Pertama kali berkenalan dengan cloth diaper yang sering disingkat dengan clodi adalah beberapa bulan setelah kelahiran anak kedua saya, si pipi gembil alias Aisyafra. Ada kawan yang menjualnya di Facebook. Waktu itu saya belum tertarik, mungkin karena saya tipe orang yang kalau membeli barang lebih suka melihat dan memegang barangnya langsung daripada hanya melihat melalui katalog online.

Oktober 2010. Pagi itu saya, suami dan anak-anak jalan-jalan ke pasar pagi di jalan Juanda, Depok. Di pasar yang serba murah meriah ini tersedia berbagai macam barang-barang oke dengan harga miring. Tak sengaja menemukan lapak perlengkapan bayi yang menjual clodi. Karena penasaran, saya beli 1 buah. Merknya Pempem, sistem pocket warna pink polos dengan velcro yang bermotif bunga. So pretty. Itu adalah clodi pertama yang saya punya.

my first modern cloth diaper ^^

my first modern cloth diaper ^^

Seneng banget rasanya. Nah, kalau udah megang barangnya gini udah nggak penasaran lagi dan nggak ragu untuk selanjutnya beli lewat online. Akhirnya karena penasaran saya rajin gegulingan di mbah Google, untuk tahu lebih jauh tentang si clodi ini. Saya juga join milis popok kain di yahoogroups untuk menambah wawasan. Saya mencari-cari tahu sendiri soal clodi ini, paling hanya mengandalkan mbah Google sebagai sumber info. I was so dangerously curios. Especially dangerous for my hubby’s wallet. :p

Setelah merasakan enaknya ber-clodi ria, akhirnya saya putuskan untuk menambah koleksi clodi si pipi gembil. Pertama kali ngajuin ‘proposal’ ke suami rasanya gimana.. gitu. Maju mundur khawatir ditolak. Soalnya untuk konsisten ber-clodi ria ini butuh ‘modal’ awal yang lumayan besar. Taruhlah satu set clodi lokal dengan kisaran harga 70-80 ribu rupiah, sedang setidaknya untuk stok sehari-hari setengah lusin saja rasanya nggak cukup. Apalagi pas musim hujan, sistem kejar tayang jadi andalan emak-emak dengan jumlah clodi terbatas seperti saya. Mesti minta persetujuan dari si Bos nih buat nambah stok.

Setelah berbusa menjelaskan untung ruginya beralih ke clodi akhirnya beliau mengizinkan untuk membeli beberapa clodi lagi sebagai cadangan stok. Yeaayy, alhamdulillah! Sekaligus memuaskan keinginan saya untuk memiliki clodi yang lucu-lucu itu. Haha iya, soalnya tiap liat beranda Facebook, ‘racun’ berupa clodi-clodi mungil nan unyu dan warna-warni itu seperti melambai-lambai untuk saya miliki. Halah, lebay. Bilang aja emaknya yang penasaran pengen nyoba macam-macam merk, hahaha.

Oke, perburuan dimulai. Satu demi satu online shop saya jelajahi, setelah mencoba beberapa jenis dan merk saya menemukan beberapa yang rasanya pas dan cocok. Iya, clodi itu emang cocok-cocokan. Cocok di anak saya, belum tentu cocok juga di anak orang lain. Di milis kami sering sharing soal pengalaman dan review merk clodi apa saja yang recommended beserta alasannya. Ah, that was a good times. Tak sabar tiap hari saya menunggu email dari milis itu seperti menunggu surat cinta dari kekasih hati. Haiyaahh😀

Sedikit review dari beberapa merk clodi yang saya punya..

  1. Pempem. Clodi pertama yang tak sengaja saya beli ini malah yang paling cocok buat anak-anak saya. Nggak gampang tembus, innernya lembut, velcronya tahan lama, nggak gampang mbrudul. Insert bamboonya juga oke buat pemakaian siang. Cocok buat pergi keluar rumah karena jarang bocor. Saya punya lebih dari setengah lusin.
  2. Enphilia. Merk paling favorit setelah pempem. Harganya murah meriah. Saya punya sampai beberapa buah. Empuk karena berbahan polar fleece, non-PUL jadi lebih breathable. Cocok buat pemakaian siang dengan sistem cover atau malam hari dengan kombinasi insert stay dry GG. Top abis! Bisa juga disulap jadi training pants ketika digunakan tanpa insert.
  3. Cluebebe. Motifnya lucu-lucu. Nggemesin banget deh kalo megang langsung. Sayangnya pas dipakai sering bocor samping.. Jadi khawatir buat dipakai pergi keluar rumah lama-lama.
  4. Sheizy. Motifnya keren, saya punya tiga buah. Meski sistemnya pocket, tapi entah kenapa innernya sering banget nggak nyerap sempurna. Jadi akhirnya mbleber ke samping deh. Akhirnya saya siasati dengan sistem cover (insert diletakkan di atas permukaan inner). Lumayan untuk pemakaian selama 2 -3 jam.
  5. Alvababy. Clodi ini hadiah dari sebuah ol shop karena sudah me-like fanpage tersebut. Reviewnya, cenderung gampang tembus karena outernya (walau sudah PUL) ternyata lebih tipis dari yang lain.
  6. GG. Merk ini cukup populer di masanya (halah), termasuk clodi favorit beberapa emak-emak di milis dan FB. Tapi buat si pipi gembil kok kurang cocok ya. Velcronya cepet mbrudul, elastik samping gampang melar dan outernya lemes banget jadi gampang tembus. Saya punya dua tipe, yang original dan pull-up pants untuk melatih si gembil toilet training.

Mengapa memutuskan beralih ke clodi?

Di antara hal-hal yang membuat saya mantap untuk ber-clodi ria adalah sebagai berikut.. Ehem! *benerin jilbab*

1) Meski di awal kelihatannya boros, tapi keputusan untuk ber-clodi ria justru usaha untuk berhemat. Iya sih, mereka yang saya kampanyekan untuk beralih ke clodi rata-rata berpendapat sama, “Satu popok harganya segitu? Mahal banget ya dibandingin pampers (disposable diaper alias popok sekali pakai, they used to called it that way.. -,-)”.  Saya jelaskan, “Emang pake clodi itu berat di awal mbak, dulu juga saya ngerasa gitu. Jauh kalo dibandingin sama pampers. Tapi kalo kita kalkulasi jangka panjang, justru cloth diaper itu menghemat pengeluaran lho..”.  “Kok bisa mbak?”  tanya teman saya tadi.

Gini ya mbak, kalo beli satu clodi seharga pampers merk ternama yang isinya 40 biji kayaknya jauh lebih murah pampers ya. Tapi pampers segitu banyak kan kita buang, sedang clodi bisa kita pakai berulang-ulang dan diwariskan ke adiknya si kecil kelak, kalau kita telaten ngerawatnya..”  sambung saya lagi.

Kalau dihitung-hitung setidaknya dalam sehari seorang bayi memerlukan 3-4 buah popok sekali pakai. Belum termasuk kalau si bayi sebentar-sebentar pup. Apalagi newborn (untuk 1 bulan pertama saya hanya memakaikan popok bertali dari kain tetra, popok bekas saya bayi dulu, karena lebih breathable dan menyerap keringat). Nah kalau pakai clodi, setidaknya saya bisa merasa ‘aman’, kalau popoknya baru diganti terus pup pun, bisa dicuci lagi. Hehe.. *emak-emak ngirit*

2) Lebih ramah lingkungan. Seperti yang kita ketahui bersama, sampah popok sekali pakai dan pembalut sekali pakai adalah jenis sampah yang sulit diurai. Jadi dengan menggunakan popok kain alias clodi kita sudah ikut menjaga bumi dari tumpukan sampah yang sebenarnya bisa diminimalisir. Go green, istilah kerennya..

3) Mengajari saya untuk rajin dan telaten. As we know, clodi butuh perawatan khusus. Contohnya, sebelum dipakai harus dipre-wash beberapa kali biar inner maupun insert menyerap cairan dengan sempurna. Diutamakan hand wash alias dicuci dengan tangan, atau kalau mau dicuci dengan mesin, bisa menggunakan laundry net supaya clodi tetap awet. Deterjen yang digunakan tidak boleh mengandung pelembut, karena pelembut bisa membuat lapisan permukaan clodi menolak air (repell). Hal itulah yang membuat clodi sering bocor.

Clodi dan insertnya juga tidak boleh disetrika, dan untuk clodi dengan lapisan PUL sebaiknya tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung karena dapat merusak lapisan PULnya. Clodi juga harus sering-sering distripping alias dibersihkan dari residu kotoran dan deterjen. Demikian info yang saya dapat selama bergabung dengan milis popok kain, sila dikoreksi jika ada yang kurang tepat. Mengenai proses perawatan clodi dan metode stripping bisa dilihat di sini.

Ribet ya? Sejujurnya iya. Tapi ada keasyikan tersendiri ketika mengumpulkan clodi satu demi satu, merawatnya dan memakaikannya pada si kecil. The excitement is like how we choose and commit ourselves to give only homemade baby food to our babies. Kind of hectic but it’s worth it, isn’t it?🙂

image by Google

[image by Google]

Tak perlu keluar banyak uang untuk beralih ke clodi. Kita bisa membeli cover atau pocketnya saja kemudian insertnya bisa menggunakan kain flanel atau alas ompol yang dipotong-potong. Dari 20 buah clodi yang saya miliki, jumlah insert hanya sekitar separuhnya, selebihnya saya gunakan kain flanel yang menyerap air (karena ada beberapa kain flanel yang bersifat menolak air atau kurang bagus daya serapnya). Atau beli pas ada promo dan paket hemat dari olshop tertentu. Jatuhnya memang jauh lebih murah daripada beli satuan.

Sesuaikan keinginan dengan budget. Jika kantong tak menjangkau merk impor alias premium, maka clodi lokal bisa jadi pilihan. Seperti saya yang semua koleksi clodinya cukup yang lokal sahaja. Alhamdulillah saya cukup puas dengan kualitas clodi buatan dalam negeri ini. Meski beberapa review di milis mengatakan, ada rupa ada harga, performa clodi premium jauh lebih oke ketimbang merk lokal.

Setelah si pipi gembil pensiun dari clodi-clodinya sekitar 1,5 tahun yang lalu, clodi-clodi itu saya cuci bersih lalu saya simpan di lemari. Ada yang sebagian saya berikan pada teman sebagai bentuk pengenalan mereka terhadap popok kain ini. Iyes, saya sering banget mengkampanyekan sehat dan hematnya ber-clodi ria kepada teman-teman. Sampai-sampai kalau ada ummahat yang tertarik sama clodi disuruh langsung sms saya, nanya-nanya dari A-Z, bahkan sampai minta dibelikan via online. Sampai-sampai saya seringkali dapat pertanyaan, “Jualan clodi ya umm?”.  Zzzzzzz😀

Kini ketika Fiqar, anak ketiga saya lahir, clodi-clodi itu kembali bermanfaat. Paling saya menambah beberapa buah clodi baru untuk melengkapi koleksi. Mata saya juga udah nggak ‘selapar’ dulu waktu clodi lagi booming-boomingnya. Insya Allah saat Fiqar lulus toilet training nanti, clodi-clodi warna-warni itu akan kembali tersimpan rapi di lemari sampai giliran pemakai berikutnya tiba. Hmmm.. kapan ya? Uhukss :p

~ Jakarta, Mei 2014.. diselesaikan menjelang tengah malam ketika seisi rumah telah tertidur lelap..

 

5 thoughts on “Cloth Diapering is Fun! :)

  1. hihi, saya juga pemakai clodi untuk anak saya mbak. beneran malah jadi irit. emang berat awalnya tapi ga nyesal di belakang. oh iya mbak, kalau stripping itu sebulan sekali atau gimana ya? untuk outernya distripping dengan apa ya, kan ga boleh tu disiram air panas.

    • Kalau saya seringnya 2 pekan sekali, atau pas udah gampang bocor aja.. Setahu saya, metode stripping kan macem2 ya, ada yang dicampur sedikit vinegar (cuka apel), pakai RLR, direbus sebentar (untuk insert atau outer yang non PUL) atau dibilas berkali2 dengan air hangat sampai tidak muncul busa. Untuk outer yang ber-PUL cukup direndam air hangat dan dibilas berkali2 aja bun.. Jangan pake air panas nanti PULnya rusak.

      Thanks for sharing ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s