Dilema Para Ibu Bekerja

black shoes

Pagi ini beberapa saat setelah suami berangkat kerja, satu pesan Whatsapp  masuk ke handphone saya. Ternyata dari suami yang baru saja sampai di tempat kerja..

“Habis liat anak kecil kurang lebih 1 tahunan ditinggal pergi sama bapak dan ibunya kerja naik motor. Anak itu ditinggal sama pembantu lagi disuapin di sepeda roda tiga. Melongo aja ditinggal. Ngeliatnya kok ya miris pisan ya..”

“Iya kasian ya A.. Anak-anak ditinggal Aa aja nanyain melulu, apalagi ditinggal kita, dua-duanya kerja..”

Memang anak-anak kalau ditinggal Abinya kerja selalu ribut bertanya, “Mi, kapan Abi pulang? Ini kan udah sore? Kok lama banget kerjanya?”

Atau ketika suami terpaksa meninjau proyek di hari libur, si sulung protes, “Abi kok kerja mi? Kan hari ini libur?”

Alhamdulillah saya sendiri dimudahkan oleh Allah untuk bisa tetap tinggal di rumah, mengurus anak-anak tanpa harus repot mencari tambahan nafkah keluar rumah. Suami tidak pernah menyuruh saya untuk ikut mencari uang, padahal beliau tahu saya memiliki keahlian menjahit yang cukup bisa diandalkan jika mau serius membangun usaha di rumah. Karena sebelum menikah pun, saya sudah terbiasa mencari uang sendiri sebagai penjahit rumahan.

Tapi beliau bilang tidak usah, tugas saya hanya mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Lebih baik saya fokus di situ. Dan alhamdulillah suami sudah mencukupi semua kebutuhan kami, bahkan sangat lebih dari cukup.

Lalu bagaimana dengan para istri yang penghasilan suaminya tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya? Misalnya ada tanggungan lain dari pihak keluarga, seperti orang tua yang sudah renta dan tidak bisa mencari nafkah, atau adik-adik yang masih sekolah sedang orang tua sudah meninggal dunia..

Kemana mereka harus mencari tambahan biaya? Sedang jika tidak dipenuhi malah akan timbul berbagai mudharat..

Tidak semua keluarga memiliki kondisi ideal seperti rumah tangga pada umumnya, yaitu suami bekerja dan istri tinggal di rumah. Jika memang benar-benar terpaksa dan tidak ada jalan keluar lain selain bekerja di luar rumah, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, di antaranya..

  1. Tidak ikhtilat dengan kaum laki-laki,
  2. Pekerjaan sesuai dengan tabiat wanita,
  3. Tidak menelantarkan tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga,
  4. Pakaian harus sesuai dengan jilbab syar’i,
  5. Izin suami bagi yang telah memiliki suami, dan izin wali bagi yang tidak bersuami,
  6. Tidak memiliki orang yang dapat mencukupi kebutuhannya,
  7. Pekerjaan sangat dibutuhkan masyarakat, sementara tidak ada laki-laki yang dapat melakukannya,
  8. Pekerjaan dilakukan pada lingkup wanita saja,
  9. Tidak ada ketimpangan tanggung jawab, dimana seolah-olah wanita merebut dunia laki-laki.

(Dikutip dari buku Bidadari 2 Negeri, Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, Bab 8 hal. 141-142)

Seorang teman saya pernah curhat mengenai keadaannya yang terpaksa bekerja di luar rumah,

“Iya mbak, aku tahu kerja di luar rumah, ikhtilat setiap hari dan meninggalkan anak itu berdosa, walau dengan alasan apapun. Tapi gimana ya mbak, suamiku nggak bisa kerja berat karena penyakitnya nggak membolehkan dia untuk capek, jadi mau nggak mau aku yang ambil alih. Dan untuk saat ini hanya pekerjaan ini yang bisa aku lakukan..”

“Aku tahu aku salah mbak, aku kadang suka nangis kalo inget ini. Aku takut kalo suatu saat Allah ambil nyawaku sementara aku masih dalam keadaan seperti ini. Semoga Allah kasih aku jalan keluar dan pekerjaan yang lebih baik..tambahnya lagi.

“Aamiin ya Rabb.. Yang sabar ya, semoga Allah mudahkan segala urusanmu..”  jawab saya.

Seandainya saat itu ia ada di samping saya, ingin betul saya memeluknya. Rasanya saya dapat memahami kegundahan yang ia rasakan. Di satu sisi, ia ingin berhenti dari pekerjaannya dan menjadi full time mom. Mengabdikan diri sepenuhnya untuk suami dan anak-anak. Tapi di sisi lain, ia butuh pekerjaan itu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Setidaknya untuk saat ini.

Di akhir pembicaraan kami,

“Semoga Allah gantikan pekerjaanmu saat ini dengan yang lebih baik, ya. Ingatlah janji Allah, barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan gantikan sesuatu itu dengan yang lebih baik. Semangat ya berikhtiar.. Hugs!”

Kawan saya yang lain bercerita, mengapa ia terpaksa mengambil beberapa job di luar rumah sekaligus, istilahnya serabutan..

“Ya kalo ditanya, saya sih pengennya anteng di rumah. Nggak usah keluar rumah ngurus anak-anak kayak ibu-ibu lainnya. Tapi kalo saya berhenti, ya bener-bener nggak cukup, paling cuma bisa buat makan. Apalagi biaya sekolah anak tau sendiri, makin mahal tiap tahun..”

Demikian curahan hati sebagian kawan-kawan saya yang ternyata, keputusan bekerja adalah di luar keinginannya. Jauh di dalam hatinya, mereka ingin seperti para ibu rumah tangga lainnya yang tidak perlu bersusah payah mencari tambahan penghasilan. Tapi, ujian tiap orang memang berbeda-beda kan?

Semoga Allah memberi jalan keluar terbaik bagi mereka..

Saya tidak ingin menghakimi para orang tua, terutama ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Tiap keluarga pasti punya kebutuhan dan pertimbangan masing-masing mengenai hal ini. Baiknya kita jangan langsung melabeli mereka dengan cap negatif.

Kita tak pernah tahu kondisi apa yang membuat mereka memilih bekerja di luar rumah. Tidak semuanya bekerja hanya karena mengejar popularitas dan prestise sebagai wanita karir..

work from home

Ada banyak alasan di balik kisah para ibu bekerja. Ada yang bekerja karena memang lingkungan pekerjaannya mendukung ia untuk berhijab syar’i, bebas ikhtilat dan profesinya banyak maslahatnya bagi umat. Ada juga yang memang terpaksa seperti saya tadi.

Ada yang karena statusnya sebagai single fighter dalam keluarga, sang suami terbaring sakit atau cacat sehingga tidak dapat keluar untuk bekerja. Atau karena statusnya yang tidak lagi bersuami, maka mau tidak mau ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  anak-anaknya..

Ada yang memang dengan bangga ingin meraih predikat sebagai wanita modern yang berkarir di luar rumah, meski harus meninggalkan anak-anaknya di bawah asuhan babysitter atau asisten rumah tangga.

Banyak alasan yang mendasari keputusan tiap ibu, baik yang bekerja di luar ataupun tidak, bekerja membantu suami dari rumah atau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.

We never really know what happens behind the closed doors, so don’t judge.

Pada akhirnya, hanya kitalah yang paling mengetahui, mengapa kita memilih profesi yang kita jalani saat ini, apapun itu. Setidaknya, hati kecil kita tidak pernah bisa dibohongi..

~ Jakarta, 2 Juni 2014.. renungan singkat di suatu sore yang cerah.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

29 thoughts on “Dilema Para Ibu Bekerja

  1. Jujur saya terpaksa bekerja mbak. Bukan panggilan hati, karena saya lebih memprioritaskan anak dan keluarga. Tapi kalau saya tidak bekerja malah menambah masalah baru dalam rumah tangga (suami yang tidak setuju saya berhenti kerja). Jadi saya syukuri dan nikmati saja status saya sebagai WM saat ini sambil nyambi-nyambi jadi reseller produk perlengkapan bayi. Karena kalau saya terus-terusan mengeluh dan selalu iri dengan para FTM jelas bikin hidup saya nggak bahagia hehe. Semoga ke depannya usaha sampingan saya lebih bisa diandalkan sehingga tak perlu repot keluar rumah mencari tambahan penghasilan. Walaupun saya bekerja, tapi saya niatkan tidak untuk sampai pensiun. Mohon doanya ya mbak.

  2. Saya ibu yang bekerja, jujur sebenarnya saya juga pengen spt ibu2 lain yang hanya mengurus rumah dan anak-anak. Tapi pekerjaan suami tidak bisa diandalkan, kadang bekerja kadang tidak. Alhamdulillah anak saya sudah besar, jadi sudah bisa mengurus diri sendiri. Saya juga tidak tahu sampai kapan saya akan bekerja, mengalir aja saya jalanin.
    Doakan supaya saya bisa jadi FTM.

  3. miris..
    pengen bangett.. niat dari hati paling dalem utk bisa urus anak dengan tangan sendiri.. membesarkan nya dgn cara sendiri..
    pagi2 bisa mandiin dia, ajak dia jalan-jalan, antar dia sekolah, membantunya mengerjakan PR, aahh..seperti itu rutinitas yg aku inginkan :((
    saat ini masih jadi working mom, krn saya masih berburuk sangka sama Allah (takut rezekinya gak mencukupi) masha allah..
    sekarang, mau sisihkan uang utk bisa ambil kursus rias pengantin, biar bekerja nya hanya sabtu/minggu dan berada dilingkungan dan dilakukan pada lingkup wanita saja🙂

    mohon doa dari ukhti semuaaa..
    semoga niat baik ini terwujud dalam waktu dekat
    aamiin ya rabb..

  4. Assalamualaikum wr wb mbak,
    Saya seorang ibu rumah tangga 2 anak (yg pertama umur 12 th yg kedua umur 4 th) yang juga sempat berkarir diperusahaan asing dan nekat mengajukan resign 3,5 thn yg lalu walaupun secara finansial kami kerja berdua aja masih kurang apalagi kalau cuma suami; tiap kami berdua gajian, uang habis entah kemana, gak ada sisa buat ditabung… nutupin utang kiri kanan atas dan bawahlah,buat kebutuhan pokok dan hiburanlah.
    Alasan saya resign semata2 hanya karena Allah..dan memang saya sudah membuktikan kata2 mbak diatas bahwa “Ingatlah janji Allah, barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan gantikan sesuatu itu dengan yang lebih baik”.
    Alhamdulillah setelah saya resign dan fokus mengurusi kedua anak saya dan suami ternyata keadaan ekonomi kami mulai membaik dan mulai bisa menabung walaupun sedikit2…saya juga lebih bisa fokus beribadah dirumah, mendoakan suami yang berjuang untuk memenuhi nafkah buat kami keluarganya, mengajarkan pengetahuan agama kepada anak2 saya, membantu mengerjakan PR , mengantar dan menjemput mereka pulang dari sekolah, dimana hal ini tidak mungkin saya lakukan jika saya masih berkarir (secara saya berangkat dari rumah jam 7 pagi dan sampai dirumah jam 7 malam)
    Satu hal yang selalu membuat saya selalu terharu adalah saat saya menyadari bahwa betapa Allah selalu menepati janjiNya kepada saya, betapa waktu saya nekat mengajukan resign setelah 11 tahun berkarir dengan harapan hanya bersandar kepada-Nya ternyata Allah betul2 memenuhi kebutuhan kami..rezeki ada saja datangnya tanpa diduga2…Alhamdulillah..
    Demikian ‘curhat’ saya, maaf ya mbak kalau kepanjangan…mohon maaf bila ada yg tidak sepaham…semata2 saya tulis hanya karena Allah SWT…kesalahan ada pada saya semata…
    Wassalamualaikum wr wb

    • Wa’alaikumussalam.. masya Allah, membaca komentar bunda mata saya berkaca-kaca.. memang janji Allah selalu benar ya bunda, kita sebagai manusia hanya bisa menjangkau dengan akal kita yang terbatas, sedang pengetahuan Allah jauh lebih canggih perhitungannya.

      Barakallahu fiik, semoga Allah merahmati bunda dan keluarga. Salam kenal bunda Kayla Daffa🙂

  5. Suka sekali dengan kata2 ini. We never really know what happens behind the closed doors, so don’t judge.
    Saya pun juga seorang wm yg bekerja karena mungkin tak ada pilihan, jika saya tidak bekerja mudorotnya mungkin akan lebih besar setidaknya menurut pertimbangan saya saat ini. Dahulu saya sempat memutuskan untuk tidak bekerja pasca lulus kuliah atau hanya mengambil pekerjaan-pekerjaan freelance, qaddarallah ternyata hidup tidaklah semudah yang dibayangkan, ada banyak keputusan-keputusan tertentu yang terpaksa harus diambil demi mencapai mashlahat yang lebih besar, disebabkan kondisi yang tidak ideal. Risikonya, saya harus punya komitmen untuk tetap mengurus rumah tangga dengan baik, bangun lebih pagi untuk memasak dan pulang kerjapun masih ada beberapa pekerjaan rumah yg harus diselesaikan dan alhamdulillah suami tetap ringan tangan tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga.
    Ada banyak alasan yang mungkin tidak perlu diketahui orang lain mengapa sampai saat ini kita masih menjadi wm, bukan semata-mata karena karir atau prestise tetapi lebih karena untuk memenuhi kebutuhan.

  6. Subhanallah Ya Allah saya bener bener sedih mata saya berkaca kaca baca curahan hati bunda bunda yang tersayang ini..karena saya sedang merasakan hal yang sama.Dilema antara tetap bekerja atau berhenti untuk fokus pada sekolah anak. Mohon maaf sebelumnya, selama saya bekerja dari penghasilan saya dan suami hanya untuk biaya hidup satu bulan, tiap bulan terkadang suka bingung kenapa kami sulit sekali untuk menabung selalu saja di ambil dr tabungan untuk menutupi kekurangan biaya sehari2. wacana ini sering kali saya bicarakan dengan suami, suami saya tidak pernah memaksakan saya bekerja malah meminta saya untuk berenti jadi bisa urus anak sekolah, mengajari anak sekolah, tiap hari bisa masak untuk suami dan anak.suami saya selalu meyakinkan saya “Pasti ada rezekinya, Selalu ada Rezekinya selama Ayah masih berusaha dan ayah akan tetep berjuang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang ayah minta bunda bisa lebih fokus ibadah dengan melakukan ibadah yang shunah diluar ibadah fardhu seperti contoh Sholat Dhuha doa meminta rezeki”..Tapi dalam hati kecil saya masih merasa agak takut kami kekurangan krna saya harus berenti kerja walaupun sama saja saya ikut bekerja juga tidak bisa menabung banyak.suami saya selalu meyakinkan kalau saya berenti kerja saya bisa mengontrol keuangan dengan baik, mengerem keinginan yang tidak terlalu penting karna saya punya pola hidup boros.maaf ya bunda saya bicara kekurangan saya..dan disisi lain Orang tua dan mertua perempuan yang setiap bulanya saya kasih uang bulanan , bagaimana dengan mereka.saya bener bener bingung mohon kasih saya pencerahan..Bulan Juli besok rencana saya akan mengajukan pengunduran diri di kantor saya bekerja tepat dengan anak saya masuk sekolah TK.Saya ingin fokus antar jemput anak sekolah seperti ibu ibu lainnya..karna stahun ini anak saya sekolah paud di anter jmput oleh ibu saya, tpi saya juga kasian sm ibu saya karna faktor usia, saya hanya takut kondisinya cepat lelah apabila harus setiap hari mengantar anak saya sekolah.Mohon maaf curahan saya kepanjangan😀 Tapi setidaknya saya agak merasa lega telah menulis curahan saya ini. Tinggal menunggu waktu beberapa bulan lagi untuk menentukan pilihan.Tapi Insya Allah semoga rezeki dari suami saya terus mengalir apabila saya memutuskan berenti kerja. karna Allah Ta’alla sya ingin menjadi Istri dan Ibu yang baik dan kharomah fokus pada keluarga tanpa ada waktu yang tersita..Ya Allah saya mengetik ini sambil berurai air mata..Terimakasih pada siapa yang brkenan membaca dan memberi pencerahan kpd saya.

    • Masya Allah.. Semoga Allah mudahkan semua urusan mbak Dewira. Sayapun speechless bacanya, mbak.

      Allah berjanji, ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, jangan khawatir.. Akan Allah ganti dg yg lebih baik. Jika kita beriman sepenuhnya pada janjiNya🙂

  7. Pingback: ‘Yang Bekerja’ atau ‘Yang di Rumah’ | dunia ismail

  8. Assalamualaikum bunda2,,.
    Bismillah keinginan resign saya semakin kuat dengan membaca ini dan curhatan bunda2,,,

    Ingin resign dari beberapa bulan tapi tertahan oleh keinginan orang tua dan suami yang takut tidak men cukupi kebutuhan rumah tangga dan cicilan rumah. Tapi sy slalu Bilang yakin aja ama Allah.
    Ingin resign byk faktor: lingkungan kerja yang laki2 semua karena di bagian IT, dipercaya mengemban sebuah jabatan yang saya pun tidak terlalu Kompeten dibidangnya, harus bolak balik Jakarta dan bogor , klo neneknya datang momong, kita dibogor, klo neneknya balik ke kampung kita di Jakarta lg dan anak (2th ) saya titipkan ke TPA yg plg murah dket kantor yg kita gak tau gmn pola asuh mereka, dan satu lg merasa lbh loyal Ketika bekerja..

    Sekarang keinginan ini harus diniatkan karena Allah taa’la… Yakin Allah Akan memberi gantinya. Pegennya sih usaha kecil2an aja dirumah🙂..
    Mohon doanya bunda2 supaya pengajuan resign sy sbntr lagi dimudahkan Allah… Aamiin y Allah

    Maaf ke panjangan curhatan nya😉

    • Waalaikumussalam.. Salam kenal bunda Hilda.

      Selalu ingat janji Allah, jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah.. Maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik🙂

      Semoga Allah mudahkan semua urusan bunda, barakallaahu fiik🙂

  9. Sdh lama saya berkeinginan untuk resign tapi saya pun hrs siap menerima resiko akan di benci dan di musuhi oleh saudara saya krna dia lah yg memberi pekerjaan saya dan selalu membela saya di tempat kerja.alhamdulillah pnya suami yg sangat fleksible dia gak menuntut saya untuk bekerja atau di jd ibu rumah tangga.tp jujur hati kecil saya menangis krna saya merasa berdosa selalu meninggalkan anak untuk bekerja.di satu sisi saya pun gak mau putus tali silahturahmi dgn saudara saya.terkadang saya merasa tidak pnya pilihan.sdh coba pasrah dan hampir mencoba untuk nekat tp tetap saja tidak berani mengambil sikap.tolong solusinya mba.terima kasih.

  10. Sejak dulu saya pun ingin sekali resign dr pekerjaan saya.tp saya di hadapkan pilihan yg sangat2 sulit.jika saya nekat mengambil keputusan resign dr tmpt kerja saya.kk saya gak segan2 akan memutuskan tali persaudaraan kami dan saya pun di larang untuk menemui ibu saya.alhamdulillah suami sangat fleksible dia mengerti posisi saya.tp hati kecil saya berteriak setiap kali saya hrs meninggalkan anak saya untuk bekerja.saya merasa bukan ibu yg baik saya gak bs menemani dia saat dia tumbuh.Sdh mencoba ikhlas dan berpasrah diri kepada Allah tp sampai detik ini Allah msh menguji kesabaran saya.sayalah ibu yg gak berguna gak bs bersikap bahkan ada pilihan sulit pun saya masih saja mendengarkan kk saya.mohon solusinya mba.semoga saya mendapat pencerahan.amin.terima kasih.

    • Maaf bunda, apakah suami sudah pernah bicara langsung kepada kakak bunda? Karena seorang suami memiliki hak untuk melarang istrinya bekerja, terlebih jika pekerjaannya menimbulkan mudharat. Mungkin suami dan bunda bisa membicarakan masalah ini dengan kakak secara baik-baik. Utarakan semua alasan dan keinginan bunda kepada beliau. Di sini peran suami sangatlah besar. Karena hak suami atas istrinya sangatlah besar.

      Semoga Allah memberikan jalan keluar untuk masalah Bunda, dan memberi ganti atas yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik. Barakallaahu fiikum🙂

  11. Assalamualaikum all of bunda2

    Terus terang, keadaan saya saat ini juga lagi membingungkan bgt. Harus membuat keputusan antara resign kerja atau tidak. Jika memikirkan biaya kebutuhan hidup per bulan, biaya susu anak, biaya dapur, listrik dan air, belum lagi ditambah cadangan utk biaya kesehatan jika sakit. Terus dua bulan lagi, anak kedua juga InsyaAllah akan lahir. Deuh, pusing bgt mikirinnya. Gaji saya ditambah gaji suami aja kadang per bulan sudah angot2an, apalagi jika harus resign dr kerjaan.

    Tapi demi Allah, keinginan hati memang sangat besar utk di rumah saja, mengurus suami dan mendidik anak2 full tanpa harus membagi waktu. Tidak harus meninggalkan anak disaat dy masi tidur, dan pulang disaat dia akan bersiap2 untuk tidur di malam harinya. Harus gigit jari, ketika anak bisa menunjuk kepala pipi hidung tangan dan kakinya sendiri, ketika dikomando oleh neneknya.

    Deuh, bunda bunda.. Bantu saya menguatkan hati doong. Sumpah bingung bgt.

    Alhamdulillah suami siy bekerja sbg abdi negara. Tetapi, gajinya harus terpotong juga u/ biaya cicilan rumah, bantu jajan adik2 nya yg lg kuliah. jika saya harus resign, gmn cara suami bantu adik2nya??
    Deuuh, ya Allah… ampuni hamba yg masi berburuk sangka atas rizki Mu..

    • mba,,,,,akhirnya saya tidak merasa sendiri, ternyata ada juga yang mengalami seperti saya, semoga Allah membukakan jalan dan memberi yang terbaik ya mba…

  12. dear bunda, saya juga sedang dilema antara resign ato tetap bekerja. saya single parent Dari Ibu 1 putri umur 3tahun. slama sy bekerja anak sy bersama ibu sy yg telah renta (74 th) mau nitipin anak ke pengasuh ga cukup gaji sy. kerja terus kasihan ibu sy.mohon sarannya trims

  13. Hikz…hati campur aduk, keinginan tuk resign sangat besar setelah 12 tahun menjadi abdi negara (PNS). Berkali2 membujuk suami tapi sepertinya suami jg msh Fifty-Fifty. Hati rasanya remuk melihat keempat anakq tidak dibawah pengasuhan ibunya, duh Ya Robb. Tahun ini berencana resign setelah menyelesai ikan kredit Bank yg menggunakan SK n gajiq. (Semoga Allah mengampuni ku). Menemukan blog ini n membaca komen para bunda yg hebat membuat keinginan tuk resign makin menguat. Mohon doanya sekalian semoga aku bs resign secepatnya. Aku dah lelah nangis Mulu di kantor kl inget anak n tanggung jawabku n jawaban apa yg kan kuberikan di hadapan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s