Yang Tak Pernah Kembali Itu Adalah Waktu…

hello kitty bike

Siang ini ketika membaca sebuah postingan grup komunitas Homeschooling di Facebook, saya menemukan tulisan yang sangat menyentuh ini di kolom komentar. Reading that post, it feels like a slap right on my face. Jleb maksimal.

Ya, kadang-kadang.. Bahkan rasanya makin sering akhir-akhir ini.. Saya merindukan saat-saat berkutat dengan kain, jarum dan benang. Saya rindu duduk di depan mesin jahit kesayangan, ditemani suara lantunan kajian dari radio dan secangkir minuman kesukaan.

Saya rindu berburu kain ke Tanah Abang bersama adik tercinta. Saya rindu menabung lembar-lembar rupiah hasil keringat saya sendiri. Saya rindu begadang menyelesaikan pesanan karena besok sudah deadline. Saya rindu, sungguh..

Saya tahu kerinduan itu manusiawi, wajar. Rasanya nggak berlebihan kalau saya ingin mengaplikasikan keahlian yang saya punyai. Karena keahlian menjahit ini, kalau lama nggak dipakai bakalan lupa, tangan juga nggak luwes lagi. Ada kan keahlian yang kalau lama nggak dipraktekkan, malah hilang?

Sejak memiliki anak, praktis saya tidak bisa sesibuk dulu menerima pesanan jahitan. Suami yang meminta agar saya mengurangi kegiatan, agar lebih fokus mengasuh anak-anak. Seperti kesepakatan yang telah kami buat sebelum menikah dulu:

Saya boleh tetap bekerja, dengan catatan anak-anak dan tugas-tugas rumah jangan sampai terbengkalai.

Walau tidak menerima pesanan sebanyak dulu, saya masih menyempatkan diri untuk membuatkan anak-anak dan suami baju. Juga jilbab-jilbab dan gamis-gamis mungil buat si pipi gembil. Alhamdulillah suami mengizinkan, bahkan mendukung.. Dengan syarat pekerjaan rumah sudah rapi semuanya. Walau seringnya ya, enggak semuanya rapi juga😀

Tidak semua ibu yang bekerja di rumah, bisa mengatur waktu dengan baik. Apalagi jika tidak ada asisten atau pembantu yang ikut mengurusi pekerjaan rumah tangga. Bisa jadi malah tugas utama sebagai ibu terabaikan karena kesibukan pekerjaan sampingan itu.

Ketika profesi yang berawal dari kecintaan saya pada dunia jahit-menjahit ini seperti kehilangan ‘keseruan’nya, bahkan justru terasa seperti beban (mungkin karena berbenturan dengan banyaknya tugas rumah tangga).. Boleh jadi itu adalah sebuah tanda dari Allah: a sign for me to loosen a bit.

Melonggarkan diri dari rutinitas penuh kesibukan, menyadari apa tujuan saya sebenarnya dalam hidup ini.

Untuk apa saya capek kerja siang malam cari duit? Sementara suami masih sanggup untuk mencukupi semua kebutuhan kami. Meski saya sadar, bekerja itu bukan hanya soal menghasilkan uang. Ada faktor passion dan kesenangan tersendiri ketika keahlian kita bermanfaat, bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kalau memang saya mampu mengatur waktu agar semua tanggung jawab itu dapat terselesaikan dengan baik, maka tak masalah. Lantas bagaimana jika tidak? Justru sibuknya pekerjaan sampingan itu malah mengalahkan kewajiban utama saya, mengurus rumah dan anak-anak. Karir cemerlang namun rumah tangga berantakan. Ironis, bukan?

“Dan saat sedang bersama anak-anak pun, pikiran saya sering melayang-layang ke tumpukan pekerjaan. Tidak sungguh-sungguh bersama mereka. Jadi meski kelihatannya saya bisa membagi waktu, nyatanya kala itu 24 jam saya banyak tersita untuk kerja, dan betapa anak-anak hanya saya selipkan di antara daftar pekerjaan.” (Retnocatur)

Raga saya mungkin ada di sisi mereka, tapi hati saya, tidak. Saya mendengar, tapi tidak mendengarkan. Saya melihat, tapi tidak memperhatikan. Kebersamaan yang semu, tanpa terjalin kedekatan secara batin. Itulah yang saya khawatirkan.

Menjadi ibu rumah tangga menuntut totalitas. Bukan hanya membersamai anak-anak dalam aktifitas mereka secara fisik. Anak-anak asyik dengan krayon dan buku gambarnya, sedang di sampingnya saya sibuk dengan gadget, laptop atau kain dan gunting . Tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Betapa sedihnya..

Ketika pusing dikejar deadline dan rekapan pesanan harus segera dibuat, sedang pekerjaan rumah dan dapur belum juga selesai.. Belum lagi anak-anak meminta perhatian dengan cara berulah ini dan itu. Stress, pasti. Rasanya ingin meledak. Dan tak jarang anak menjadi sasaran kemarahan. Astaghfirullaah..

Membaca tulisan Mbak Retnadi tadi, seperti menyadarkan saya bahwa kita, sebagai ibu rumah tangga yang bekerja di rumah, harus tahu kapan waktunya untuk berhenti. Atau mungkin, sekadar jeda untuk rehat. Ada hal yang lebih penting untuk diprioritaskan, ketimbang memenuhi ambisi untuk sebuah profesi atau aktualiasasi diri. Menyaksikan anak-anak tumbuh dan mendidik mereka dengan tangan sendiri, adakah yang lebih penting dari itu?

Mesin jahit kesayangan, benang warna-warni yang mulai berdebu, bahan-bahan yang menumpuk di lemari.. Semuanya itu bisa menunggu. Tapi masa-masa emas perkembangan anak-anak, tidak. Saya tidak bisa menghentikan lajunya waktu, namun saya bisa menikmati kualitas tiap detik demi detiknya, dengan mereka yang saya cintai. Sebentuk kebahagiaan yang sederhana.

Saya yang sekarang, tentu berbeda dengan saya yang dulu. Sekarang saya punya kewajiban dan tanggungjawab terhadap suami, terutama terhadap Allah.Kesibukan yang makin bertambah membuat saya tak bisa sesigap dulu melayani pesanan pelanggan. Saya sadari hal ini sepenuhnya. Karena kini ada yang jauh lebih penting dari senyuman pelanggan yang puas dengan pekerjaan saya, yaitu senyuman anak-anak dan suami tercinta.

Insya Allah akan datang waktunya dimana saya akan kembali reuni dengan yang namanya deadline dan pelanggan setia. Melebarkan sayap usaha atau mungkin, memiliki butik sendiri. Entah kapan. Bisa bulan depan, tahun depan atau kapan saja. Saya tak mau memasang target. Dijalani saja sambil mengembangkan dan meng-upgrade apa yang telah saya kuasai saat ini. Insya Allah Dia tahu kapan waktu yang terbaik.

Kini saya hanya ingin menikmati sesuatu yang sering lupa saya miliki. Sesuatu yang layaknya harta tak ternilai bagi orang-orang yang terlampau sibuk dengan dunianya. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Sesuatu yang ingin saya bagi dengan mereka yang saya cintai. Sesuatu itu adalah waktu.

~ Jakarta di suatu sore selepas hujan, Juni 2014.. sebuah sentilan untuk diri sendiri..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

4 thoughts on “Yang Tak Pernah Kembali Itu Adalah Waktu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s