Everyone Has Their Own Package of Trials

package of trials

Suatu ketika, ada seorang kawan bertanya lewat sebuah pesan singkat di BBM, straight to the point, “Umm, boleh nggak ana iri dengan anti?”.

Jujur saja, saya agak kaget membacanya. “Afwan, iri gimana ya umm maksudnya?”

“Ya iri dengan anti yang sepertinya selalu ceria, bahagia dengan kehidupan anti, nggak pernah ngeluh di Facebook dan sering posting hal-hal positif dan inspiratif. Boleh ana iri, umm?”

Waduh. Bingung saya menjawabnya. It took a couple minutes before I finally answered,

“Ummu.. jangan pernah iri dengan kehidupan ana. Ummu kan cuma melihat dari luarnya aja, nggak tahu apa yang terjadi di dalam. Seperti manusia lainnya, hidup ana juga nggak selalu bahagia.. Ada sedih dan susahnya juga. Hanya saja, ana memilih untuk nggak mengeluh atau menampilkannya pada orang lain, terlebih lagi di sosial media seperti Facebook. Untuk apa mengeluhkan kesusahan pada orang yang nggak kita kenal secara pribadi? Apa juga manfaatnya buat mereka? Cukup Allah, ana dan orang-orang terdekat saja yang tahu kesulitan apa yang ana alami. Dan alhamdulillah, masih banyak hal yang dapat ana syukuri dalam hidup ini.. “

In this life, ada orang-orang yang memilih untuk menyimpan segala bahagia dan keluh kesah hanya untuk diri mereka sendiri. “My personal life is not for public”, they said.

Mereka sangat menjunjung tinggi privasi, enggan membuka kehidupan pribadinya kecuali hanya kepada keluarga dan orang-orang terdekat. And we should respect that.

Ada juga mereka yang memilih untuk menampilkan sebagian dari kehidupan mereka, berbagi bahagia dan duka dengan sesamanya. “This is my life..” they said.

Bersangka baiklah, mungkin mereka memiliki alasan tersendiri untuk itu. Sejauh tidak berlebihan, saya rasa tidak mengapa. Karena tidak semua harus kita bagi kepada orang lain, kan? There are things we better keep for ourselves.

But the truth is : there is no such thing as a perfect life.

Apa yang terlihat dari luar, belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya. Boleh jadi mereka yang kita anggap sempurna hidupnya, justru memendam permasalahan yang jauh lebih berat dari yang kita hadapi.

Sebuah potret keluarga ideal yang kita kagumi, belum tentu seindah yang kita bayangkan. Apa yang terjadi di dalamnya, kita tidak pernah benar-benar tahu. Dan bukankah tabiat manusia cenderung menampilkan sisi terbaik dari dirinya? Dan sebaliknya, menyembunyikan kekurangannya.

Seseorang pernah bercerita kepada saya, tentang hidupnya, tentang masalah-masalah yang dihadapinya, yang jujur saja membuat saya kaget tak percaya. Sungguh, siapa yang mengira di balik pembawaannya yang ceria dan santai, kehidupannya yang kelihatannya serba perfect, sempurna..

Ia menyimpan sebuah permasalahan hidup yang amat berat. Yang sesaat setelah menutup pembicaraan dengannya, saya mengucap istighfar berkali-kali, dan merasa sangat bersyukur atas kehidupan yang saya sekarang jalani.

Don’t compare your life to the lives you see on social media, and don’t judge them. Not all of them are true. Comparing yourself to other people isn’t fair to you or them. You are both different people, and be thankful for being uniquely you. Set focus on your own journey. What becomes of you is your choice.

stop comparing ur life

“The only time you should look in your neighbor’s bowl is to make sure that they have enough. You don’t look in your neighbor’s bowl to see if you have.. as much as them.” ~Unknown

Adapun alasan mengapa saya sering memposting hal-hal positif di Facebook, adalah karena sudah terlalu banyak hal-hal negatif di sekitar kita, bahkan di sosial media. Jangan kita tambah lagi dengan keluhan, cacian, makian, juga kalimat-kalimat yang memancing konflik dan keributan.

Dengan memfilter apa yang saya bagikan di sosial media, saya berusaha untuk mengcounter hal-hal negatif tadi dengan yang sebaliknya. Menebarkan cahaya dan inspirasi kepada sesama, sebatas apa yang saya bisa.

Dan seperti halnya kesedihan dan hal-hal negatif, energi kebahagiaan dan hal-hal positif juga bisa menular kepada orang-orang di sekeliling kita. It is contagious.

Mendengar berita kelahiran, kesembuhan, saudara kita mendapat rezeki atau naik jabatan, prestasi teman anak di sekolah yang mengagumkan.. Melihat binar mata bahagia saudari kita yang hendak melangsungkan pernikahan tidak lama lagi setelah penantian panjang.. Semua itu secara tidak sadar, seharusnya membuat kita ikut berbahagia.

Kecuali jika memang di hati kita sudah ada penyakit: senang lihat orang lain susah, susah lihat orang lain senang.

Kalau di hati sudah bercokol penyakit tersebut, maka serapat apapun saudaranya menyembunyikan kebahagiaan atau kesedihan yang dimilikinya, selalu ada celah yang dapat ia cari-cari demi menjatuhkan saudaranya.

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang selamat dari penyakit hasad. Seperti ucapan Ibnu Taimiyah Rahimahullah..

“Jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia adalah yang menyembunyikannya.”

Seseorang yang memiliki penyakit hasad dan memilih untuk merawatnya bukan menyembuhkannya, maka sesungguhnya ia tak pernah bersyukur dan ridha pada pembagian Allah. Tidak pernah lapang hatinya pada apa yang Allah telah berikan kepada orang lain serta kepada dirinya sendiri.

“Sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah Azza wa Jalla, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya; padahal Allah Azza wa Jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.” [Ibnu Qayyim al Jauziyyah]

The thief of joy

Some say, comparison is the thief of joy.  Tak akan ada habisnya bila kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena pasti akan selalu ada yang lebih hebat dan lebih segalanya daripada kita. Terlebih lagi, hakikat kekayaan itu letaknya ada di sini, di dalam hati.

Unless you are living that other person’s life, you really don’t know what is going on in their life. Stop comparing your life to someone else’s. The grass isn’t always greener. Setiap orang memiliki jatah hidup di dunia ini, lengkap satu paket dengan kesedihan dan kebahagiaannya masing-masing.

Kadang kita merasa kasihan melihat saudara kita yang hidup sederhana dengan penghasilan yang pas-pasan.. Padahal kita tidak pernah tahu,  mereka justru bahagia dan merasa cukup dengan apa yang ada.

Seseorang yang kita lihat hidupnya mendekati sempurna, hampir memiliki segalanya.. Justru tidak berbahagia dengan apa yang ia miliki, bahkan berangan-angan seandainya mereka menjadi orang lain. We never really know..

Kadang, di balik hidup orang lain yang terlihat serba sempurna, mereka menyimpan beban dan masalah yang tidak pernah kita bayangkan. Mengapa kita kadang begitu ingin menjadi mereka? Sedang yang nampak bagi kita hanya lahiriahnya saja. Hati, siapa yang tahu.

Syukurilah hidup, apapun keadaannya. Bahkan sampah kita pun boleh jadi adalah harta karun bagi orang lain. Dan boleh jadi, hidup kita justru jauh lebih patut untuk disyukuri..

Mengutip sebuah tulisan inspiratif yang pernah saya posting di sini sebelumnya..

Don’t feel sad seeing someone smiling.
Perhaps they are smiling through thousands of pains.

Don’t feel upset seeing a successful marriage.
Perhaps they are trying hard to beat the odds in their lives.

Don’t feel sad seeing others having kids.
Perhaps they are sacrificing a lot to protect what they are only blessed with.

Don’t feel upset seeing someone spending their leisure with joy.
Perhaps that’s the only break they had for themselves.

Don’t feel annoyed hearing someone’s laughter.
Perhaps that’s the only way for them to break the silence.

We don’t know what happens behind curtains.
Perhaps those people who try to show their smiles to the world don’t want to make others cry for them.

We don’t know the trials they are facing with, so don’t judge that they are showing off.

We can’t spend a hidden life. Our joys and sorrows will be identified by the world.

No one can hide a child they have fearing that it could hurt someone who doesn’t have a child.

No one can hide their wealth because someone else would feel hurt for not being blessed with wealth.

No one can pretend to be sick knowing there could be someone suffering with an illness.

Everyone has their own package of trials.

None can live for someone else’s sake.

They have to live the life they are assigned with.

Pretending to live a life that they are not truly living is showing off.

Besides their deeds are known by Allah alone.

Sharing happiness with others is not wrong.

Intending to inspire others is not a crime.

Our duty is not to judge their deeds but to bless them to live happily forever.

We might feel offended sometimes seeing someone screaming with joy while we are grieving for a loss.

Just because we are sad it is not right to expect everyone to mourn.

If we are expecting others to be sad along with us..
Then we must get prepared to be happy with others as well.

That is the true spirit of a Muslim.

“None of you [truly] believes until he loves for his brother that which he loves for himself.” ~Prophet Muhammed صلى الله عليه و سلم

[ via Happy Muslim Family ]

dont compare

~ Jakarta, June 2014.. Allah has created you for a purpose. Everything He makes is beautiful and He made you. Embrace your path and love your life :)

©aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

10 thoughts on “Everyone Has Their Own Package of Trials

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s