Sandiwara Langit

sandiwara langit ~ aisyafra

“Semakin baik jalan yang kamu pilih, anak muda, akan semakin banyak rintangan dan godaannya. Semakin tinggi bukit yang kamu daki, akan semakin hebat kepenatan yang kamu rasakan. Namun hanya orang yang berjiwa kerdil yang memilih hidup tanpa pendakian.”

Kemarin saat merapikan perpustakaan kecil (baca: lemari buku), iseng-iseng saya membuka dan membaca kembali buku yang berjudul Sandiwara Langit karya ustadz Abu Umar Basyier ini. Pertama kali saya membacanya adalah sekitar 5 tahun yang lalu.

Kalau tak salah ingat, bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 2008, setahun setelah saya menikah. Menyelesaikannya tak butuh waktu lama, cukup beberapa jam saja. Dan sukses membuat hati ini mengharu-biru.

Meski telah dibaca bertahun-tahun yang lalu, buku yang berisi kisah nyata lika-liku kehidupan dua manusia ini tetap saja menarik untuk ditelusuri. Sebuah kisah yang sarat akan hikmah dan pelajaran.

Tentang tekad kuat seorang pemuda berusia 18 tahun yang ingin menyempurnakan separuh agamanya demi menghindari fitnah, namun terganjal begitu banyak rintangan.

Tentang dua manusia yang saling mencintai kemudian harus berpisah karena janji pernikahan yang tidak terlaksana. Tentang kesetiaan, perjuangan, pengorbanan, penerimaan, keikhlasan, mimpi dan ketegaran hati.

Tentang kesungguhan cinta sang pemuda sekaligus tokoh utama yang bernama Rizqaan, kepada pujaan hatinya, istri yang sangat dicintainya, Halimah.

Berdua mereka membuktikan bahwa alasan ekonomi bukan penghalang berarti untuk menikah. Bahwa cinta adalah perjuangan. Dan mencintai adalah perjuangan untuk yang dicintai.

“Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari Muslim)

Berdua pula mereka tertatih membangun segalanya dari bawah, dari nol. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Walau harus mengalami berbagai kesulitan dan cobaan hidup. Saling menguatkan, saling menyabarkan. Sampai akhirnya mereka berhasil meraih mimpi itu, namun takdir Allah berkehendak lain..

“Kalau engkau tidak bersedih, engkau bukan manusia, dik. Engkau lebih layak disebut malaikat. Siapa pun akan bersedih, bila mengalami apa yang telah engkau alami. Islam tak sedikit pun melarang kita bersedih. Yang penting ucapan dan sikap kita terjaga. Jiwa kita tetap tertata. Jangan sampai bersikap keliru dan mengundang dosa. Dan jangan juga terlalu larut dalam kesedihan. Orang yang beriman adalah orang yang tidak akan bisa terpuruk karena rasa sedih dan ketakutan. Itulah tanda kedekatan Allah dengan kita. Yakinlah, bahwa Allah senantiasa menyayangi hamba-Nya yang taat dan setia.”

Membaca kisah ini, saya sempat merasa takjub,
“Ternyata masih ada pemuda seperti Rizqaan di dunia ini.. Masya Allah..”.

Sekaligus berkaca, bertanya pada diri sendiri,
“Mampukah aku menjadi se-shalihah Halimah?”

Dan yang paling mengharukan adalah bagian akhir perjalanan kisah cinta dua manusia ini.. Membaca paragraf demi paragraf sampai ke bagian terakhir. Subhanallaah, masih ingat betul rasanya.. Dari yang tadinya hanya berkaca-kaca, setelah ditahan-tahan, akhirnya air mata ini jatuh juga..  *ambil tisu*

[Warning, spoiler alert!]

“Abuya,  jawablah pertanyaanku”

“Ya, apa adinda ?”

“Apakah engkau meridhoiku sebagai istri?”

“Sudah tentu adinda. Suami manapun akan meridhoi istri sesholih dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…”

Alhamdulillahilladzi bini’matillahi tatimmush shaalihat.  Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam hadits.”

“Bagaimana itu adinda ?”

“Wanita manapun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk syurga.”

“Semua wanita shalihah mengidamkan hal itu, adinda.  Dengan izin Allah, adinda  akan termasuk di antaranya.”

“Allahumma amin. Abuya,  sekarang aku puas. Apapun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.

Abuya,  betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”

Dialog paling menyentuh dan membuat saya meneteskan air mata.. Sesaat sebelum sang istri tercinta, Halimah, menghembuskan nafas terakhirnya. Salah satu kisah cinta paling indah yang pernah saya baca. Semoga cinta mereka abadi hingga ke jannah-Nya..

“Hai jiwa yang tenang.. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam jannah-Ku….” (QS. Al Fajr 27-30)

Semoga begitu juga ridhamu atasku yaa Zaujiy…

*tears*

~ Jakarta, tengah malam dan hujan rintik-rintik, penghujung Juni 2014 ~

© aisyafra.wordpress.com

10 thoughts on “Sandiwara Langit

  1. Dibaca berapakalipun tetep mewek :_ , siapin tisu kalau baca ini. Ibroh yang diambil luar biasa, maa syaa Allah,,,

  2. syukron ukhti sudah berbagi di blog ini.. wahh merinding bahagia banget ya bacanya.. jadi pengen banget baca bukunya.. alhamdulillah ternyata masih terjual di gramedia ya… jazakumullah khoiron katsira..ukhti fillah… *pengen ikutan mewek* :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s