Sharing, Why Not?

vintage sewing

Ada kebahagiaan tersendiri setiap mendengar ada teman yang mulai tertarik belajar jahit, ikut kursus sampai berhasil menyelesaikan baju atau karya perdananya. Senang karena artinya, bisa saling berbagi ilmu baru dan tips-tips oke lainnya dengan mereka yang memiliki minat yang sama di bidang ini.

Seseorang pernah berpesan kepada saya: jangan pernah pelit sharing ilmu, karena yang namanya ilmu itu semakin sering diajarkan, semakin nempel di kepala. Seorang guru ketika mengajar, maka dia tidak hanya mengajar muridnya, tapi juga secara tidak sadar memprogram dirinya untuk menolak lupa terhadap ilmu yang dimilikinya. Begitu juga dengan ilmu menjahit. 

Saya pernah punya pengalaman sendiri tentang berbagi ilmu ini. Dulu waktu saya baru lulus dari kursus menjahit, ada seorang kawan sesama penjahit yang sama-sama baru lulus dari tempat kursus yang berbeda. Setelah kami ngobrol dan bertukar pengalaman, ternyata ada beberapa ilmu dari tempat kursusnya yang baru buat saya, demikian juga sebaliknya.

Waktu itu dia minta diajari cara membuat kancing dan kantong bobok yang rapi, alhamdulillah ilmu itu sudah saya pelajari waktu kursus dulu, walau hanya kursus tingkat dasar. Dengan senang hati saya ajari sampai akhirnya ia bisa. Suatu saat, saya minta diajari cara menyambung lapisan leher bagian belakang dengan ritsleting jepang yang memang ilmunya belum saya dapatkan di tempat kursus. Entah memang benar atau hanya perasaan saya saja, kawan saya itu kelihatan agak enggan.

Dia memang mengajari, tapi terlihat seperti setengah hati alias ogah-ogahan. Begitu udah setengah jadi, saya tanya, “Trus habis ini gimana, kok hasilnya beda ya sama contohnya?”.  “Ya teorinya sih gitu, ikutin teorinya aja nanti juga sama..”  jawabnya asal tanpa mau mencontohkannya langsung. Setelah saya coba-coba sendiri—walau sempat bingung juga— alhamdulillah berhasil. Hmm.. ternyata ada ya tipe orang yang seperti itu. Cukup tahu aja sih🙂

Tapi saya yakin, masih banyak penjahit lain yang mau saling berbagi ilmu walau sudah bisa dibilang sukses. Contoh nyata, ada sebuah brand butik online ternama yang selalu rajin menjawab pertanyaan dari visitor webnya..

“Beli mesinnya di mana mbak? Merk apa? Beli bahannya di toko apa? Pakai benang apa?”.

Sampai ada yang bertanya masalah pola dan kesulitan dalam menjahit pun beliau layani dengan ramah. Bahkan saya lihat sering beliau menyemangati para pengunjung webnya supaya semangat belajar menjahit, biar nggak perlu beli baju jadi. Minimal, bisa jahit baju buat keluarga sendiri. Intinya, sang owner tersebut tidak pelit ilmu, walau sudah terbilang penjahit senior. Salut saya. Barakallaah fiyk..

Semakin sering kita berbagi ilmu, semakin berkah dan bermanfaat ilmu yang kita miliki. Dan lagi, siapalah saya ini? Yang masih dangkal ilmu dan pengalaman. Setinggi apapun ilmu yang saya miliki, selalu ada yang lebih tinggi lagi ilmunya. Dan pasti, suatu saat saya butuh bantuan orang lain untuk meng-upgrade skill dan belajar ilmu-ilmu baru.

Rezeki nggak akan tertukar. Saya percaya itu. Walau dikerjakan dengan teknik yang sama, pasti ada bedanya. Kalau kata ibu saya dulu, menjahit itu seperti bikin kue. Beda tangan walau resepnya sama, hasilnya bisa beda. Butik online tadi misalnya, walau senang berbagi ilmu tapi tetap saja ramai dan banyak pelanggannya, bahkan kini usahanya merambah ranah offline. Jumlah karyawan dan alat-alatnya pun semakin bertambah. Alhamdulillah..

Walau banyak penjahit baru yang fresh graduate dan kualitas jahitannya lebih bagus, saya percaya pelanggan setia akan selalu kembali kepada kita kalau sudah cocok dan nyaman dengan hasil kerja kita. Jadi, kenapa harus enggan berbagi? Sharing, why not?🙂

Semangkaaa! back to machine

“Whatever we possess becomes of double value when we have the opportunity of sharing it with others.” ~Jean-Nicolas Bouilly, Writer

~ Jakarta menjelang Ashar, disalin dari status Facebook saya pagi ini..

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Sharing, Why Not?

  1. Mau mbak saya diajarin jahit, saya blm pnh kursus khusus jahit-menjahit, otodidak modal nekat pengen bisa😀 nanti boleh tanya2 ya ^_^

    • Alhamdulillah, silakan ukh.. kalo bisa insya Allah saya jawab🙂

      Sedikit masukan, kalo emang bener2 pengen serius mendalami ilmu ini sebaiknya kursus aja ukh, krn beda hasilnya belajar otodidak sama menimba ilmu langsung dari gurunya. Semangat! ^^

      • Iya, pengen kursus sebenarnya, tp krn kondisi dan waktu blm memungkinkan hehe. Punya batita tanpa art, jam kerja mas suami dari pagi sampai mlm plus di rantau tanpa sanak saudara (eh, malah curcol), coba gt ada guru privat yg bisa dtng ke rumah hi hi tp pasti bocil ikut ‘kursus’ jg😀 Ganbarimasu! (^_^)ง

        • Ah, iya.. I feel u😀

          Emang belajar jait itu paling enak sebelum nikah dan punya anak. Masih bebas dan banyak waktu luang. Insya Allah setelah anak2 agak besar bisa kok belajar. Yup, semangka ~!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s