Forgiveness: A Gift You Give Yourself

image

“Hendaklah mereka memaafkan dan merelakan. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (An Nuur: 22)

Ketika membuka dashboard Tumblr sore ini, saya mendapati sebuah tulisan yang seperti mewakili isi hati, satu hal yang baru saja saya rasakan akhir-akhir ini. Sebuah pemikiran yang telah lama mengendap dan ingin segera dituangkan dalam lembaran draft blog. Dan sore ini seseorang telah lebih dulu melakukannya untuk saya.

Thank you for writing this. Haturnuhun.

Bicara tentang memaafkan, setiap orang pasti pernah mengalami apa yang namanya dilukai dan mungkin juga, melukai. Begitu juga dengan saya. Adalah tentang sesuatu yang pernah terjadi antara saya dan seseorang di masa lampau.

Saat itu kami berpisah, tanpa pembicaraan, tanpa penyelesaian, tanpa perdamaian. Saling menjauh satu sama lain. Tanpa kabar, tanpa berita, lenyap begitu saja. Padahal tadinya kami begitu sering berbincang tentang banyak hal, tentang apa saja. Kami cukup dekat, walau belum bisa dibilang sahabat dekat.

Tahun berlalu, waktu berganti, kehidupannya dan kehidupan saya banyak berubah. Sampai belum lama ini keadaan mengharuskan kami untuk bertemu, bicara dan bertatap muka. Sempat terlintas di dalam benak:

Haruskah saya memulai pembicaraan dengannya?

Lantas bagaimana reaksinya?

Canggungkah kami nanti?

Bagaimana jika rasa tidak nyaman itu tidak berhasil kami tutupi?

Bagaimana jika setelah bertemu luka lama itu malah terasa perih kembali?

Sejujurnya, jauh di dalam hati.. Rasa benci itu sudah tidak ada lagi. Saya sudah memaafkannya sejak dulu, dulu sekali. Walau saat itu, sungguh saya merasa begitu terluka dan tersakiti oleh sikap dan kata-katanya. Saya tak menduga dia bisa berbuat demikian.

Tapi prinsip yang sering saya tanamkan dalam diri,

“Everybody makes mistakes. So am I. Why not giving others and myself, an excuse? One more chance to fix everything and start all over new. Allah saja Maha Pemaaf, mengapa aku tidak?”

Dan datanglah saat itu. Dimana saya harus bertemu dengannya untuk pertama kali, menjabat erat tangannya, memeluknya, duduk dan bicara seperti dulu kala. Meski berusaha keras untuk menutupi, dia terlihat begitu rikuh dan tidak nyaman ketika menyambut kedatangan saya untuk pertama kalinya.

Yang saya tangkap dari bahasa tubuhnya, seperti ada rasa tidak percaya bahwa saya bersikap sedemikian biasa terhadapnya, just like the way we used to be.. a long time ago.

Awal pertemuan kami waktu itu memang terasa amat kaku, saya pun merasa agak canggung. Alhamdulillah pribadi saya yang cenderung supel, easy going dan selalu dapat menemukan bahan pembicaraan ini (ehem) sangat menolong untuk memecahkan kebekuan di antara kami.

Kami bercerita tentang banyak hal, kehidupan saya, kehidupannya, anak-anak kami. Akhirnya semua seperti mengalir begitu saja, easily.. Canda dan tawa mewarnai perjumpaan kami kala itu. Kami pun saling memberi hadiah di akhir pertemuan.

Alhamdulillah, semua sudah terlewati. Finally. Dan saya, mungkin dia juga, kini merasa jauh lebih baik.

“Forgiveness is not always easy. At times, it feels more painful than the wound we suffered, to forgive the one that inflicted it. And yet, there is no peace without forgiveness.”

Ada kelegaan luar biasa ketika saya melangkahkan kaki menuju rumah. Lega, karena bisa mengalahkan ego saya sendiri. Setelah semua hal yang pernah terjadi di antara kami.

Sebenarnya saya bisa memilih untuk memelihara luka itu baik-baik, menyimpannya dalam hati dan terus menerus hidup dalam rasa benci. Tapi tidak, saya telah memilih sebaliknya.

“The truth is, unless you let go, unless you forgive yourself, unless you forgive the situation, unless you realize that the situation is over, you cannot move forward.”

Ya, saya memilih untuk lepas dan bebas dari penjara sakit hati dan rasa benci itu. Saya sudah memberi maaf, meski dia tidak pernah meminta maaf. Meski mungkin di hatinya masih tersisa sedikit rasa dari masa lalu.

Saya memaafkannya.. tapi bukan untuknya, melainkan untuk diri saya sendiri. Forgiveness brings my self inner peace.

Forgive others, not because they deserve forgiveness.. but because you deserve peace.

Mari belajar menjadi orang yang berjiwa besar dan berhati lapang. Setiap orang berhak punya masa lalu dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari kesalahan yang sudah-sudah. Demikian juga saya dan dirinya.

Mungkin saat itu saya masih belum dewasa, ketika emosi begitu mudah membutakan penglihatan dan menguasai jalan pikiran. Namun, apakah saya tetap ingin hidup di masa lalu dan tidak memberi kesempatan diri ini untuk tumbuh dan selangkah lebih bijak?

image

Meski begitu, memaafkan tidak selalu berarti kesediaan untuk menerima kembali dan memberi kesempatan kedua. Ada orang-orang yang cukup mengisi masa lalu kita, tanpa perlu hadir kembali di masa yang akan datang.

Apalagi bila sudah menyangkut soal kepercayaan yang disalahgunakan. Trust is like a mirror. Once it broken it can be fixed, but you can still see the cracks.

Forgiving is not forgetting. It’s letting go of the hurt.

We meet people for a reason, either they’re a blessing or a lesson. Heal the bitter wound, move forward and forgive yourself, forgive others. Somesay, it takes a strong person to say sorry, and an ever stronger person to forgive.

“Forgive those who have hurt you in the past. But more than this, forgive yourself for allowing them to hurt you. Forgiving someone isn’t about excusing their actions, it’s about freeing yourself from the negativity that surrounds the situation. You’re not letting someone control how you feel anymore and allowing yourself to move on with.. life.”

Maka, maafkanlah.. jangan sisakan sedikitpun ruang dalam jiwa untuk kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan.

Maafkanlah.. karena Allah menyukai orang-orang yang pemaaf..

Maafkanlah.. karena kita, berhak untuk bahagia.

~ Cirebon menjelang tengah malam, di hari kedua Lebaran 1435 H, hanya bertemankan sunyi dan senyap..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

3 thoughts on “Forgiveness: A Gift You Give Yourself

  1. Cermin yang pecah bisa diperbaiki, tapi kita masih bisa melihat retakan-retakannya.
    *sigh*
    baca tulisan ini, jadi ingat masa lalu. masa lalu yang berusaha diperbaiki, tapi masih ada sisa luka di hati. berusaha mengobati luka, tapi bekasnya masih terasa. ada rasa trauma walau berusaha kembali menjalin pertemanan.
    bukan dendam, tapi rasanya perlu waktu lebih lama buat memulihkan lukanya. astaghfirullah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s