Kita, Emosi dan Sosial Media

image

Kecanggihan teknologi komunikasi berupa sosial media, membuat banyak orang cenderung lebih ekspresif dalam menyuarakan isi pikirannya. Bahkan yang cenderung introvert dan pendiam sekalipun, bisa berubah 180 derajat ketika berinteraksi lewat sosial media.

Kebebasan berbicara di ruang publik berupa sosial media atau yang sering disingkat socmed ini justru kadang bisa jadi bumerang bagi penggunanya, kalau tidak bijak menempatkannya. Yang paling parah mungkin adalah cyberbully. Sampai-sampai ada yang depresi betulan karena kerap dicaci maki di media sosial.

Seorang teman pernah tiba-tiba marah-marah nggak jelas juntrungannya kayak petasan meledak, selang beberapa menit ada yang ngasih komentar, “Emangnya ada apa sih?”.

Dengan santainya yang punya status ngejawab, “Nggak ada apa-apa kok, udah lupain aja.” Dan nggak lama status itu dihapus. Haiyaahh. Bikin orang senapsaran aja.

Ketika hati sedang kesal atau panas karena hal-hal kecil maupun besar.. Macet, kena marah bos di kantor, ribut dengan pasangan.. Atau ketika berselisih dan tidak sepaham dengan orang lain (baik itu di dunia nyata maupun maya).. Ada baiknya kita menjauhkan diri dari social media. Hiatus sejenak, jernihkan hati sambil muhasabah. Pergi ke suatu tempat, biar pikiran fresh dan emosi mereda.

Karena yang namanya social media, selalu menggoda kita untuk menuangkan uneg-uneg lewat tulisan. Gimana enggak, tiap buka Facebook misalnya, selalu ditanya, “Apa yang kamu pikirkan?”

Atau pas lagi jalan-jalan di beranda, status orang yang lagi kita sebelin seliweran di situ, isinya agak nyinyir bin nyindir lagi. Hih, tambah mangkel hati rasanya. Jadilah tergoda untuk bikin status tandingan yang nggak kalah nyinyir, yang berujung perang statement walau di status masing-masing. Sounds weird… but it’s true.

Ketika emosi tengah merajai hati, tahan jari dan lisan kita, tenangkan diri, curhat dan ngadu sama Allah sepuasnya. Jangan karena ingin mengikuti nafsu sesaat, akhirnya kita keluarkanlah segala uneg-uneg dengan kata-kata dan nada kalimat yang full emosi, walau di akhir kalimat kita tulis,

“Tapi saya sih nggak emosi ya..”.😄

Selang beberapa waktu setelah cuap-cuap di socmed, akhirnya setelah dipikir-pikir lagi, “Ngapain coba tadi nyetatus begitu? Malu-maluin aja. Hapus ah..”. Deleted deh.

Padahal yang baca udah sekian ratus, bahkan ribuan orang. Ada yang udah ngelike, ngeshare, ngeritwit. Ada juga yang langsung screencap buat barbuk. *kemudian garuk-garuk tembok

Bener juga kata seorang tweeps (sebutan untuk pengguna twitter) di timelinenya dulu, “Jaman sekarang, jari lebih cepat beraksi daripada otak. Yang penting posting dulu, soal efeknya ntar aja dipikir belakangan.”

Your words define you. Walau nggak selamanya benar. Tapi sedikit banyak, isi hati tercermin lewat ucapan. Kepribadian seseorang akan terlihat ketika dihadapkan pada situasi yang sulit atau ketika berkonflik dengan orang lain. Dari situ bisa ketahuan gimana sih, orang ini aslinya.

Banyak orang yang melakukan blunder dan mempermalukan dirinya sendiri di sosial media. Oleh karenanya, ketika ada kata-kata atau komentar yang memancing pertengkaran dan perdebatan tanpa ujung, maka rasanya diam lebih selamat. Nggak perlu ditanggapi, apalagi dilayani terus-terusan sampai mempengaruhi suasana hati di dunia nyata. Aduh, rugi amat.

Kalau saya, lagi emosi atau banyak pikiran, salah satu pelampiasannya justru dengan nulis. Lho kok? Iya. Tapi nulis apa dulu. Dimana dulu. Saya punya notes kecil, semacam jurnal tempat menuangkan ide dan uneg-uneg. Setelah dituangkan, kadang saya mengeditnya kembali untuk layak dipublish di blog pribadi. Iya, blog ini.

“Writing is cathartic, and for some, the only way to honestly express what they are thinking and feeling in the times of grief.”

Writing is healing. It is such a relief. Asal tahu cara meramunya, emosi negatif sekalipun bisa menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat untuk orang lain. Tetiba jadi ingat hukum kekekalan energi, energi tidak dapat dimusnahkan, tapi hanya bisa diubah menjadi bentuk lain (eh bener begitu nggak sih bunyinya?). Mengubah emosi negatif menjadi sebuah tulisan inspiratif. It is totally challenging.

Kalau kita paham, sebenarnya sosial media adalah sarana untuk mengolah emosi dengan bijak. Nggak semua yang kita pikirkan harus dituliskan. Nggak semua postingan harus kita komentari. Nggak semua persoalan orang perlu kita kepoin. Kalo katanya Madam Eleanor Roosevelt,

“Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.”

Pilih circle pertemanan yang banyak memberi kontribusi positif dan bukan sebaliknya. Sering bergaul dengan mereka yang berjiwa positif dan inspiratif sekaligus bijak akan membentuk kita menjadi pribadi yang serupa.

Begitu juga bila sering berinteraksi dengan mereka yang gemar berkata kasar, pemarah dan hobi cari ribut, lama kelamaan kita akan terbiasa dan menjadi permisif dengan budaya negatif tersebut. Karena seperti sabda Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam, pribadi seseorang itu tergantung temannya.

Adakalanya menggunakan fitur unfriend atau remove adalah salah satu jalan keluar ketika timeline sudah mulai dirasa tidak nyaman. Daripada tetap mempertahankan pertemanan tapi masing-masing saling memendam api permusuhan dan tidak mampu menyembunyikannya. Daripada ikut tertular emosi negatif. Daripada lisan tergoda untuk tidak menanggapi. Daripada muncul kemudharatan yang lebih besar. Kadang, berjauhan itu jauh lebih baik.

Mengutip nasehat indah dari ustadz Salim A Fillah,

“Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja. Menjadi kepompong dan menyendiri. Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam. Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati.

Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari. Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia. Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah. Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

Dengan persaudaraan suci: sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.”

~ Jakarta di suatu pagi, sekadar coretan pengingat diri..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Google ]

6 thoughts on “Kita, Emosi dan Sosial Media

  1. Wah tulisannya bagus, mengingatkan kembali bahwa hakikat sebuah hubungan adalah yang nyata bukan sosial media yang menjurus pada prilaku antisosial di dunia maya. Memang bener kita musti pinter nyaring semua apa yang akan kita ungkapkan, yang kita lakukan, dan yang kita dengarkan, jangan asal nulis status yang berujung pada hal negatif. So lebih menyentuh jiwa memang ya dengan bersilaturahmi langsung, berkumpul, nongkrong, ngobrol dengan teman secara tatap mata daripada dunia maya, meskipun kadang kala kita juga membutuhkannya, sekali lagi harus bisa menggunakan pisau, karena internet layaknya pisau yang bisa membunuh pemiliknya dan juga bisa menjadi alat masak yang membantu pemiliknya. Thanks ya udah baca. Komentarnya panjang banget, maaf hahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s