Cinta Sejati dan Pencitraan Semu

a rose for u :)

Pagi-pagi buka notifikasi Facebook, dan langsung disuguhi tulisan yang sangat menarik ini oleh seorang kawan..

“Katanya sih, salah satu komposisi utama dalam membangun RT *sengaja disingkat* adalah kepercayaan. Nah katanya lagi, orang-orang sering kebalik. Memuja-muja kemesraan (semu), tapi diam-diam merobek hatinya: Dengan menghancurkan kepercayaan itu.

Tau ga sih, cuma membayangkan aja kerasa loh sakitnya gimana. Lebih sakit dari sakit gigi level mancanegara.

Ittaqillah haitsu makunta. Sungguh, kami berlindung dari lelaki yang jauh dari Allah. Oke fix, saya yakin perempuan waras manapun sepakat dengan hal ini. Ya kan, ya kan, ya kan? *wink*”

(Lanina Lathifa)

Duh. Menohok sampai ke ulu hati. Oke ini lebay. Abaikan.

Setelah sekian lama menikah, mengamati banyak peristiwa yang terjadi dalam lembar kehidupan rumah tangga sendiri maupun orang lain.. Semakin yakin kalo yang namanya cinta, nggak perlu sering-sering ditunjukkan di depan publik. Atau harus syelalu dipublish ke sosial media. Cukup kita sama pasangan aja yang tahu.

Dulu saya emang sering ber-alay ria soal kemesraan sama pasangan, terutama pas baru-baru punya Facebook, baru nikah pula. Apa-apa diupdate. Kalo perlu dimention. Kalo diinget-inget rasanya kok ya malu-maluin banget, gitu. Kayak anak ABG lagi jatuh cinta.

Maafkan saya yang temans, udah bikin kalian pengen muntah.. *sodorin baskom

Seiring berjalannya waktu, saya makin memahami.. Hakikat cinta sejati bukan untuk diumbar-umbar, dipublish, diperlihatkan kepada khalayak ramai. Kemesraan tidak harus selalu diceritakan hingga detil terkecil, supaya seluruh dunia tahu betapa kita sangat mencintai pasangan kita saat ini.

Cukup kita dan pasangan aja yang tahu, how deep our love is.

Dari survey kecil-kecilan ala saya, mereka yang hobi mengumbar kata mesra, kalo ibu saya bilang: nggombal mukiyo, biasanya justru orang yang paling sedikit berbuat demi membahagiakan pasangannya.

Di luar, dia tampil sebagai pribadi penyayang, family person, care, romantis and so on.. Tapi di rumah: NOTHING. Jauh berbeda dengan citra yang ditampilkannya di luar.

Banyak kasus yang saya temui seperti ini, ketika di depan orang banyak,  terlihat seperti sosok lelaki yang perhatian, penyayang, romantis, suka memeluk istri dan ekspresif menunjukkan perasaannya, tanpa rasa risih dan malu.

A perfect portrait as a husband and father, deh. Tapi di luaran, hadeuuhh.. matanya, hobi piknik dan shopping kemana-mana.

Genit dan centil sama perempuan. Selalu ngomongin pengen nambah istri; anytime, anywhere, tanpa mempedulikan perasaan istri. Kurang ghadhul bashar, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Kalau ngobrol selalu menatap lekat lawan bicaranya, yang notabene bukan mahram.

Dan yang paling menyakitkan, di belakang istrinya dia ada main dengan perempuan lain. Yang model begini, makan ati banget nggak sih?

“Cinta bukan sekedar memaafkan. Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.  Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.” ~ Darwis Tere Liye

Sang istri bukan nggak tahu suaminya punya affair dengan banyak wanita, tapi entah kenapa dia masih bertahan. Mungkin karena adanya anak-anak, mungkin juga menyangkut soal harga diri dan rasa malu. Tapi kalau saya ada di posisinya, dengan porsi sakit hati karena seringnya diperlakukan demikian, udah saya tinggalin laki-laki model begitu.

Some people deserve a second chance, some people don’t. Karena selingkuh itu habit ya, sodara-sodara.. Susah sembuhnya. You-have-my-words. Kecuali memang yang hatinya betul-betul sudah disentuh oleh keimanan, dan bertekad kuat untuk bertaubat.

“Love doesn’t stop a man from cheating. What stops a man from cheating is fear of Allaah. A strong Iman will result in a faithful man,” ~ @realdawah

See? Apa yang kita lihat, belum tentu seperti apa yang sebenarnya terjadi. Nggak selamanya kehidupan orang lain sesempurna yang terlihat di permukaan. Bisa jadi yang kita lihat itu semu, sekadar pencitraan semata.

“Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”,  kata peribahasa.

Truth. Nggak semua persis seperti yang terlihat dari luar. Kadang pasangan yang mesra abis di sosmed justru bermasalah dalam real love life mereka. Kadang suami atau istri yang kadar romantisnya bikin envy justru jauh dari predikat setia sama pasangannya.

We are only outsiders, we never know about hidden tears, we never know what really happens behind the curtains. So stop comparing your relationship with others’. Because it isn’t fair for you, and isn’t fair for your partner.

Dan sebaiknya -menurut hemat saya- kita harus menetapkan batas dan bijak memilah, mana yang perlu dan tidak perlu dishare di socmed. Termasuk soal mengumbar keromantisan suami istri di ranah publik.

Ada privacy yang harus dijaga. Ada perasaan yang cukup dinikmati oleh kita dan pasangan aja. Nggak perlu seluruh dunia harus tau.

Sedehana.. Karena nggak semua orang suka dan rela kita berbahagia🙂

Kalo masih manten anyar alias penganten baru masih dimaklumilah tiap jam kirim-kiriman sms mesra, ngetag namanya di socmed, romantis-romantisan, bla-bla-bla.. Wajar, soalnya masih baru… Asal nggak berlebihan juga.

Tapi kalo yang udah lama nikah tapi hobi ngegombal bin lebay dalam memuji, dipublish pula di muka umum. Naini.. yang wajib diwaspadai. Jangan-jangan cuma modus untuk menutupi perbuatannya yang tidak pantas. Sering nemu kejadian begini soalnya. Maap-maap buat yang merasa tersindir yak😛

Punya pasangan yang ketika bertutur pandai menyihir bagai penyair, cakap merangkai, merajut, menyulam, menjahit kata-kata.. Tapi ternyata… kata-kata itu bukan hanya ditujukan untuk kita, tapi juga untuk orang lain. Nah, di mana cobak letak istimewanya?

Lebih baik yang nggak banyak nggedabrus  tapi membuktikan cintanya nyata lewat perbuatan. Daripada yang so hunny bunny sweety  tapi cintanya palsu, fake, penuh pura-pura.

Ngaku cinta, tapi kalo istrinya salah, ogah nasehatin.

Ngaku cinta, tapi lihat istri repot jungkir balik ngerjain kerjaan rumah, males bantuin.

Ngaku cinta, tiap hari kirim kata-kata manis tapi nggak setia.

Ngaku cinta, tapi mengumbar kata-kata mesra kepada perempuan lain yang bukan mahramnya.

Ngaku cinta, tapi enggan memenuhi kewajibannya sebagai suami yaitu mendidik, menjaga dan memberi ketentraman lahir maupun bathin kepada istri dan anak-anaknya..

Ngaku cinta, tapi istri asyik haha-hihi sama laki-laki lain dibiarin.

Hih, sakitnya tuh di sini.. *nunjuk dada

Bila pasangan kita kurang bisa merangkai kata-kata romantis, ya memang begitulah adanya dirinya. Nggak perlu kita todong supaya dia bikin puisi khusus buat kita, sampai harus buka kamus dan ngubek-ngubek perpustakaan segala.

Kalau dia jarang ngasih bunga yang mahal, ya mungkin dia lagi nggak punya duit buat beli. Sebagai gantinya, dia rela berhenti di pinggir jalan buat metik bunga liar, khusus buat kita. Sederhana, tapi penuh makna.

Tak perlu menuntut dia menjadi orang lain yang bukan dirinya. Karena mungkin baginya, cinta lebih dari sekadar kata-kata..

Idealnya, enak punya pasangan romantis di luar, maupun di dalam. Tapi kalau harus memilih di antara keduanya, ya jelas lebih pilih di dalam dong. Lagipula citra romantis itu akan keluar dengan sendirinya ketika kita berinteraksi dengan pasangan di luar rumah. Akan tercermin lewat tindakan nyata.

Romantis itu terlihat dari kesediaannya untuk berbagi tugas mengurus anak, nggak malu meringankan pekerjaan rumah tangga, mau membawakan kantong belanjaan waktu belanja bulanan (saya banget nih, aheyyy).

Romantis itu artinya setia, besar rasa cemburunya, lembut tutur kata dan perangainya, pandai menjaga hati dan perasaan kekasihnya, sampai tatap matanya yang menggelora penuh cinta. Masih-seperti-pertama-kali-bertemu-dulu.

“Suatu waktu nanti akan ada seseorang yang datang dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan, yang bukan sekedar kalian banggakan di media sosial, tapi justru kalian bohongi di kehidupan nyata..

Yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya. Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang. Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu..

Tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.”

(via Butterfly Reborn on Tumblr)

~ Jakarta, suatu sore di awal September 2014..  spesial buat seseorang  yang sering banget bilang, “karena cinta lebih dari sekadar kata-kata..”

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

20 thoughts on “Cinta Sejati dan Pencitraan Semu

    • Aamiin. Pilih laki2 yang bertaqwa pada Allah, krn kalo dia takut kepada Allah, dia akan berpikir dua kali sebelum bermaksiat. Dan bukan cuma yang berilmu, tapi juga yang mengamalkan ilmunya..

  1. Reblogged this on MUSLIFAH and commented:
    Bismillah,

    Untuk kita para muslimah, baik yang sudah menikah maupun belum. Mari sejenak baca tulisan ini dan renungi. Kemudian biarkan senyum terlukis di wajahmu. Karena cinta bukan sekedar kata-kata.

  2. Maa syaa’ Allaah teh meut.. tulisan nya teh meut membuat aku jd lebih banyak tau ttg problematika dlm Rumah Tangga. dan suka sama kalimat teh meut yg ini >> Pilih laki2 yang bertaqwa pada Allah, krn kalo dia takut kepada Allah, dia akan berpikir dua kali sebelum bermaksiat. Dan bukan cuma yang berilmu, tapi juga yang mengamalkan ilmunya..

  3. Reblogged this on letters of life and commented:
    Semoga kita dan pasangan kita tidak termasuk yg seperti itu. Memang kurang patut romantisme rumah tangga dipertontonkan di ranah publik, krn banyak hati2 yg harus kita jaga, hati orang2 yg blm punya pasangan mungkin, atau hati2 lain yg rumah tangganya tidak semanis yg kita miliki. Semoga dimudahkan untuk berbuat baik dan membahagiakan pasangan meski tak harus menuangkannya di socmed. Aamiin.

  4. Keren .. nyentuh dan pastinya bisa buat pelajaran untuk kedepannya agar gak salah pilih pasangan dan semoga mendapatkan jodoh yang takut akan Allah SWT aamiin

  5. Reblogged this on Learn and Share and commented:
    Catatan yang bagus untuk direnungkan, jangan hanya “ingin tampil seakan akan perfect spouse”, tapi diluar itu sang suami tak bisa menjaga pandangannya disaat tak ada istrinya….jangan tertipu oleh kebahagiaan semu…..

  6. owwwhhhh…soooo sweeeeeetttttt…❤
    hihi…inget ekspresi ibunya mbak tia kalau bilang nggombal mukiyo wkwkwk…😀
    kangen ummi niy mbak…titip salam untuk beliau yaa… :-*

  7. Subhanallaah, kenapa yang ini aku kelewat ya?? so very nice ya, good job!! Mba Meut, ni tulisan sepertinya ditujukan untukku seorang,..:D Aku tuh selama ini suka wondering kenapa yah suamiku itu gak bisa romantis, bisa nggombal dikit kek, buat istrinya melayang-layang kek. secara yah aku tuh suka kata2 yang puitis,,heleh-heleh. He never give me those words. Tapi…aku bersyukur ada tulisan mba Meut yg ini, it wakes me up! mendingan gak romantis tapi setia, gak jelalatan, mau bantuin kerjaan rumah, kali bisa dibilang romantis yang gak mainstream ya? Jazaakillah khairan ya ukhti…keep doing great writing okay! and i keep doing reading, hehehe..

  8. Subhanalloh, yang ini kelewat dibacanya. Pas banget buat aku yang lagi menunggu kata-kata romantis dari suamiku setelah 14 tahun menikah…hiks. But, this writing wakes me up, my hubby has a different way to prove how romantic he is. Dia memang gak bisa nggombal mukiyo or ngedabrus..tapi dia mau bantuin urusan domestik RT, mandiiin anak2, even ke warung beli seledri…(hihihi) and in syaa Alloh setia. Another different kind of romantic, i guess. Jazaakillah khairan yaa ukhty,,,keep doing writing okay, i’ll keep doing reading you writing…^_^

    • Masya Allah, 14 tahun? Sepertinya saya nih yang harus banyak dikasih wejangan sama anti, umm😀

      Ya, karena wujud romantis tiap2 orang beda2 ya.. Tinggal kita aja mengkompromikan berdua dg pasangan, mana yg paling nyaman buat kita berdua. Ke warung, mau bantu ngurusin anak, mau masak makanan sendiri pas kita lagi tepar kelelahan.. That feeling is countless🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s