Mencintai Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

beautiful flower..

“If you don’t see your worth, you’ll always choose people who don’t see it either. So love yourself first.”

Ketika membuka timeline Twitter pagi ini, mata saya tertuju pada satu berita dengan judul mencolok di akun sebuah portal media online. Setelah saya buka link URL-nya, ternyata isinya berita tentang seorang public figure A yang putus hubungan dengan kekasihnya, sebut saja si B. Banyak komentar bermunculan di web tersebut. Ada yang menyayangkan, ada yang justru merasa senang. Loh. Haha.

Sebetulnya buat saya berita itu sama sekali nggak penting sih. Wong artisnya yang mana aja saya nggak begitu kenal, maklum ndak punya tipi.. Tapi ketika iseng-iseng scroll down, ada satu komentar yang menurut saya agak menggelitik,

“Habis ini si A bakalan ganti username Twit dan IG dia lagi nggak ya? Secara pas sama mantannya dulu (sebelum yang ini) username Twitter dan IG-nya heboh pake embel-embel nama mantannya. Jadi penasaran, kalau bener-bener putus sama yang ini, bakal ganti username apalagi?”

Ngok😄

Tetiba jadi inget tulisan bang Darwis Tere Liye di laman Facebooknya, yang kurang lebih isinya seperti ini:

“Orang jaman sekarang terutama anak-anak mudanya, kalau udah jatuh cinta.. suka lebay alias berlebihan mengekspresikan rasa cintanya di sosial media. Ada yang update perasaannya sama sang kekasih tiap hari, posting foto-foto selfie super mesra.. Bahkan ada yang hobi pake nama akun atau username gabungan namanya dan nama kekasihnya. Kalau udah putus, ganti username lagi. Begitu seterusnya.”

Contohnya, nama alay AniandBudiAlwayzTogetherForever..  *permisalan aja lho, yang merasa punya nama ini harap jangan tersungging yaa  :P

Nggak lama kemudian, mereka break-up, putus. Langsung deh ganti username dan profile picture baru, ganti relationship status, nggak lupa ngapus-ngapusin foto mantan. Kalau setelah putus masih single biasanya namanya diganti yang agak-agak menggalau.. Tapi kalau yang udah bisa langsung move on seringnya pake nama gabungan dengan kekasih barunya, plus ganti profile picture berdua. Putus lagi, ganti lagi. Hadeh..

Beberapa waktu yang lalu, adik saya bercerita tentang kehebohan berita seorang pengguna Instagram di daratan China sana yang mengakhiri hidupnya hanya karena urusan cinta. Yang bikin heboh adalah, ia sempat memposting detik-detik menjelang aksi nekatnya tersebut, yaitu foto kedua kakinya yang siap terjun dari lantai atas apartemennya.

Sebelumnya juga ada foto beberapa barang yang tengah dilalap api. Sepertinya memang sengaja dibakar, mungkin barang-barang kenangan bersama si mantan.

Kata adik saya, “Kalo ngeliat gaya pacarannya yang kayak gitu, nggak heran sih dia sampe depresi banget ditinggalin pacarnya.. Orang udah habis-habisan begitu..”.

Saya scroll down foto-foto lamanya, benar memang, banyak foto-foto mesra dan tidak pantas di profilnya. Bahkan ada bebarapa foto selfie yang begitu parahnya mengumbar aurat.

“Kalo sama orang lain yang dia nggak kenal aja mau ngasih yang pribadi dan berharga banget kayak gitu, gimana sama pacarnya yang dia udah sayang banget? Pasti lebih lah..”  tambah adik saya lagi.

Ketika jatuh hati, seseorang seakan seperti menemukan separuh jiwanya pada diri kekasihnya. Pokoknya you are my other half, a part of me and my life is not complete without you, gitu deh kira-kira.

Sampai lupa sama sekitar, lupa pakai logika, lupa bahwa banyak hal lain yang lebih penting ketimbang hanya memikirkan sang kekasih hati.. Sampai-sampai kehilangan jati diri karena ingin apa-apa sama dan kembaran dengan si dia..

Benar juga peribahasa, cinta itu buta. Ketika kita jatuh cinta, apa yang kita rasakan, pikirkan, bicarakan, lakukan, semua tertuju kepada dia yang tercinta. Seolah kehidupan hanya berpusat pada dia, dia dan dia. Kalau bisa, kita ingin memberikan segalanya, hanya untuknya.

Manusia cenderung mencintai seseorang yang memiliki banyak kecocokan dengan dirinya. Misalnya sama-sama menyukai jenis buku yang sama, sama-sama suka makan bakso, sama-sama suka traveling dan fotografi, sama-sama suka hujan-hujanan.. Dan banyak kesamaan lain yang membuat kita cenderung nyaman untuk bersamanya.

Jatuh cinta itu wajar, apalagi jatuh cinta pada ia yang telah dihalalkan dalam ikatan pernikahan. Selain indah, juga berpahala. Tapi menurut hemat saya, mencintai itu juga harus pakai logika dan akal sehat.

Mencintai juga tidak berarti memaksakan pasangan harus sama dengan kita, atau sebaliknya. Tiap orang itu unik, kenapa harus, wajib, kudu sama dan seragam satu dengan lainnya?

Ketika pasangan tiba-tiba ngefans berat sama makanan khas Italia, misalnya.. Kenapa juga kita harus ikutan ngefans, padahal baru nyicipin sedikit aja rasanya udah eneg banget sampai-sampai kapok mau nyobain lagi. Karena mungkin, masakan Italia bukan selera kita.

Ya, kalau pasangan request minta dibuatkan masakan Italia, sok atuh, buatkan aja kalau memang kita bisa. Tapi nggak perlu juga pura-pura doyan banget padahal habis makan langsung ke belakang cuma buat muntah.

Ketika pasangan menyukai jenis buku tertentu, lantas kita berusaha mati-matian ikut menyukainya. Hunting ke toko buku, berlama-lama di rak buku cuma penasaran kepengen tau, “Ini buku isinya apaan sih, kok dia bisa suka banget..” .

Dan pas udah baca sekilas, “Apa menariknya buku ini, kok aku belum nemu yah.. Tapi nggak apa deh, aku beli aja, siapa tahu lama-lama jadi tertarik..”.  Dan setelah hitungan bulan, buku itu masih teronggok rapi di sudut meja belajar. Berdebu.

Tabiat manusia adalah mencintai apa-apa yang menjadi kecintaan kekasihnya. Demikian perkataan Ibnul Qayyim al Jauziyyah dalam buku fenomenal beliau Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jika ternyata apa yang disukai pasangan akhirnya dapat kita sukai juga, alhamdulillah. Namun jika tidak, kenapa harus memaksa diri untuk menyukainya?

Tentunya kecintaan dalam perkara yang sifatnya mubah, ya.. bukan yang wajib. Kalau perkara yang wajib, mau tidak mau harus kita sukai dan laksanakan karena perintahnya langsung dari Alah Azza wa Jalla. Misalnya, menutup aurat dengan hijab sempurna. No excuse, mau pasangan suka atau tidak, kita wajib mematuhinya.

“Bukanlah pasangan itu yang selalu sama segala sesuatunya. Tapi pasangan itu seperti sepasang sepatu, saling melengkapi satu sama lain. Bila satunya hilang, ia tak lagi utuh adanya. Dan seseorang yang telah kita pilih itu.. adalah sepotong kepingan lain, yang membuat kita merasa lengkap dan utuh.”

Banyak cara untuk menyenangkan hati ia yang kita cintai, tapi bukan berarti harus kehilangan jati diri. Dalam sebuah hubungan, ada fase yang pasti harus dilalui, yaitu fase adaptasi atau penyesuaian. Dan pernikahan adalah proses adaptasi seumur hidup. Menyerap hal-hal positif dari pribadi pasangan dan memperbaiki sisi negatifnya. Tanpa harus mengubah diri menjadi seseorang yang lain, sesuatu yang sama sekali bukan kita.

Mencintai adalah penerimaan. Mencintai adalah penghargaan terhadap yang dicintai, termasuk penghargaan pada diri sendiri. Mengapa banyak terjadi kasus abuse atau kekerasan dalam suatu hubungan? Di antaranya adalah karena low self esteem alias rendahnya harga diri salah satu pasangan.

Perasaan inferior, rendah diri, lebih tak berarti dibandingkan pasangannya. Mereka merasa pantas mendapat perlakuan yang sebenarnya tidak pantas mereka terima, hanya karena menganggap pasangannya jauh lebih segala-galanya dari dirinya. Dan karena merasa begitu tak berharga, ia rela pasangannya memperlakukannya seenak hatinya.

“If you aren’t being treated with love and respect, check your price tag. Maybe you’ve marked yourself down. It’s you who tells people what you’re worth. Get off the clearance rack and get behind the glass where they keep the valuables.”

In relationship there is equality. For some case, yes, man is the qowwam, the leader of the family. But for some other case, they are both equal. Baik wanita maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang seimbang secara ma’ruf.

Bukan lantas karena laki-laki adalah qowwam maka ia dibenarkan untuk mengabaikan hak-hak istri, seperti hak untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sering meminta pendapat istri-istrinya ketika akan membuat suatu keputusan penting, bahkan yang berkaitan dengan permasalahan umat. Artinya Rasulullah sangat menghargai istri-istri beliau.

Meski telah menikah, kita tetap butuh ruang untuk diri sendiri. Hidup ini tidak hanya melulu tentang kita dan pasangan. Banyak hal-hal lain yang tak kalah pentingnya. Kita butuh menjalin relasi dengan teman-teman kita sendiri, menikmati me time dan mengaktualisasikan diri dalam aktifitas yang kita sukai.

Cinta sejati tidak bersifat posesif dan mengekang. Seolah setelah bersama kita, dia jadi milik kita seorang. Sepenuhnya, seutuhnya. Tak ada ruang dan waktu untuk orang lain dalam hidupnya.

Saya sendiri, tak pernah melarang suami untuk ngumpul dengan kawan-kawannya. Dan suami juga mengerti, ada kalanya saya butuh sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman sesama ummahat. Sedikit rehat untuk menjauh sejenak dari rutunitas harian yang melelahkan.

He gives me the freedom for being me, the real me.

Meskipun telah menikah dan memiliki anak, kami merasa butuh membangun pertemanan dan kehidupan lain di luar hubungan kami berdua. We need a little space on our own. To renew and refresh the feeling of being loved and being missed. And that is the important part of a healthy relationship.

Orang bilang, mencintai itu cukup sepenuh hati, jangan sepenuh jiwa.. Jadi kalau putus, cuma sakit hati bukan sakit jiwa. Hahaha. Kocak, tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.

Jangan terlalu total memberikan segalanya, sampai nyawa sekalipun sanggup kita berikan. Bahkan agama dan aqidah pun berani kita tukar dan pertaruhkan. Hanya atas nama cinta pada manusia.

Siapa yang menjamin hati seseorang tidak pernah berubah? Siapa yang menjamin bahwa cinta itu tidak akan pernah pudar dan hati itu tidak akan berpaling pada yang lain? Maka cintailah kekasih kita, sewajarnya saja..

“A healthy relationship isn’t so much about sense of humor or intelligence or attractive. It’s about avoiding partners with harmful traits and personality types. And then it’s about being with a good person. A good person on his own, and a good person with you. Where the space between you feels uncomplicated and happy. A good relationship is where things just work. They work because, whatever the list of qualities, whatever the reason, you happen to be really, really good together.”  ~Unknown

Contoh di atas terjadi pada pasangan yang sudah menikah ya, yang kemungkinan break-up nya jauh lebih sulit (karena banyaknya pertimbangan) daripada yang belum menikah. Bagaimana dengan anak-anak ABG jaman sekarang yang ganti pacar udah kayak ganti pakaian dalam. Gampang dan cepet bener..

Apa nggak rugi, mengorbankan waktu dan harga diri untuk seseorang dan sesuatu yang nggak worthed macam itu? Sigh.

Jika kita menyerahkan segalanya kepada dia yang kita cintai, lalu apa yang tersisa untuk diri kita sendiri? Apa yang tersisa jika suatu saat dia pergi dari kehidupan kita?

Know your self worth. Cintailah seseorang itu. Tapi jangan lupa untuk mencintai diri sendiri. Loving yourself is the foundation of a stable, happy individual. You deserve unconditional love— both from yourself and from another.

Love and respect yourself first, and everything else falls into line…

a person

~ Jakarta, mid of October 2014.. a special present for my other half🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

13 thoughts on “Mencintai Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s